Kamis, 05 Januari 2012

CakkAgni (short story) copas

CakkAgni !!

 

Setiap malam aku selalu bermimpi. Selalu berharap dan selalu menghayal. Banyak orang di sekitarku yang mungkin jauh dari cukup. Banyak orang di sekitarku yang mungkin juga jauh dari kata mampu. Tapi… satu yang orang-orang itu miliki dan aku tak punya sama sekali. Yah, keluarga yang saling menyayangi. Aku menatap langit kamarku sambil menghela nafas berat. Ku lirik sebuah figura dengan ukuran sedang di samping tempat tidurku pilu.

Semua masih terekam jelas di memori dan ingatanku. Canda dan tawa bahagia keluarga kecilku. Keluarga yang mempunyai sejuta kehangatan dan kenyamanan. Dulu. Yah, dulu sekali….


***

Ingin rasanya aku tuli, tak mendengar jerit memekakan dari mereka… dua orang yang ku sayangi.


“ kerja, kerja, kerja terus. Mama gak bisa apa perhatian sedikit sama aku, sama Agni juga, huh ? “.

“ kamu kenapa sih, Kka ? mama kerja juga buat kalian. Buat kamu dan adik kamu “.

“ ma, tanpa mama harus banting tulang kita juga masih mampu kok. Uang mama itu udah lebih dari cukup. Sekarang itu saatnya mama perhatiin Agni. Hampir 10 tahun ini mama nelantarin kita, jadi aku mohon sama mama… kali ini aja, ma. Tolong perhatiin Agni “.


Aku hanya mampu berdiri mematung di depan pintu kamarku. Semenjak papa meninggal, mama jadi berubah. Mama jadi semakin sibuk dengan pekerjaannya. Menelantarkanku dan membiarkan ku sendirian. Sering sekali aku mendengar mama dan kak Cakka ribut dan bertengkar hebat seperti ini. aku diam, dan hanya mampu menangis di tempatku berdiri.


***

“ loe ikut kita ya, Ni ? “. Nova salah seorang sahabatku mengajak ku ke suatu tempat sore itu. Aku tampak berfikir sejenak. Sesaat aku pun mengangguk mengiyakan.

.
.

Aku terdiam. Terpaku menatap orang-orang di hadapanku. Apa yang mereka lakukan, apa yang mereka kerjakan, dan apa yang mereka kenakan tidaklah sesuai dengan status dan usia mereka sebagai seorang pelajar. Aku hanya melongo menatap para sahabatku tak percaya.

“ coba !! “. Ify menyodorkan segelas minuman dengan bau menyengat kearahku. Ku tatap wajah cantiknya lekat dan sedikit menggeleng.

“ ayolah. Sedikit aja, enak kok “. Via ikut-ikutan mendesakku dan menyodorkan gelas itu kewajahku. Aku menunduk sedetik kemudian kembali ku dongakkan kepala menatap gelas minuman itu ragu dan perlahan meraihnya.

Ku hirup nafas panjang. Baunya benar-benar membuat kepalaku pusing. Dengan setengah hati aku pun mulai meneguk minuman itu, perlahan sampai habis. Samar-samar aku mendengar kedua sahabatku itu tertawa lepas.


***

“ kamu apa-apaan sih, huh ? kamu minum ? “. Aku tersentak kaget. Untuk pertama kalinya kak Cakka membentakku seperti ini. ingin menangis rasanya, tapi entah kenapa aku malah tertawa aneh dan bertingkah tak karuan.

“ kakak.. gak usah khawatir deh… aku udah 15 tahun. Udah gede dong ya.. haha “. Ucap ku sembari tertawa dan mendorong tubuh kak Cakka kasar.

“ Agni !! “. Aku tersenyum tipis saat nada suara kak Cakka mulai meninggi. Sesaat aku melihat cairan bening di sudut matanya. Ia acak rambutnya frustasi sambi menendang kaki meja yang berada di sampingnya kuat. Aku sedikit tersentak. Sedetik kemudian aku pun berlalu, membiarkan kak Cakka sendirian.


***

Aku merosot di balik pintu kamarku. Tangisku akhirnya pun tumpah. Ku peluk erat kedua lututku sambil terisak.

“ maafin Agni, kak. Maafin Agni… maaf… Agni minta maaf “. Rancauku dan semakin erat memeluk kedua lututku.


***

“ iya, pak… oh pasti. Saya jamin kali ini proyek itu bakal jatuh ketangan kita… iya pak… oke “.

Aku melumat nasi goreng masakan bibi malas. Ku lirik mama yang sedari tadi sibuk dengan ponsel dan ipad miliknya geram. Huh, kapan mama bisa bersikap sewajarnya sih ? kapan mama bisa kembali menjadi sosok ibu yang hangat seperti 10 tahun yang lalu, kapan ?.

‘prang’

Dengan kasar aku menyentakkan garpu dan sendok begitu saja, membuat mama yang beberapa detik lalu memulai kembali obrolannya via telpon dan melirikku sekilas. Sesaat kemudian ia tersenyum dan bangkit dari duduknya seraya meraih tas tangannya dan segera beranjak. Tanpa sapa, dan tanpa kecupan kecil untukku.

“ aaaaarrrghh.. Agni benci mamaaa “. Seruku sembari menjatuhkan piring bekas makanku sedetik lalu. Kak Cakka yang sedari tadi tampak santai di kursinya kita melotot menatap ku marah. Ku telungkupkan wajahku di kedua lipatan tanganku, seketika itu pun aku menangis sejadinya.


***

Aku hanya diam, menatap lurus ke depan saat kak Cakka mengantarkan ku ke sekolah pagi ini. ku alihkan kini pandanganku ke arah jendela tepat di sampingku. Tampak kak Cakka melirik kearahku sekilas. Dapat kurasakan tangan hangatnya menyentuh puncak kepalaku dan membelai rambut panjangku lