Senin, 05 Desember 2011

Pembantu Baruku (Cerbung Copas FB) last Part


Pembantu Baruku last part *RiVaMa*


"Gimana rio dok??" tanya bu dewi langsung begitu dokter chiko keluar. Dokter chiko menghela nafas, lalu menggeleng.
"Rio kritis bu." jawabnya pelan. Terdengar nada penyesalan disana. Bu dewi menggeleng
tidak percaya, tangisnya semakin deras.
"Rio itu kuat dok. Udah seringkan dia kaya gini?? Rio nggak mungkin kritis." lirih bu dewi.
Dokter chiko menatap bu dewi iba. Ikut merasakan kesedihannya. Dokter chiko lalu menatap pak candra, meminta bantuan.
"Bu, kondisi rio semakin lama semakin lemah. Meski pun dia kuat, tpi tetap saja rio bisa kalah sama penyakitnya bu.." jawab dokter chiko. Mencoba agar bu dewi mengerti. Pak candra mengelus punggung istrinya. Mengalirkan energi positif meski dirinya sendiri hancur mendengar keadaan rio.
"Jadi sekarang kita harus gimana dok??" tanyanya.
"Menunggu keadaan rio membaik, setelah itu bau pemeriksaan bisa dilanjutkan." jawab dokter chiko.


****


Esok harinya ify datang menjenguk rio. Sendiri.


Sebenarnya ify dan anak-anak lainnya ingin menjenguk rio seusai acara pelantikan kemarin. Tapi alvin melarangnya. Alvin bilang sebaiknya mereka menunggu sampai 'keadaan rio membaik'. 'keadaan rio membaik'. Kata-kata itu membuat ify merasa ada sesuatu dengan rio.


Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkannya. Pikiran buruk menghantuinya. Ify berdiri sebentar di depan pintu ruang rawat rio. Menarik nafas panjang, lalu membuka pintu itu. Dan baru beberapa langkah ify masuk, tubuhnya langsung membeku melihat rio yang tergolek lemah. Dengan langkah goyah ify berjalan ke arah rio, dan berdiri tepat di sisi kiri kasur tempat rio tertidur.


Ify menarik kursi yang tersedia disana, dan duduk. Lalu diraihnya tangan kiri rio. Menggenggamnya dan mengelusnya lembut. Meski sama sekali tak ada balasan dari pemilik tangan itu.


Perlahan air mata ify jatuh. Hatinya sakit melihat keadaan rio begini. Ify lebih memilih rio mencuekkannya, menjauh darinya, dan membentaknya daripada harus melihat rio tergolek lemah begini. Ify menatap wajah rio. Begitu pucat, bibirnya pun memutih dan pecah- pecah. Tapi raut wajahnya begitu tenang, seolah tak berbeban sama sekali. Rio begitu tenang dalam tidurnya. Batin ify semakin miris melihatnya.


"Yo..kenapa elo bisa kaya gini??" lirih ify. Dan sama sekali tak ada jawaban. Lalu, dikecupnya punggung tangan rio. Dingin.


Itulah yang dirasakannya saat bibirnya menyentuh kulit punggung tangan rio itu.
"Kak.." panggil seseorang. Ify menoleh ke asal suara, lalu tersenyum kecil ke pemilik suara itu. Senyum kepedihan. Pemilik suara itu berjalan mendekatinya, lalu mengelus pundaknya.


"Yang tabah kak.." ucap pemilik suara itu. Ify menghapus air matanya, lalu tersenyum pada pemilik suara itu dan menepuk- nepuk puncak kepalanya.


"Elo juga zy.." balas ify. Tau mereka merasakan kepedihan yang sama. Ozy membalas perkataan ify dengan senyumannya. Lalu pandangannya beralih ke rio. Menatap wajah pucat kakaknya itu.


"Kak rio kritis kak. Dari kemaren belum sadar" gumamnya. Ozy mengangguk,


"Kenapa bisa??" tanyanya. Ozy menoleh kearah ify, lalu menghela nafas.


"Gue nggak punya hak buat kasih tau loe." jawab ozy dengan nada menyesal.


Mendengar jawaban ozy, ify semakin yakin kalau ada sesuatu yang salah dengan rio. Ssuatu yang tidak diketahuinya.


"Apa itu alasan dia selama ini jauhin gue??" tanya ify. Entah kenapa pikirannya kembali ke sana. Ozy menoleh kearah ify.


Melihat raut penuh tanya di wajah itu mmbuatnya ingin memberitahu semuanya, mengakiri permainan ini. Perlahan, dianggukannya kepalanya. Menjawab pertanyaan ify. Ify sedikitterperangah melihat jawaban ozy. Dia lalu menghela nafas. Kembali ditatapnya wajah rio dan mengelus tangan rio yang kembali digenggamnya.


Ify memejamkan matanya. Perih. Itulah yang dirasakannya saat ini.


"Yo..bangun.. Gue butuh penjelasan loe.." lirihnya dalam hati.


****


"Ma.. Apa nggak sebaiknya kita kasih tau aja yang lain ma. Sampai kapan kita bakal nyembunyiin ini terus??" tanya pak candra.


"Tapi rio yang minta kan pa.. Mama cuma mau ngelakuin apa yang rio minta, yang bisa bikin dia tenang." jawab bu dewi.


"Tapi kak rio sama sekali nggak tenang dengan pilihannya itu ma.." batin ozy.


Ozy lebih memilih diam daripada harus berusaha membujuk bu dewi seperti papanya. Ozy terus memperhatikan rio dihadapannya. Membuatnya teringat akan ify kemaren. Tangis gadis itu.


"Papa yakin rio sama sekali nggak tenang ma.. Buktinya kondisi dia terus menurun. Mungkin aja semangat dari teman-temannya bisa bikin rio semangat. Mama ingatkan kata dokter chiko kemaren?? Kondisi rio menurun bukan hanya karna penyakitnya, tapi juga karna kondisi psikisnya." kata pak candra masih terus berusaha membujuk istrinya.


Bu dewi diam, kembali mengingat perkataan dokter chiko kemaren.


"Ma..semangat dari orang-orang sekitarnya berkali-kali lipat lebih besar pengaruhnya dibanding obat-obat yang selama ini dikonsumsi rio." lanjut pak candra lagi. Bu dewi mengangguk, lalu
menoleh kearah suaminya.


"Gimana kalau rio justru nggak suka kita kasih tau teman- temannya??" tanya bu dewi lagi. Pak candra tersenyum lelu mengelus pundak istrinya.


"Nggak akan. Kalau mama selama ini perhatiin rio, mama pasti tau kalau rio selama ini ingin kasih tau teman-temannya. Tapi dia cuma takut, takut kalau tindakannya itu salah." jawab pak candra.


Bu dewi menatap suaminya itu, lalu memejamkan matanya mencoba berpikir. Berharap kalau keputusannya ini benar.


"Zy..kamu kumpulin semua teman- teman rio ya.." suruh bu dewi.


Sontak ozy langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk mamanya senang.


"Thanks ma.. Dari dulu kek.." bisiknya pelan.


Pak candra terkekeh kecil melihat kelakuan ozy, lalu mengambil handphone ozy yang ada di atas meja dan langsung melemparkannya ke arah ozy.


Huup! Ozy menangkap handphonenya dengan sigap.


"Nggak pake ngelempar segala dong pa.." katanya, lalu tertawa kecil. Dan ozy mulai memainkan jari jempolnya diatas keypad handphonenya. Siap memanggil semuanya.


****


Satu jam kemudian, semuanya sudah lengkap berkumpul di sudut kafetaria rumah sakit yang cukup sepi. Ify, sivia, agni, zahra, shilla, cakka, dan gabriel masih terus menunggu ozy, bu dewi, dan pak candra untuk berbicara. Sementara alvin memilih diam.


"Om, tan, ada apa?? Kenapa kita sisuruh kumpul??" tanya shilla. Bu dewi, pak candra, maupun ozy tidak menjawab. Mereka sedikit ragu untuk memulainya.


"Vin, apaan sih??" tanya gabriel. Alvin mengangkat bahunya, lalu beralih ke arah bu dewi dan pak candra.

"Om..tan.. Ayo.." kata alvin sambil menatap penuh harap keduanya. Alvin sendiri sudah capek sama permainan ini.


"Emm..jadi gini. Om sama tante kumpulin kalian karna kami mau kasih tau kalian sesuatu. Tentang..rio." kata pak candra memulai. Mendengar nama rio, firasat buruk ify semakin kuat. Jantungnya berdetak lebih cepat menunggu pak candra berbicara. Sesuatu yang diyakininya adalah kabar buruk.


"Rio kenapa om??" tanya shilla. Ikut merasakan firasat buruk seperti ify. Pak candra mnghela nafas. Mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Sebelumnya om mau tanya. Kalian ngerasa ada sesuatu yang aneh sama rio akhir-akhir ini??" tanyanya. Yang lain kompak mengangguk, karna mereka merasakannya.


"Rio sering kaya orang nahan sakit gitu.." kata shilla.


"Emang. Gue sering liat dia megangin kepala sambil ngerang nggak jelas gitu. Akhir-akhir ini paling sering. Tapi tiap ditanya, tu anak jawab nggak papa, dan dia udah keliatan nggak kesakitan lagi. Trus gue pernah mergokin dia sering minum pil gitu. Nggak tau obat apaan." kata cakka.


"Makin hari makin pucet, makin kurus, lemes, dan gue pernah mergokin dia muntah-muntah di toilet sekolah." tambah gabriel.


"Dan sejak saat itu rio mulai berubah ke kita." lanjut zahra. 7 anak itu saling tatap-tatapan. Mulai bertanya-tanya. Potongan- potongan puzzle mulai terbentuk di pikiran mereka. Meminta untuk disusun dan diselesaikan. Dan jawaban mereka tadi, seolah seperti clue yang akan membantu
mereka menyelesaikan puzzle itu.


"Dan itu juga alasan kenapa dia ngejauhin gue.." gumam ify.


Semua langsung menoleh ke arahnya. Dan membenarkan perkataan ify dalam hati.


"Rio kenapa om??" tanya ify yang semakin penasaran. Pak candra menghela nafas, la berkata pelan,


"Kanker otak stadium 4." jawabnya. Lebih mirip gumaman tapi cukup untuk sampai ditelinga mereka semua. Ify menggeleng- geleng kecil tidak percaya. Meskipun dia sudah mencoba menebak-nebak keadaan rio, tpi sama sekali tak terpikirkan olehnya sampai sejauh ini. Kanker
otak stadium akhir, nggak mungkin. Nggak mungkin rio menderita penyakit separah itu. Nggak. Sama halnya dengan ify. Yang lain pun syok mendengar jawaban pak candra. Terlebih gabriel. Rasa bersalah langsung menghantuinya.


"Om becanda kan?? Om cuma ingin ngerjain kita kan?? Nggak mungkin rio kena kanker." tanyanya masih tak percaya. Berharap dalam hati, pak candra akan tertawa terbahak-bahak karna sukses mengerjai mereka.


"Kami serius kak..! Ini semua bukn sesuatu yg pantas dijadiin candaan kan??" jawab ozy.


Seketika ify ambruk, kakinya terasa lemas. Tapi dengan sigap alvin menahannya dan mendudukkan ify pada sebuah bangku panjang disana. Mengerti akan kesedihan yang dirasakan ify, juga yang lainnya. Alvin sendiri pun syok saat rio pertama kali memberitahunya.


"Kapan??" tanya ify dengan suara bergetar.


Ozy berjalan mendekati ify, lalu duduk disebelah gadis itu.


"Kakak ingat waktu kita jalan bareng-bareng dan kak rio sakit?? Waktu kalian berdua ke rumah sakit ambil hasil labnya kak rio??" tanya ozy sekaligus menjawab pertanyaan ify. Ify mengangguk. Perlahan air matanya jatuh. Sudah selama itu rio membohnginya, menyembunyikan semuanya. Agni dan sivia lalu mendekati ify, memeluk sahabat dan sepupunya itu.


"Elo udah tau semuanya dari awal kan vin??" tanya cakka pelan.


Alvin mengangguk. Dia siap kalau harus dimarahi atau pun dibentak karna ikut dalam permainan ini.


Tapi dugaan alvin salah, cakka justru tersenyum padanya.


"Pasti berat juga buat elo kan??" katanya sambil tersenyum. Alvin membalas senyum cakka lega. Lega karna cakka mengerti dirinya.


"Keluarga mario stevano??" tanya seorang suster tiba-tiba. Semua langsung menoleh ke suster itu dengan perasaan was-was. Takut terjadi sesuatu dengan rio.


"Iya dok. Putra saya kenapa??" tanya bu dewi cemas.


"Pasien sadar. Dan sekarang sedang diperiksa dokter." jawab suster itu sambil tersenyum ramah.


Seketika semuanya langsung bernafas lega dan mengucap syukur dalam hati. Dan dengan sigap, semuanya kembali ke ruang rawat rio.


****


Mereka semua menunggu rio dengan gelisah. Tak satu pun diantara mereka bisa duduk denga tenang. Pikirannya sibuk memikirkan rio. Dan akhirnya, dokter chiko pun keluar. Pak candra dan bu dewi segera menghampiri dokter chiko, begitu pun yang lainnya.


"Rio gimana dok??" tanya bu dewi.


"Secara keseluruhan baik. Kondisinya mulai normal walau pun masih sedikit lemas sekarang. Tapi.." jawab dokter chiko terpotong. Ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi apa dok??" desak bu dewi cemas dan takut. Dokter chiko menghela nafas,


"Kakinya. Rio mengalami kelumpuhan. Sprti yang saya peringatkan dulu, kanker otak bisa membuat rio perlahan kehilangan kemampuannya." jawab dokter chiko. Bu dewi menggeleng tida percaya. Syok. Rio lumpuh?? nggak. itu nggak boleh terjadi.


"Rio nggak mungkin lumpuh pa.." tangis bu dewi sambil memeluk suaminya. Pak candra tidak menjawab. Hanya bisa mengelus punggung istrinya memberikan ketenangan. Ozy menghela nafas berat. Menenangkan dirinya sendiri. Perlahan dibukanya pintu ruang rawat rio, dan berjalan mendekati kakaknya.


"Kak.." panggil ozy pelan. Perlahan rio membuka matanya,
lalu menoleh ke arah ozy. Dan lalu tersenyum. Tapi senyumnya lenyap begitu melihat teman- temannya terutama ify berdiri dibelakang ozy.


"Kenapa elo semua bisa ada disini??" tanyanya.


"Kita udah tau semuanya yo. Elo nggak perlu pura-pura lagi." jawab ify sambil tersenyum.


"Keluar!! Gue ngak mau kalian disini!!" usir rio.


Yang lain terperangah mendengarnya. Mereka tetap diam berdiri disana.


"Keluar!! Pergi dari sini!!" usir rio lagi, setengah membentak.


"Kak, elo kenapa sih?? Mereka disini buat elo kak." kta ozy bingung dengan sikap rio. Rio membuang mukanya,


"Pergi!!" usirnya sekali lagi. Nafasnya terengah-engah karena membentak tadi. Melihat rio yang tidak menginginkan keberadaannya, mereka memilih untuk pergi sesuai dengan permintaan rio.


"Gue kecewa sama sikap loe yo.." bisik alvin sebelum keluar. Rio tidak mempedulikannya, masih tetap membuang muka.


"Kenapa elo bocorin semuanya zy??" tanya rio setelah semuanya keluar.


"Karna menurut gue, itu yang terbai buat elo kak." jawab ozy pelan.


"Tapi ngga baik buat mereka.." bantah rio.


Ozy menghela nafas, kenapa kakaknya harus bersikap seperti ini??


"Kak, sampai kapan elo mau bohong teru?? Elo minder sama kondisi loe sendiri?? Bodoh kalau elo berpikir kaya gitu!! kak, loe liat sendirikan mereka tadi?? Apa elo liat mereka benci, jijik, atau apalah ke elo?? Enggak kan?? Mereka justru peduli sama elo. Mereka justru pingin elo brbagi ke mereka. Elo nggak liat kak, ekspresi kecewa mereka waktu tau elo udah bohongin mereka selama ini. Loe pikir nggk sakit apa?? Itu sama aja lo udah nggak nganggep mereka temen loe lagi." kata ozy balas membantah rio.


"Kak, seburuk apa pun keadaan elo, nggak akan merubah mereka. Mereka tetep sahabat elo, dan peduli sama elo. Nggak masalah gimana pun elo sekarang. Apa yang elo takutin?? loe takut mereka bakal kerepotan karna elo?? Sakit karna elo?? Justru sikap loe selama ini udah nyakitin
mereka bakali-kali lipat dibanding elo jujur akan semuanya. Kak, pikirin diri elo juga.. Elo nggak bisa gini terus. Sama aja loe nyiksa diri loe sendiri kak. Seburuk apa pun kondisi elo, loe tetap pantes untuk bahagia kak. Bahagia karna lewatin ini semua sama- sama. Berbagi semua sakit yang elo rasa." tambah ozy.


"Elo yakin semuanya bakal baik- baik aja zy?? Yakin kalau jujur emang jalan yang terbaik?? Gue nggak mau nyiksa elo semua dengan keadaan gue zy. Terlebih sekarang. Gue lumpuh zy. Gue nggak bisa ngerasain lagi kaki- kaki gue. Dan gue tau dengan keadaan gue yang kaya gini, gue akan terus ngerepotin kalian." kata rio merasa ragu. Frustasi.


"Justru elo butuh kita sebagai pengganti kaki lo yo. Melengkapi setiap kekurangan yang elo rasain." kata ify yang tiba-tiba muncul lagi dari balik pintu. Mendengar semua percakapan rio dan ozy.


"Kita justru ngerasa nggak bergunakalau biarin elo sendiri yo." tambah sivia.


"Apa sih yang elo takutin?? Elo punya kita. kita semua nggak bakal biarin lo sendiri lagi." lanjut gabriel. Rio dan ozy mnoleh ke sal suara, melemparkan senyum bahagia.


Dibelakang teman-temannya, pak candra dan bu dewi juga ikut tersenyum. Lalu mereka semua berjalan mendekati rio. Mengelilingi kasur tempat rio tertidur.


"Vin, bantuin gue duduk dong.." pinta rio sambil nyengir kecil.


"Apa sih yang enggak buat loe yo." jawab alvin becanda sambil membantu rio duduk.


"Serius nih?? Kalau gitu pesenin gue kopi ya.. haus." kata rio kembali dengan cengirannya.
Alvin memajukan bibirnya, lalu tersenyum miring,


"Langsung manja kan lo.." katanya sambil berlalu menuruti permintaan sahabatnya itu.


"Yang manis ya.." seru rio lagi.


Yang lain terkekeh kecil melihat pemandangan didepan mereka. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak merasakan kehangatan seperti sekarang, disaat mereka kumpul bareng.


Bu dewi, pak candra, dan ozy pun ikut tersenyum senang. Menatap rio bahagia. Senyumnya telah kembali. Rio mereka kembali pulang.


"Haah... Akhirnya rio gue balik juga.." gumam ify tanpa sadar.


Sontak langsung ditutupnya mulutnya sendiri." Yang lainnya menatap ify penuh arti dan mulai berdehem-dehem sambil tersenyum penuh makna. Menggoda ify.


"Eheem..rio gue??" goda agni.


"Perlu ditinggal nggak nih??" tambah zahra. ozy juga mulai menyikut-nyikut rio.


"Sampai kapan elo mau gantungin sepupu gue yo??" goda gabriel to the point.


Ify menunduk malu, pipinya terasa panas. Ify merutuki dirinya sendiri yang udah keceplosan ngomong.


"Elaah..kenapa gue pakai acara keceplosan segala sih?? Kalau rionya marah gimana coba?? Baru juga baikan. Anakanak pada rese semua lagi." rutuknya dalam hati.
Nggak jauh beda dengan ify, semburat merah pun mulai tampak di pipi rio. Wajah pucatnya seolah mendapat pasokan darah dadakan.


Rio melirik ify, manarik nafas panjang lalu mengayunkan tangannya, meraih tangan ify dan menggenggamnya.


"Emm..fy. elo masih butuh jawaban gue buat yg waktu itu nggak??" tanyanya.
Ify yang masih kaget dengan aksi rio mnggenggam tangannya hanya bisa menjawab dengan anggukan kecil. Rio menarik nafas panjang, mencoba mencari kata- kata. Tapi sayang, otaknya seperti tida mau bekerja sama, sehingga rio kebingungan mencari kata- kata yang tepat untuk mengungapkan perasaannya. *sbnernya penulis yg bingung.. :p*


"Emm...fy. Mungkin gue bukan cowok yang baik buat elo. Gue juga bukan cowok sempurna yang bisa milikin elo. Tapi gue punya satu rasa yang dengan sempurna cuma gue kasih buat elo. Fy..gue sayang elo. Udah lama gue nyimpan perasaan ini buat elo. Gue harap rasa elo waktu itu sama sekali nggak berubah setelah elo tau semua hal tentang gue." ucap rio sambil menatap ify
dalam, dan mengeratkan genggamannya. Seolah seperti menyakinkan ify. Ify membalas tatapan rio sambil tersenyum.
"Dari saat itu, sebelum, bahkan sampai sekarang pun perasaan gue sama sekali nggak berubah.
Gue sayang elo yo, dengan semua kekurangan yang elo miliki." jawab ify.


Rio tersenyum senang, lalu didekatkannya tangan ify kearah bibirnya dan mengecupnya lembut.


"Thanks fy.."


****


3 hari kemudian, rio sudah dibolehkan pulang. Ify datang membantu kepulangan rio.


"Siang smua.." sapa ify ceria.
"Siang fy.." balas rio, ozy, bu dewi, dan shilla yang kebetulan juga
ada disana.


"Siang yo.. Gimana?? Sehat kan??" tanya ify sambil setengah bersimpuh dihadapan rio yang tengah duduk dikursi rodanya.


Rio tersenyum pada ify,


"Sehat, cuman gue nggak sabar pingin pulang. Bosen di rumah sakit mulu." jawab rio.


"Sabaran dikit dong sayang.." kata ify sambil menepuk-nepuk tangan rio, lalu terkekeh kecil. Geli sendiri dengan panggilannya untuk rio barusan. Ify segera mengalihkan perhatiannya pada bu dewi, ozy, dan shilla yang sibuk beres-beres.


"Ada yang bisa ify bantu nggak tan??" tanya ify.


"Nggak usah fy. Mending kamu bantu diemin rio aja. Dari tadi dia cerewet minta pulang trus." jawab bu dewi. Ify mendelik ke arah rio, "Nggak sabaran banget sih.." katanya. Rio hanya angkat bahu.


"Bosen." jawabnya singkat.
Ify lalu menghampiri shilla, "Shil, gue bantuin ya.." kata ify. Tapi blum jadi ify membantunya, shilla sudah mencegah duluan.


"Biar aku aja fy. Kamu temenin rio aja. Kasian dia udah bosen dikamar terus. Ajak keluar kek, cari angin." cegah shilla.


"Ide bagus shil.! Jalan yuk fy.." celetuk rio dibelakang. Ify mendesah. Dia nyerah deh..


"Tan, ify ajak rio jalan-jalan dulu ya.." pamit ify.


Setelah bu dewi mengangguk, ify pun membantu mendorong kursi roda rio keluar.


"Mau kemana??" tanya ify.


Rio mengangkat bahunya,


"Terserah.." jawabnya singkat.


"Yaah...kok gitu sih. Elo maunya kemana??" tanya ify lagi.


"Yang penting bukan rumah sakit." jawab rio singkat. Bingung sendiri dia.


"Gerbang aja mau??" tanya ify mulai gemes.


"Taman depan kayanya lebih enak deh fy.." jawab rio sambil nyengir.


Ify memutar bola matanya. Kemaren-kemaren ni anak diem mulu. Nah sekarang enapa jadi
niat bnget buat ngerjain dia?? Batin ify jengkel. Didorongnya terus kursi roda ify menuju taman. Karna nggak terlalu jauh, jadi ify memilih buat jalan kaki. Sekalian menikmati udara kota ibukota yang tumben- tumbenannya sejuk kaya sekarang.
"Fy berat nggak?? Dari tadi nggak capek dorong gue mulu??" tanya rio. Ify mengernyitkan dahinya heran,


"Maksud lo??" tanyanya.


"Yaa..elo ngga capek dorong gue terus??" tanya rio lagi. Perasaan mindernya muncul lagi.


Ify berhenti mendorong kursi roda rio, lalu memutarnya sehingga dia berhadapan dengan rio sekarang.


"Yo..kenapa lagi sih??" tanyanya lembut.


"Gue cuma nanya elo capek atau nggak kok fy. Gue nggak enak, asik-asik duduk sementara elo
capek ngedorong gue dari tadi." jawab rio. Ify menghela nafas panjang,


"Yo..berapa kali sih harus gue bilangin?? Elo nggak usah minder gini lagi. Gue nggak capek ok,
biasa aja. Elo nggak perlu ngerasa nggak enak gini. Nggak berat kok. Buat apa coba ni kursi diberi roda kalau bukan untuk mudahin gue ngdorongnya." kata ify mencoba memberi pengertian lagi ke rio. Rio mengangguk mengerti. Mencoba mengusir perasaan nggak enaknya lagi.


"Haah..ya. Yuk jalan lagi." jawabnya pelan.


Ify tersenyum, lalu mmutar kembali kursi roda rio dan kembali mendorongnya. Ify terus mendorong kursi roda rio menuju taman, sambil sesekali mereka ngobrol dan becanda.


Sampai di pertigaan jalan yang sepi, tiba-tiba aja sebuah mobil jeep hitam berhenti di depan
mereka. Ify sontak menghentikan jalannya dan memandang mobil jeep itu aneh. Ify melihat 3 orang pemuda berbadan besar dengan wajah sangar turun dari jeep itu dan mendekati mereka. Ify mulai membaca gelagat aneh 3 orang berdandanan seperti preman itu, feelingnya mengatakan kalau mereka harus cepat pergi dari sana. Tapi sayang, begitu ify memutar kursi roda rio kearah
lain, salah seorang diantara mereka menahan ify dengan menarik lengannya.


"Lepaas.!!" bentak ify sambil meronta-ronta.


Bukannya melepas preman itu malah semakin memengang lengan ify kuat, lalu menarik ify.


"Ini yang kita cari. Mangsa baru. Ayo!" kata preman berjaket hitam yang berdiri dihadapan ify.


Preman itu tersenyum penuh maksud ke arah ify.


"Elo bakal menghasilkan kita banyak uang.." gumamnya.


"Lepasin dia!!" bentak rio pada dua orang preman itu.
Mndengar suara rio, preman ketiga yang tadinya diam segera menoleh ke arah rio. Pandagannya seperti melecehkan.



"Jangan sok pahlawan loe disini. Cowok lumpuh kaya loe bisa apa??! Nyusahin aja." katanya sambil berjalan mengelilingi rio melecehkan.


"Lumpuh bukan berarti gue lemah!!" bentak rio, dan dengan sigap memelintir tangan preman itu, lalu mendorongnya. Preman itu mengerang kesakitan, dipeganginya tangan kirinya yang berhasil dpelintir rio dengan baik.


Seorang preman berjaket hitam tampak tidak terima dengan perlakuan rio pada temannya. Didekatinya rio dan dijambaknya rambut rio kasar.


"Jangan sok kuat!! Bisa apa lo ha??!" bentaknya. Lalu menendang kursi roda rio kasar, yang sukses membuat rio Jatuh dari kursi rodanya. Preman yang tangannya dipelintir oleh rio tadi tertawa terbahak-bahak melihat rio jatuh tersungkur. Rio mencoba bangun tapi sial, preman itu menginjak punggungnya kasar, menghempaskan dada rio ke aspal.


"Fy..lari.." rintih rio lemah. Preman itu trus menginjak-nginjak punggungnya berkali-kali, membuatnya tidak bisa bangun.


"Haah...cuma segitu doang lo bisanya??! Makanya jangan sok kuat!!" bentak preman itu sambil menendang rusuk kiri kuat.


"Rio!!" jerit ify. Tangannya masih terus ditahan oleh preman itu. Ify meronta-ronta. Air matanya jatuh melihat darah yang tampak dari sudut bibir rio. Preman itu kembali menendang rusuk rio.
Membuat rio terbatuk-batuk dan merintih memegangi rusuknya.


"Cabut!!" kata preman berjaket hitam itu lalu berjalan pergi. Tapi kakinya ditahan oleh rio dan menariknya. membuat preman itu jatuh dan terduduk. Dengan sigap rio segera meninju selangkangan preman itu. Preman yang satunya lagi menatap rio marah, ditariknya kerah baju rio kasar, sehingga dengan mudahnya badan rio terangkat dan satu bogemannya mendarat di pipi kiri rio. Dan meninju perut rio. Preman yang ditinju rio tadi berdiri, masih merintih kesakitan memegangi selangkangannya.


"Tahan!" bentaknya, dan preman yang meninju rio barusan langsung memegangi tangan rio
kebelakang dan mengangkat badan rio. Preman berjaket hitam tadi mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebilah pisau! Ify menjerit-jerit melihatnya, dan terus meronta-ronta.


"Diam!!" bentak preman yang memegangi ify itu. Preman tadi mulai mengarah-ngarahkan pisaunya ke arah rio. Rio yang sudah lemas tak bisa lagi melawan. Disaat bersamaan kepalanya kembali sakit. Preman itu lalu melirik kaki rio, dirobeknya celana jins rio dengan pisaunya, menampakkan betis rio. Lalu digoresannya pisau itu ke betis rio.
Berdarah! Rio sama sekali nggak bereaksi dengan sobekan di betisnya itu. Membuat preman itu kecewa karna mainannya tidak kesakitan sama sekali. Lalu dengan senyum iblis diarahkannya pisau itu ke perut rio. Mulai mengambil ancang- ancang untuk menusukkannya.


"Rio awas!!" jerit ify dan semakin kuat meronta-ronta.


"Ucapin selamat tinggal pada keberanian loe itu.." ucap preman itu dan...


Jleep!!
Pisau itu menembus perut ify!! Ify berhasil lepas dan segera berlari ke arah rio. Preman itu kaget,
ditariknya pisau itu dari perut ify.


"Sial!!" gumamnya, lalu memberi aba aba pada teman-temannya untuk pergi. Meninggalan ify yang bersimbah darah dan rio yang tak sadarkan diri.


****


Sementara itu dirumah sakit, bu dewi,pak candra, ozy, dan shilla sudah cemas menunggu rio dan ify yang belum balik. Ozy mencoba menelpon rio dan ify, tapi sama sekali nggak diangkat. Firasatnya mulai nggak enak.


"Tan, apa nggak sebaiknya dicari aja??" kata shilla memeri usul. Firasatnya juga mulai nggak enak.


Bu dewi mengangguk setuju,
"Kita berpencar.." kata bu dewi. Ozy dan shila lalu segera pergi mencari dilur rumah sakit dengan mobil shilla, sementara pak candra dan bu dewi, mencari di sekitar rumah sakit.


****
"Mereka kemana sih??" gumam ozy masih terus merusaha menelpon rio dan ify.


"Zy, kira-ira kalau kamu jadi rio, kamu bakal ajak ify kemana??" tanya shilla. Ozy berfikir sejenak, menebak-nebak dimana kakaknya sekarang.


"Kalau nggak ke cafe palingan ke taman." gumam ozy. Lalu wajahnya segera cerah.


"Taman kak. Kak rio pasti di taman dekat sini." seru ozy senang.


"Bukannya tamannya udah lewat??" tanya shilla bingung.


"Balik lagi. Ada dua jalan ke taman itu. Kak rio sama kak ify pasti lewat jalan satunya lagi. Yang lebih deket." jawab ozy yakin.


Shilla mengangkat bahunya, lalu memutar balik mobilnya kearah lain, dan segera menuju jalan yang ditunjukkan ozy.


Baru sepuluh menit berjalan, ozy dan shilla melihat sebuah kursi roda terbalik di tepi jalan. Shilla mmpercepat mobilnya meuju kursi roda itu dan segera menepi. Dengan perasaan was- was ozy dan shilla turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya kesekitar, mencari rio dan ify.


"Zy..itu bukan rio dan ify kan??" tanya shilla dengan suara bergetar sambil menunjuk ke suatu arah. Ozy menuruti arah telunjuk shilla. Dan betapa kagetnya dia melihat dua orang tergeletak dijalan.


Ozy dan shilla berlari mendekati dua orang itu. Seketika tubuh mereka membeku melihat siapa
orang itu. Ify dan rio! Shilla mundur selangkah, syok melihat darah yang sudah menyebar.


Digeleng-gelengkannya kepalanya tidak percaya.


****


Dengan susah payah, akhirnya ozy dan shilla berhasil membawa rio dan ify ke rumah sakit. Ify segera dilarikan ke UGD dan rio ditangani diruang perawatannya biasa.


Rio hanya mengalami luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Sementara ify masih terus dalam pemeriksaan.


"Ify.." gumam rio dan perlahan matanya terbuka. Rio mengerjap- ngerjap kecil.


"Syukurlah yo.. Kamu akhirnya sadar juga.." kata shilla senang. Rio memegangi kepalanya. Sakit. Seluruh tubuhnya sakit. Rio kembali mengingat-ngingat apa yang dialaminya barusan.


"Ify mana shil??" tanya rio lemah.
Shilla tertunduk, "Ify di UGD, masih diperiksa dokter. Dokter bilang ada luka tusukan diperut ify dan cukup dalam. Kenapa bisa yo??" jawab dan tanya shilla. Tanpa menjawab pertanyaan shilla,rio langsung berusaha untuk bangun.


"Bawa gue ke ify.." katanya. Shilla pasrah saja. Dibantunya rio bangun dan duduk dikursi rodanya. Shilla lalu mendorong kursi roda rio, menuruti permintaannya.


"Yo! Kamu sadar nak?? Kamu baik-baik aja kan?? Cerita sama mama kenapa bisa begini??"
tanya bu dewi beruntun. Rio tidak mempedulikan mamanya, pandangannya tertuju pada orang tua ify. Merasa bersalah.


Digerakkannya kursi rodanya mendekati orang tua ify.


"Om, tante.. Rio minta maaf.. Rio nggak bisa jaga ify.. Harusnya rio aja yang ditusuk, bukan ify.." lirih rio. Orang tua ify tersenyum pada rio. Mama ify mengelus puncak kepala rio.


"Kamu nggak perlu minta maaf yo.. Kamu nggak salah. Sama sekali nggak ada yang salah disini." jawab mama ify lembut.


"Tapi ify celaka gara-gara nglindungin rio tan.." lirih rio lagi.


"Ssst... udah.. Sekarang kita berdoa untuk ify." jawab mama ify lagi. Beberapa menit kemudian, seorag dokter keluar dari UGD, semuanya langsung menghampiri dokter itu.


"Gimana ify dok??" tanya mama ify cemas.


Dokter itu menggeleng, wajahnya tampak putus asa.


"Kami sudah berjuang bu.. Tapi ify kehilangan banyak darah. Maaf..tapi tuhan berkehendak lain.." ucap dokter itu dan segera berlalu. Semuanya menggeleng tidak percaya. Nggak mungkin ify pergi secepat ini. Nggak mungkin.


Rio terpaku diempatnya. Dipandanginya wajah ify. Diam. Tenang. Sama sekali tak ada ekspresi diwajah itu, hanya pucat dan tenang. Seolah tanpa beban. Tidak ada lagi senyumannya. Tawanya. Semuanya lenyap.


Setetes air mata rio pun jatuh, bersamaan dengan itu. Pukulan kuat menghantam kepalanya.
Sakit. Sangat sakit. Lebih sakit dari sebelumnya. Rio memegangi kepalanya dan mengerang kuat.


Bersamaan dengan itu, cairan kental bewarna merah itu mengalir dari hidungnya. Dan rio mulai tak lagi merasakan tubuhnya.


****


Sebulan berlalu sejak ify pergi meninggalkan semuanya. Dan sudah sebulan juga rio tak pernah lagi bangun dari tidur panjangnya. Terus tenang dalam tidurnya dan seolah tak pernah ingin untuk bangun lagi.


Rio koma. Sudah sebulan dia terombang ambing diantara hidup dan mati. Kehidupannya hanya bergantung pada alat-alat medis yang tetap setia tersambung ditubuhnya selama satu bulan ini.


Hanya gerakan naik turun dada rio dan denyut jantungnya yang tersisa. Menandakan kalau dia masih belum meninggalkan dunia ini.


"Maaf bu.. Tapi kami sudah usahakan semuanya, tapi memang nggak bisa. Menahannya
dengan alat-alat ini hanya akan membuat rio menderita bu." jelas dokter chiko.


Bu dewi masih terus menangis didalam pelukan pak candra.


"Tolonglah dok.. Masih ada harapan untuk rio kan??" katanya masih terus mencoba. Dokter chiko menggeleng.


"Maaf bu.. Kami nggak bisa berbuat banyak. Ibu punya waktu sampai besok pagi untuk memikirkannya." ucap dokter chiko lalu segera berlalu.


"Ma..ayolah.. Sudah cukup kita nahan kak rio selama ini. Biarin dia tenang ma. Lepasin kak rio." kata ozy membujuk mamanya Bu dewi berjalan mendekati rio, mengelus puncak kepala putranya itu.


"Yo..ayo bangun.. Kamu sayang mama kan?? Ayo sadar nak.. Buktiin sama semuanya kalau kamu masih punya harapan. Jangan diam terus yo.. ayo bangun.. Kamu kuat sayang.." bisik bu dewi ditelinga putranya itu. Bu dewi menumpukan kepalanya pada satu tangan. Merasa putus asa.

****


Esok paginya.., sesuai dengan keputusan dokter dan juga keluarga. Akhirnya semua alat-alat yang terhubung pada tubuh rio dilepas. Membebaskan pemilik raga itu untu memilih. Tetap berada disini atau pergi. Dan ternyata pemilik raga itu memilih untuk pergi. Meninggalkan semuanya, dan mencari ketenangan disana. Dadanya tak lagi bergerak naik turun, dan denyut jantungnya tak lagi terdengar.


"Selamat jalan kak.." batin ozy menatap kepergian kakaknya.







END****

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pembantu Baruku (Cerbung Copas FB) part 31


Pembantu Baruku part 31


"Ri..o.." gumam ify pelan, dan perlahan kedua kelopak matanya pun terbuka.

Ify mengerjap-ngerjap kecil, membiasakan matanya dengan cahaya yang menyeruak.

"Akhirnya elo bangun juga fy.." kata gabriel bernafas lega. Ify menoleh ke arah gabriel. Kenapa tadi dirinya merasa bahwa rio lah yang duduk ditempat iyel sekarang?? Menjaganya, mengelus puncak kepalanya, dan mengecup keningnya lembut. Bahkan sampai sekarang, dirinya masih bisa merasakan kehangatan itu.

"Fy." panggil gabriel pelan, membuyarkan smua lamunan ify.

"Elo kenapa sih?? Masih pusing ya??" lanjut gabriel lagi. Ify menggeleng kecil

"Yel, tadi rio disini ya??" tanya ify
dengan suara serak. Iyel mendengus kesal, lalu dilemparkannya handuk kecil yang akan digunakannya untuk kompresanify.

"Kenapa elo masih mikirin tu anak sih fy??! Buang perasaan loe! Orang kaya dia tu nggak pantes buat elo harepin! Dia nggak sebaik itu sampai mau jenguk elo kemari fy." kata gabriel. Terdengar jelas bahwa dia masih kesal dan kecewa pada sahabatnya itu.

Ify mengusap mukanya, dan perlahan tetes air mata itu jatuh kembali. Rasa sesak langsung menyeruak di dadanya.

"Kenapa sesakit ini tuhan??" batin ify perih.

Kenapa begitu sulit baginya melepas
rasa ini?? Ingin sekali dirinya membuang rasa ini jauh-jauh, melupakan semuanya. Tapi kenapa semakin kuat tekadnya untuk melupakan semuanya, semakin erat juga rasa itu mengikat batinnya, semakin erat ingatan itu melekat di pikirannya, semakin besar rasa rindunya, pengharapannya. Semakin besar cintanya untuk rio. Gabriel menatap ify perih,

"Kenapa elo tega nyakitin ify yo?? Dia terlalu rapuh untuk rasain sakit itu.."

"Udah fy.. Lupain emuanya. Elo bisafy.. Elo kuat untuk itu" bisik gabriel, lalu direngkuhnya ify kedalam pelukannya. Membiarkan sepupunya itu mencurahkan semua perasaannnya. Membiarkan ify meluapkan semua sakit itu.

****

Beberapa kilometer dari rumah ify sesosok lain juga tengah merasakan sakit. Satu sakit yang sama seperti yang dirasakan ify, dan satu lagi sakit yang membuat seluruh raganya lemah tak berdaya.

"Aaaaargh...sa...kiit.." erangnya kesakitan. Rahangnya mengeras menahan sakit itu, sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuatnya seakanakan lumpuh. Dan sakit itu berakhir di hatinya.

"Ini fy.. INi alasan gue. Kenapa gue melepas elo. Karna gue nggak mau elo liat gue dalam keadaan kaya gini. Karna gue nggak ingin elo ikut ngerasain sakit yang gue rasain. Biar gue yang menderita fy, cukup gue yang rasain semua sakit ini. Gue nggak mau elo jatuh ke jurang yang sama seperti gue."

****

Hari-hari berlalu. Dan sama sekali ttak ada kemajuan. Sama sekali nggak ada kelurusan antara rio dan ify, rio dan iyel, rio dan semuanya.

Kejujuran yang dijanjikan rio pun seolah tak pernah ada. Seolah itu semua hanyalah ucapan lalu yang tak harus ditepati. Rio yang selalu menunda waktu malah memperburuk keadaan, menimbulkan kekecewaan antara mereka semua. Menipiskan kepercayaan teman-temannya yang muak dengan keadaan ini.

"Yo.." panggil alvin.

Rio menoleh, lalu tersenyum simpul.

"Vin, gue..." ucap rio terpotong. Merasa frustasi.

Rio menarik nafas panjang, lalu mengusap mukanya. Semua makin terasa berat. Alvin menatap rio iba, ikut merasakan sesak yang dirasakan sahabatnya itu.

"Udah yo.. Jangan peduliin iyel barusan. Yang harus elo lakuin sekarang hanya fokus ke acara kita. Buang semua masalah loe. Sekarang ini cukup fokus ke acara pelantikan ini. Tugas terakhir elo sebagai ketua." kata alvin sambil menepuk pundak rio. Memberikan semangat.

"Kenapa nggak satu pun mereka yang mau mengerti gue vin.." lirih rio, tanpa memperdulikan ucapan alvin barusan.

Alvin menghela nafas panjang.

"Elo harus maklum yo. Mereka cuma kecewa sama elo yang selalu ulur waktu. Elo selalu bilang besok, lusa, tapi apa?? Elo nggak tepatin sama sekali kan?? Mereka cuma nggak tahan sama keadan elo. Prihatin akan hubungan elo dan ify. Muak dengan suasana yang elo berdua ciptakan.
Perasaan mereka cuma nggak lebih dari rasa khawatir kepada temannya."
jelas alvin.

"Tpi gue juga butuh waktu vin.." lirih rio lagi.

"Udah. Kita semua udah kasih elo waktu. Yo..gue ngerti perasaan elo. Gue au elo cuma nggak ngin ify masuk dalam masalah loe. Tapi.." jelas alvin
terpotong. Merasa bingung. Alvin lalu menarik nafas panjang,

"Oke, sekarang buang semuanya. Cukup fokus untuk acara ini. Sekarang tugas elo cuma bikin acara pelantikan ini lancar. Dan elo jangan sampai banyak pikiran. Elo ingat kata dokter kan?? Beban batin bisa memperburuk keadaan elo." ucap alvin sambil tersenyum memberi semangat pada sahabatnya itu.

Rio membalas senyum alvin malas. Lalu bangkit dari duduknya. Dan melangkah menuju ruang osis, melaksanakn tugasnya. Rio menatap teman-temannya itu satu persatu lalu menarik nafas panjang.

"Oke guys. Ini acara terakhir kita. Tugas terakhir kita sebagai pengurus osis selama setahun ini. Saya harap semuanya dapat bekerja sama dengan baik. Lupain semua masalah kita, fokuskan pikiran kita smua untuk mensukseskan acara ini."

****

Setelah acara pendaftaran, seleksi, dan LDK. Sekarang akhirnya pelantikan bagi calon pengurus osis baru yang akan menggantikan rio dkk dilaksanakan.

Acara berlangsung lancar seperti yang direncanakan. Sampai pada akhirnya rio akan menyampaikan pesannya sebagai ketua osis lama.

"Yo..giliran lo tuh.." kata cakka sambil menyikut rio pelan yang duduk disebelahnya.

"Yo..udah giliran elo. Kok diem aja sih??" kata via ikut mengingatkan sambil mendorong rio dari belakang. Yang dipanggil masih tetap diam. Sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan maju ke depan. Masih sibuk mengurut-urut kepalanya yang terasa berat.

"Yo??" panggil cakka lagi, dan sedikit bingung dengan tingkah rio. Rio masih tetap diam, sama sekali nggak bereaksi. Kepalanya makin terasa berat.

"Cak...ambilin..obat..gue.." rintih rio sambil menunjuk tasnya. Bergegas cakka segera meraih tas rio dan mulai mencari-cari obat yang dimaksud.

"Yang mana yo??" tanyanya bingung karna yang dicari nggak ada. Rio nggak menjawab, tenaga seperti terkuras habis. Rasa sakit itu terus menjalar keseluruh tubuhnya. Rio bermaksud untuk berdiri, mencari sendiri obatnya. Tapi kakinya kembali nggak bisa digerakkan, akibatnya rio tersungkur kebawah.

"Yo.." panggil cakka dan ikut
berjongkok disamping rio. Cakka menepuk-nepuk pipi rio yang mulai kehilangan kesadarannya. Alvin, ify, gabriel, yang berada di depan melihat heran kearah teman-temannya yang mengerumuni tempat rio.

"Apaan sih??" tanya gabriel heran. Ify menggeleng kecil, perasaannya sedikit nggak enak.

"Vin..yang duduk disana rio kan??" tanya ify pelan.

Alvin menoleh ke arah ify, tanpa pikir panjang alvin lagsung berlari ketempat kerumunan teman-temannya. Sambil berdoa dalam hati, semoga bukan rio. Ify yang juga merasakan sesuatu yang nggak beres, ikut berlari dibelakang alvin.

Para tamu, guru-guru, dan siswa-siswa lain yang melihat kegaduhan itu ikut bingung. Alvin dan ify mematung begitu sampai dikerumunan itu. Melihat sesosok yang tengah dipangku via dengan darah segar yang mengalir deras dari hidungnya.

Ify langsung bejongkok di sebelah via dan berganti memangku kepala rio, nggak memperdulikan bajunya yang langsung kotor terkena darah rio. Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Alvin berjongkok disebelah cakka yang tampak kebingungan,

"Kenapa bisa kaya gini sih cak??" tanya alvin dengan nada cemas.

Cakka menggeleng, nggak tau harus menjawab apa. Karna dia sendiri juga kebingungan.

"Yo.... bangun.. Elo kenapa bisa kaya gini??" lirih ify sambil menepuk-nepuk pipi rio.

Alvin mengeluarkan handphonenya dan mulai sibuk memencet-mencet keypad handphonenya.

"Bawa ke mobil gue!" perintah alvin. Dan bersama cakka dan beberapa siswa lainnya menggotong rio ke mobilnya.

"Elo semua tetep disini, kendaliin acaranya. Biar gue yang bawa rio kerumah sakit." perintah alvin lagi. Semua yang disana mengangguk dan mulai beranjak, kecuali ify dan cakka.

"Gue ikut." kata cakka dan ify kompak. Alvin menggeleng kecil,

"Nggak usah. Biar gue yang bawa rio ke rumah sakit." kata alvin tegas. Tapi tanpa memperdulikan larangan alvin, cakka dan ify langsung masuk ke mobil.

Ify duduk di jok belakang menemani rio dan cakka di bagian kemudi.

"Udah masuk vin. Biar gue yang nyetir. Elo kabarin tante dewi sama om candra aja." kata cakka, dan langsung
menghidupkan mesin mobil alvin. Dengan pasrah alvin mengikuti kata-kata cakka.

"Sorry yo..gue ngggak bisa cegah mereka sekarang." batin alvin.

"Kenapa sih??" tanya iyel yang masih bingung di depan. Tapi nggak satu pun yang memperdulikannya. Semuanya sibuk menangani keributan barusan. Dengan sedikit kesal iyel turun kebawah dan melihat via segera dihampiriya via.

"Vi..Loh?? Kok loe bisa bedarah gini sih?? Elo kenapa nangis via??" tanya gabriel kaget, dan lalu menghapus air mata via dengan ujung jempolnya.

"Rio yel.." kata via terpotong lalu kembali menangis.

Dirinya masih syok dengan keadaan rio barusan. Hangat dari darah rio tadi masih teringat jelas dipikirannya.

****

Sampai di rumah sakit, rio langsung dibawa ke ruang ICU, ditangani langsung oleh dokter chiko.

"Alvin..gimana rio??" tanya bu dewi langsung begitu sampai dirumah sakit. Alvin menggeleng kecil,

"Alvin nggak tau tan.. Rio masih di dalam, baru kali ini rio separah ini.." jawab alvin lesu. Tangis bu dewi langsung pecah. Pak candra mengelus punggung istrinya itu, memberikan kekuatan.

"Vin, rio kenapa sih??" tanya cakka yang masih kebingungan.

"Gue nggak bisa kasih tau elo sekarang cak." jawab alvin lesu.

"Vin..pliss kasih tau gue." paksa ify. Alvin kembali menggeleng

"Gue nggak punya hak buat kasih tau elo fy.." jawab alvin. Ify menghela nafas putus asa, lalu diliriknya orang tua rio yang tampak begitu terpukul. Ingin sekali dirinya bertanya pada orang tua rio, tapi entah dari mana, ada bisikan padanya untuk tidak bertanya. Lalu tiba-tiba handphonenya bergetar.

From: Nova

Fy, elo dimana??

Balik ke sekolah sekarang. Kita butuh bantuan elo, alvin, cakka. Sekolah ribut gara-gara yg barusan. Rio baik-baik aja kan??

Ify menghela nafas membaca sms dari nova itu.

"Dari siapa fy??" tanya cakka, alvin ikut menoleh ke arah ify. Ify memberikan handphonenya ke cakka dan alvin.

"Kita disuruh balik ke sekolah." jawab ify lesu.

"Nak ify, alvin, cakka, kalau kalian masih ada keperluan di sekolah nggak papa kok. Biar om sama tante yang jagain rio dsini." kta pak candra yang mendengar ucapan ify berusan.

Dengan perasaan berat, ify, cakka, dan alvin, mengangguk, lalu berdiri.

"Ntar kabari kita ya om.." kata ify. Pak candra tampak sedikit ragu, lalu ditatapnya alvin.

"Kami pamit dulu om..tan." pamit alvin.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pembantu Baruku (Cerbung Copas FB) part 30


Pembantu Baruku part 30 


"Aaaargh.....sakit bego!! Pelan dikit napa??!" bentak rio saat shilla menekan kapas terlalu keras pada ujung bibirnya.

Kebetulan saat rio pulang, shilla ada di rumahnya dan keukeuh mengobati lebam rio sebelum pulang.

"Maaf.." jawab shilla pelan.

Dengan sabar shilla terus mengobati rio meski dari tadi rio selalu membentaknya.

"Aaaargh....sakit!! Loe mau ngobatin gue apa mau nyiksa gue sih??! Pelanan dikit!!" bentak rio lagi, sama sekali nggak peduli dengan rasa sakit shilla saat dibentak olehnya.

"Tahan yo.." jawab shilla dengan suaranya yg sedikit bergetar.

"Sakiiit!!! Gue bilang pelanan dikit nona shilla.. Elo bisa ngobatin gue nggak sih sebenernya?? Atau loe cuman mau sok-sok_an perhatian ke gue doang?? Kalau nggak bisa bilang.
Udah sini! Mending gue ndiri yg kerjain." bentak rio sekali lagi, sambil merebut kapas yg ada di tangan shilla dengan kasar.

"Ma..af.."rintih shilla lagi. Hatinya begitu sakit mendengar bentakan dan tuduhan rio padanya.

"Maaf doang yg loe bisa!" bentak rio lagi. Entah karna angin apa, emosinya tak terkendali sekarang. "Aku emang cuman bisa bilang maaf yo.. Seenggaknya cukup jadi ungkapan penyesalan aku dibanding kamu yang nggak pernah sekali pun ngehargain aku di sini. Wajar kan kalau aku mau bantu ngobatin luka kamu. Tanpa perasaan ini pun aku bakal tetap bantu kamu. Dan aku minta kamu bisa hargain dikit yo.." kata shilla dengan air mata yg jatuh berlahan seiring
perkataannya.

Rio menghela nafas panjang. "Gue kenapa sih??" pikirnya kacau. Lalu memicingkan matanya sejenak, menenangkan perasaannya yg kacau. Lalu menatap shilla sebentar, dan kemudian menunduk.

Rio berjalan selangkah mendekati shilla dan mengayunkan tangannya untuk menghapus air mata gadis itu. Shilla membeku ditempatnya. Terperangah dengan perlakuan rio dan tatapan mata rio yang lembut kepadanya. Tatapan yang dirindukannya beberapa tahun ini.

"Gue nggak suka air mata. Sorry shil.. Gue nggak maksud bentak loe barusan. Gue kacau, loe bisa ngerti kan?? Maaf buat perlakuan gue ke elo selama ini. Dan sekarang gue harap loe pulang. Bukan ngusir, tapi gue pengen sendiri. Thanks ya buat yg tadi." ucap rio pelan, tanpa menatap shilla. Shilla mengangguk mengerti, tanpa sepengatuan rio, shilla sudah tau rencana para pengurus osis untuk rio dan ify. Riko yang memberitahukannya, dan shilla tau bahwa ada masalah antara rio dan ify. Dan sebenarnya kedatangan shilla ke rumah rio justru ingin membujuk rio baikan dengan ify. Dia sudah merelakan perasaannya. Sadar bahwa kisahnya dan rio telah berlalu. Dan itu hanya tinggal kenangan bagi mereka berdua.

"Yo, jujur lebih baik dari pada elo nyembunyiin semuanya. Kebohongan nggak selamanya bisa menutupi semuanya yo. Dan tau kebenaran di akhir jauh lebih menyakitkan dibanding kita tau lebih awal. Aku nggak tau masalah kamu yo.. Kamu dan ify, tapi aku tau kamu nyembunyiin sesuatu dari dia kan?? Dari kami semua?? Dan selama ini kamu selalu menahan semuanya kan?? Aku udah kenal kamu lama yo.." kata shilla sambil menepuk pundak rio pelan, dan segera berlalu.

Rio berdiri terpaku ditempatnya. Membiarkan pikirannya mencerna kata-kata shilla. Membiarkan pikirannya berusaha untuk meluluhnkan tekad hatinya untuk terus berbohong.

"Kak shilla benar kak. Jujur sekarang atau kepedihan yang lebih sakit dari sekarang ini yang akan loe dapat." kata ozy yang muncul tiba-tiba dibelakang rio.

Rio tetap tak bereaksi, tetap memberikan waktu bagi pikiran dan hatinya yang tengah beragumen memilih jujur atau terus berbohong. Meski akal sehatnya memilih jujur, tapi hati berkata lain.

"Kak, nggak selamanya kata-kata 'bohong untuk kebaikan' itu benar lho. Meski pun elo bohong untuk menjaga perasaan kita semua, tapi nggak semudah itu kak." lanjut ozy lagi. Rio akhirnya bereaksi, walau hanya sebuah helaan nafas. Tanpa berkata apa-apa, rio beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan ozy yang menatap sendu kakaknya itu. Mengerti akan kegalauan kakaknya.

****

Rio menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Merasa begitu lelah akan semuanya. Merasa lelah dengan permainannya sendiri.

"Apa gue emang harus buka semuanya?? Apa dengan gue jujur semuanya akan baik-baik aja??" tanyanya, entah pada siapa. Rio menggeleng kecil.

"Enggak. Gue nggak mau air mata yang akan nemenin sisa jalan hidup gue kalau gue jujur. Gue nggak bisa liat elo semua ikutan meratapi nasib gue. Gue nggak mau elo semua ikut kerepotan karna gue. Gue nggak mau kalian ikut rasain hampa ini. Dan gue nggak bisa cuman jadi cowok rapuh, penyakitan, yang nggak bisa hapus air mata itu. Gue nggak"

"Tapi elo sakit karna itu kan kak??? Walau pun elo bakal nemuin tangisan kami, tapi seenggaknya masih ada senyum disana. Senyum kelegaan kami, senyum bahagia, dan senyum yang sedikit banyaknya bisa jadi semangat di sepanjang perjuangan elo kak." kata ozy yang untuk kedua kalinya muncul tiba-tiba di kamar rio.

"Dan apa elo benar-benar tenang dan lega, kalau elo terus bohong dan akhir yang elo dapat adalah tangisan kekecewaan kami karna kebohongan elo, tangisan kemarahan kami, dan tangisan penyesalan kami akan semuanya. Apa elo benar-benr bisa tenang dengan itu kak??" lanjut ozy lagi. Rio diam, lalu menggeleng.

"Loe benar zy, bukan itu yang gue harepin. Tapi gue juga nggak bisa kalau harus jadi beban kalian semua." jawab rio pelan.

"Elo bukan beban kak. Jangan merasa kita semua repot karna elo." Rio mengangguk pelan,

"Gue akan jujur, tapi nggak sekarang." Ozy bernafas lega. Akhirnya kakaknya itu bisa dibujuk.

****

Esok paginya di sekolah....

"Hai yo.." sapa cakka begitu rio memasuki kelas. Dan sedikit kaku dibanding biasanya. Rio tersenyum kecil, lalu mengangguk.

"Pagi cak.." balasnya.

"Yo, gue mau ngomong sama loe. Penting. Berdua." lanjut cakka. Rio mengangguk, lalu berjalan duluan dengan cakka di belakangnya.Melangkah menuju ruang musik yang biasanya kosong.

Ruang musik..

"Loe mau ngomong apa cak??" tanya rio datar sambil bersandar pada salah satu meja di ruangan itu, lalu rio mengambil gitar dan mulai memainkannya asal.

"Soal kemaren, ify. Kenpa loe tolak dia?? Gue tau yo, loe udah naksir dia lama." jawab cakka. Rio tersenyum kecil,

"Elo di suruh agni kan?? Biasanya juga loe nggak pernah nanya-nanya masalah pribadi gue." kata rio tanpa menjawab pertanyaan cakka.

"Nggak penting gue disuruh atau enggak. Jangan elo pikir karna gue nggak pernah ngusik-ngusik masalah elo atau anak-anak lainnya, gue jadi cuek sama masalah-masalah kalian. Gue tau elo lagi mendam sesuatu sendiri yo. Gue tau elo punya alasan yang jelas untuk nolak ify. Jadi, apa alasan loe??" kata cakka.

"Gue akan kasih tau kelian, tapi enggak skarang cak. Gue harap elo bisa ngerti." jawab rio singkat. Cakka mengangguk mengerti dan lalu tersenyum.

"Jadi artinya elo akan perbaiki hubungan lo sama ify??" tanya cakka dengan nada berharap. Rio menggeleng,

"Gue belum siap kalau sekarang. Gue masih butuh waktu mikir cak." jawab rio datar.

Cakka mengehela nafas kecewa, "Mau sampai kapan elo nyakitin ify yo?? Elo tau kan jauhin dia kaya gini sama aja elo nyakitin dia yo?? Nyakitin diri loe sndiri." bantah cakka.

"Gue tau. Tapi ini semua juga untuk dia cak. Gue nggak akan ngelakuin ini kalau cuma untuk nyakitin ify. Gue juga punya alasan." kata rio tetap kukuh pada niatnya.

"Sampai kapan??" tanya cakka dengan
nada lesu.

"Sampai gue bisa mantapin perasaan gue sendiri. Sampai gue bisa kasih tau kalian tentang semuanya." jajab rio tegas.

"Gabriel??" tanya cakka lagi.

"Gue akan usaha supaya dia mau maafin gue. Gue tau dia cuma nggak bisa liat ify hancur. Gue harap elo juga mau bantu gue cak." jawab rio. Cakka mengangguk, lalu menepuk pundak rio pelan,

"Asal jangan lama-lama aja. Jangan buang-buang waktu yo.." jawab cakka sambil tersenyum.

Rio membalas senyum cakka,

"Kelas yuk.." ajaknya. Cakka mengangguk, lalu berjalan berdampingan dengan rio menuju
kelas.

****

Waktu istirahat, seperti biasa sebagian besar siswa SMA Nusantara menghabiskan waktunya di kantin. Begitu pun dengan gerombolan rio dkk dan ify dkk. Setelah beberapa lama
mereka nggak lagi ngumpul bareng karna masalah rio-ify. Bedanya, mereka kumpul tanpa iyel dan ify sekarang.

"Iyel masih marah sama gue ya vi??" tanya rio ke via.

Via mengangguk kecil,

"Loe tau lah yo, kalau iyel udah ngamuk susah baiknya. Harusnya elo jelasin aja langsung yang sebenernya yo, jangan setengah-setengah kaya tadi." jawab via.

"Gue kan udah bilang vi, gue bakal jelasin ke kalian semuanya, tapi enggak sekarang. Kenapa sih tu anak nggak bisa ngerti-ngerti juga?? Gue cuma minta waktu kan??" bantah rio dengan nada sedikit meninggi.

Yaa...rio tadi sempat jelasin keteman-temannya, bahwa dia punya alasan atas sikapnya ke ify. Yang lain menerima penjelasan rio, tapi enggak dengan gabriel. Dia masih belum bisa maafin rio sebelum rio kasih tau alasannya dengan jelas.

"Elo nggak bisa salahin iyel yo. Gue juga sampai sekarang masih marah sama loe. Tapi gue maklum, gue tau elo punya masalah." kata via.

"Dia cuma nggak terima elo nyakitin ify terus yo. Ify sering curhat ke gue, iyel dan acha. Ify tersiksa selama elo jauhin dia yo. Ify juga mulai pemurung gara-gara elo yo. Kami bertiga kehilang ify yang dulu karna elo. Ify yang biasanya selalu semangat cerita segala macem tentang elo, sekarang jadi selalu nangis setiap kali cerita tentang elo. Sikap elo yang ngejauhin dia tanpa alasan jelas itu udah nyiksa dia banget. Dan kita bertiga cuma bisa liatin dia yo. Iyel sering ngerasa bersalah karna itu. Padahal ify sepupunya dia dan elo sahabatnya dia. Dia juga tau kalian berdua punya perasaan yang sama, tpi dia nggak pernah bisa bantu kalian. Elo ngertikan gimana perasaan iyel?? Perasaan gue dan acha?? Kami bertiga ngerasa nggak berguna banget yo.." jelas agni.

"Tapi gue ngelakuin ini juga buat ify ag.. Gue cuma nggak pingin nyakitin dia." bantah rio lagi.

"Tapi yang elo lakuin sama sekali nggak bikin ify bahagia kan?? Yang elo lakuin justru nyiksa ify yo.." jawab agni.

Rio tertunduk lesu sambil meremas-remas kepalanya kasar.

"Agni bener, gue jujur atau terus bohong pun akhirnya tetap sama. Gue akan tetap nyiksa ify. Arrrrrgh...tuhan sampai kapan ini terus berlanjut.." teriak rio dalam hati, merasa frustasi akan semuanya.

Alvin menatap rio iba. Lalu menepuk pundak sahabatnya itu untuk memberi semangat. "Jangan terlalu dipikirin yo.. Entar elo drop lagi.." bisik alvin pelan ke rio disebelahnya.

Rio mengangguk, lalu tersenum kecil, seolah menyampaikan kepada alvin
kalau dia baik-baik aja. Lalu, tanpa berkata apa-apa langsung pergi meninggalkan teman-temannya. Yang lain menatap punggung rio yang perlahan menjauh heran. Merasa aneh
dengan sikap rio akhir-akhir ini.

"Gue saranin elo semua jangan terlalu nyudutin tu anak deh.." kata cakka yg langsung mendapat anggukan setuju dari alvin.

****

Hari ini rio memilih untuk bolos untuk satu tujuan yaitu ify. Rio ingin menjenguk ify yang sedang sakit. Yang menurut agni sakit karna dirinya. Sebelum menjenguk ify, rio membeli sebuket bunga kesukaan ify, bunga lili putih.

'Tok..tok..tok..'

"Siang, ifynya ada bi??" tanya rio begitu pintu rumah ify dibuka. Pembantu ify tampak sedikit kaget begitu melihat rio, tapi seketika wajah
kagetnya berubah menjadi sebuah senyuman.

"Eh..den rio.. Udah lama ya nggak mampir ke sini. Non ifynya ada.. Mau jengukin non ify ya den?? Sejak semalam panasnya nggak turun-turun lho den." kata pembantu ify. Rio tersenyum kecil,

"jadi bener ify sakit.." batinnya.

"Kalau boleh tau ify kok bisa sakit ya bi??" tanya rio.

"Waah... Bibi kurang tau juga tuh den. Tapi kemaren non ify pulang sambil nangis-nangis gitu. Pulang-pulang langsung ngurung diri di kamar. Nyonya sama den iyel udah bujuk- bujuk non ify buat makan, tapi non ifynya nggak nyaut-nyaut. Trus den iyel sama tuan dobrak pintu kamar, nggak taunya non ify pingsan. Badannya panas tinggi." jawab pembantunya ify.

Rio mengangguk mengerti, "Saya masuk dulu ya bi.." kata rio begitu sampai di depan pintu kamar ify. Pembantu ify mengangguk sambil tersenyum ramah, Lalu rio membuka pintu kamar ify perlahan, dan mengintip sedikit. Memastikan ify benar-benar tidur. Setelah memastikan ify benar-benar tidur, akhirnya rio masuk. Memperhatikan wajah ify yang sedikit memucat dibanding biasanya, yang berhasil membuat rio semakin merasa bersalah. Rio meletakkan bunga lili yang bibawanya di meja kecil disamping kasur ify, lalu menatap wajah ify dalam, sudah lama dia tidak melihat wajah cantik itu sedekat ini.

"Elo bener-bener sakit ya fi.." gumam rio pelan.

Diayunkannya tangannya untuk mengelus puncak kepala ify lembut, membiarkan dirinya kembali merasa seperti dulu. Seperti saat-saat sebelum jurang ini terbentuk. Rio tersenyum kecut,

"Gue kangen elo fy. Gue pingin bareng-bareng elo lagi. Gue kangen senyum elo fy. Gue kangen saat-saat gue masih bisa biarin perasaan gue buat elo terus berkembang." gumam rio lagi. Miris.

Rio lalu menarik nafas panjang, berusaha meredam rasa sakit yang menyiksa hatinya. Menghilangkan sesak di dadanya.

"Kenapa semuanya jadi kaya gini ya fy?? Gue nggak pernah ingin nyakitin elo fy. Gue justru ingin jaga perasaan elo. Gue minta maaf kalau selama ini gue justru nyiksa elo. Tapi itu semua juga untuk elo fy. Gue nggak pingin elo
sakit karna gue fy. Gue pingin jujur, tapi gue nggak bisa." kata rio sambil tertunduk lemas. Dan kembali ditatapnya wajah ify dalam. Dan sesak itu kembali menyiksanya.

Rio lalu mencondongkan badannya ke ify dan mengecup kening ify lembut. Dan lalu beranjak keluar.

****

"Loh?? Kok cepet amat den??" tanya pembantu ify begitu rio pamit padanya. Rio tersenyum kecil, lalu menggeleng.

"Nggak papa bi, saya nggak bisa lama-lama." jawab rio.

"Bi, tadi di atas ada bunga lili, tolong dikasih vas ya.. Trus, jangan bilang siapa-siapa kalau saya datang kesini." lanjut rio.

Pembantu ify mengernyitkan dahinya heran.

"Udah... bibi tenang aja, pokoknya jangan kasih tau siapa-siapa ya.." kata rio yang menangkap keheranan pembantu ify.

"Udah ya bi.. Pokoknya jangan bilang siapa-siapa, saya pamit dulu." kata rio lagi dan segera berlalu.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pembantu Baruku (Cerbung Copas FB) part 29


Pembantu Baruku part 29

Ify menarik nafas dalam-dalam sambil menutup matanya. Mengumpulkan sebanyak mungkin keberaniannya. Sambil sebelumnya menghela nafas, ify membuka pintu ruangan osis. Sosok yang dicarinya itu masih duduk di kursi yang tadi dan terus menekuni lembaran kertas di hadapannya sambil menumpukan kepala dengan tangan kirinya.

Sekilas tanpa diketahui ify, rio melirik ke arah gadis itu. Lalu menggeleng kecil, seolah mengusik kegundahan yang datang begitu ditatapnya wajah cantik yang dirindukannya itu. Meredam segala emosi yang datang begitu menatap wajah ify. Sementara ify, masih berdiri mematung di depan pintu. Ingin sekali ify segela memulai maksudnya, tapi entah karna apa, suara itu seolah menolak untuk keluar. Hati kecilnya menolak untuk menjalankan rencana teman-temannya. Entahlah.. Tapi ify begitu ragu untuk memulai. Ify lalu berjalan sedikit mendekat kearah rio. Tapi sayang, baru selangkah, rio dengan sigap berdiri, membereskan kertas-kertasnya dan mulai beranjak pergi. Tapi entah kekuatan dari mana, ify segera mengamit lengan rio dan menghentikan langkah lelaki itu.

"Gue...emm...kita...butuh bicara.." kata
Ify terbata sambil terus menahan lengan rio. Ditatapnya mata itu tajam. Sinar mata yang mengalirkan kepedihan di hatinya. Rio menghela nafas, pelan namun tegas, dilepaskannya tangan ify yang melingkari lengannya dan kembali duduk di kursinya tadi. Ify tersenyum kecil sambil bersyukur dalam hati, karna rio mau mendengarkannya.

Tanpa membuang waktu, ify pun duduk di kursi disebelah rio, lalu memutar kursi itu sehingga menghadap ke arah rio.

"Yo.." kata ify memulai. Lalu menarik nafas panjang lagi.

"Mmm.." jawab rio, terdengar malas.

"Apaan?? Osis lagi?? Tadi kan udah beres. Cepet..gue ada janji." lanjut rio yang terdengar jutek di telinga ify. Ify meringis pedih, lalu mengangkat wajahnya memperhatikan rio.

"Bukan.. Tapi..tentang kita." jawab ify ragu. Takut rio akan marah mendengarnya.

"Kita?? Napa emang?? Loe ada masalah sama gue??" tanya rio mengangkat sebelah alis dan dengan nada bicara seolah lawan bicaranya sekarang adalah musuh.

"Yo, pliss.. Gue mau bicara baik-baik sekarang. Tolong buang nada bicara loe yang nganggap gue kaya musuh itu." kata ify.

Rio mengangkat alis, lalu membulatkan mulutnya, "Ooh.. Cuman itu?? Nggak penting banget deh fy. Loe ngelarang gue pulang cuman untuk bilang gaya bicara gue yang menurut loe nggak wajar itu. Udah kan?? Gue mau pulang." kata rio yang sukses membuat hati ify semakin hancur. Ify kembali menahan lengan rio, menahan rio untuk tetap mendengarnya.

"Apa lagi?? gue ada janji. Jangan bikin gue buang-buang waktu cuman untuk ladenin masalah loe yang nggak penting itu." kata rio dingin sambil menghentakkan tangannya. Dan segera berusaha untuk pergi. Tapi ify kembali berhasil menahannya. Kali ini dengan tetes air mata ify yang jatuh di punggung tangan rio. Rio berdiri mematung. Setajam itukah perkataannya sampai membuat ify menangis?? Hati kecilnya mengakui itu. Rio sendiri heras kenapa dengan mudahnya dia menyakiti hati ify. Kenapa dengan mudahnya dia membuat ify menangis, padahal dia sudah berjanji untuk tidak membuat gadis itu menangis. Karna itu lah dia menjauhi gadis ini.

"Yo, pliss..dengerin gue. Loe boleh nggak nanggepin gue, tapi pliss.. Kasih gue waktu untuk nyelesaiin maksud gue." kata ify masih dengan sungai kecil mengalir di kedua pipinya.

Ify menghapus air matanya, lalu kembali menatap rio tajam. "Yo, apa gue boleh tau apa maksud loe ngejauhin gue sekarang??" tanya ify.
Rio menghela nafas, haruskah dia jujur sekarang??

"Simpel, pingin aja." jawab rio datar sambil berkacak pinggang. Menambah kesan bahwa dia sama sekali nggak peduli dengan semuanya. Semua yang membuat ify merasa gundah sekarang ini.

Dalam hati rio merutuki perkataannya sendiri. "Seenggaknya loe bisa jawab sedikit lebih halus rio.." teriak batinnya.

"Apa semudah itu bagi loe jauhin gue yo?? Dengan alasan yang benar-benar nggak manusiawi?? Semudah itu bagi loe untuk lupain semuanya?? Semuanya selama ini??" tanya ify lagi, dengan hati yang benar-benar hancur dengan jawaban rio.

Rio kembali mengangkat sebelah alisnya. "Manusiawi kata loe??! Dunia bahkan nggak sedikit pun punya rasa kasian sama gue. Selalu nyiksa gue. Nggak manusiawi mana sikap gue ke elo atau semua yang dunia kasih buat gue??! Dan semuanya apa??! Emang apa yang udah elo kasih buat gue??!"
bentak rio. Air mata ify semakin deras
mendengarnya.

"Yo.. Mungkin bagi elo semuanya kecil. Tapi enggak bagi gue yo. Semuanya.. dari awal gue ketemu elo sampai detik sekarang, semuanya berharga bagi gue. Sama sekali nggak mudah bagi gue lupain semuanya. Mungkin bagi loe semuanya seperti angin lalu yang bisa mudahnya terbawa pergi. Tapi enggak bagi gue yo. Setiap yang elo beri buat gue. Walau pun cuman senyuman kecil, bahkan bentakan loe barusan, semuanya berarti buat gue. Gue akan simpan semuanya, gue akan kenang semuanya. Dan semuanya adalah harta terpenting dalam hidup gue. Dan gue nggak akan biarin elo merusak harta gue. Nggak akan..." kata ify dengan tangis yang semaki
deras. Bahkan genggamannya pada rio pun semakin erat. Menegaskan kalau dia benar-benar nggak ingin kehilangan semuanya.

"Gue nggak mau semuanya berakhir kaya sekarang yo.. Gue nggak mau.." lanjut ify lagi. Terdengar begitu miris.

"Kenapa elo pertahanin semuanya fy?? Mudah bagi elo kan buat mencari harta loe yang baru. Buang semua harta loe bersama gue, dan bentuk yang baru. Dengan seseorang yang lebih baik dari gue." kata rio melunak dari sebelumnya, dan sambil membalas, menggenggam kembali tangan ify. Ify menggeleng, "Nggak.. Gue nggak bisa. Cuman elo yo.. Karna cuman elo satu-satunya orang yang gue sayang, orang yang berhasil merebut hati gue. Karna cuman elo orang yang gue cintai.."jawab ify miris.

Rio menunduk. Perasaan galau menguasai hatinya.

"Gue..nggak pantes buat elo cintai fy. Jangan bikin hati loe sakit cuman karna gue. Di luar sana lebih banyak laki-laki yang bisa bahagiain loe jauh lebih baik dari gue. Yang bisa jagain elo. Dan itu, bukan gue." kata rio pelan lalu melepas genggaman tangan ify pada tangannya.

"Kalau..gue..nggak bisa milih yang lain??" tanya ify terbata, disela tangisnya. Rio menghela nafas, lalu menggeleng. Ify semakin terisak. Walau pun dengan cara yang halus, tapi jelas-jelas rio telah menolaknya. Dengan hati yang hancur, ify melangkah keluar dari ruangan osis.

****

Semua anggota osis yang berkumpul di luar, menatap ify heran. Senyum kebahagiaan yang di harapkan mereka, justru berubah menjadi sebuah tangisan.

Ify tersenyum kecil kepada mereka semua, meski butiran bening itu tetap jatuh dari kedua pelupuk matanya.

"Gue..udah bilang nggak bakal berhasilkan." kata ify dengan suara yang terdengar jelas dipaksakan untuk tegar.

Agni dan zahra menghampiri ify, lalu memeluk sahabatnya itu. Membiarkan tangis ify pecah dalam pangkuan mereka. Membiarkan ify berbagi bebannya.

Dibelakang ify, tangan gabriel mengepal keras. Merasa kesal terhadap rio. Merasa muak dengan tingkah sahabatnya itu.

"Maunya apa sih tu anak??" batin iyel kesal.

Dengan langkah terburu-buru, segera gabriel menuju ruang osis, menuju rio yang masih berada di sana dengan perasaan bersalah dan menyesal. Merasa ada sesuatu yang salah dengan sikap gabriel, sivia, alvin, dan cakka menyusulnya di belakang.

****

Tanpa pikir panjang, gabriel langsung menarik kerah baju rio kasar. Dan satu bogeman mentahnya mendarat tepat di pipi kiri rio.

Alvin yang melihatnya, reflek langsung berlari ke arah rio, membantu rio berdiri. Sementara itu sivia dan cakka menahan gabriel, sekaligus mencegahnya untuk menyerang rio lebih lanjut.

Rio menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih. Dan seketika ujung jarinya langsung merah karna darahnya itu. Rio langsung menoleh ke arah gabriel, menatapnya penuh tanya.

"Maksud loe apa yel?? Nyerang gue tiba-tiba." tanyanya, masih belum mengerti.

Gabriel tersenyum miring, tatapannya masih penuh amarah.

"Masih bisa nanya loe?? Jangan sok polos..!" jawab gabriel dengang nada tinggi.

Rio menghela nafas. Jawaban gabriel tadi cukup untuk membuatnya mengerti.

"Gue tau loe nggak terima sikap gue ke ify. Tapi loe nggak tau apa-apa tentang gue yel." ujar rio sambil berusaha berdiri dibantu alvin.

Gabriel kembali memasang senyum sinisnya.

"Nggak tau apa-apa??! Gue cukup tau kalau loe udah lama suka sama sepupu gue itu. Gue tau sampai sekarang loe masih nyimpan perasaan loe buat dia. Dan gue juga tau, disaat perasaan loe terbalas, loe malah nyia-nyiain semuanya!!"

"Mungkin loe bener, tapi loe juga salah. Kalau loe jadi gue sekarang, gue jamin loe bakal lakuin hal yang sama kaya gue yel. Mungkin loe bisa jauh lebih baik dari gue, tapi satu yang pasti, loe pasti akan maklumin sikap gue sekarang. Loe nggak ngerti apa-apa yel. Dan loe nggak berhak buat nggak setuju sama sikap gue." jelas rio dengan nada datar.

"Lepasin gue cak!!" perintah iyel, dan cakka langsung menurutinya.

"Gue nggak butuh penjelasan loe! Gue nggak terima sikap loe itu! Apa susahnya sih buat akuin perasaan loe ke ify?? Kalau emang loe bakal nolak dia kaya gini, jangan kasih harapan! Loe tau sikap loe udah bikin orang sakit hati?? Buat apa loe kasih harapan diawal kalau akhirnya loe bakal nyia- nyiain dan ngecewain dia hah??! Loe pikir bener kalau loe ngelakuin itu??!" lanjut gabriel kasar.

"Gue tau gue salah yel. Gue juga ngerti kenapa loe nggak bisa terima sikap gue. Gue tau yang gue lakuin ini
bodoh. Gue tau. Dan gue juga nggak ingin ngelakuin semuanya. Gue nggak pernah niat untuk nyakitin ify, tapi.. Untuk alasan yang nggak bisa gue kasih tau ke elo, gue harus ngelakuin ini. Terserah kalau loe nganggap gue pengecut atau lemah atau apa lah. Tapi emang ini jalan yang gue pilih. Gue cuman nggak ingin nyakitin ify dan kalian semua lebih dari ini." jelas rio.

"Gue harap loe bisa ngerti yel. Gue terpaksa buat ngelakuin semuanya." lnjut rio dan beranjak pergi. Sampai diluar, rio menatap ify sejenak, lalu melangkah menuju mobilnya.

------------------------------------------------------------------------------------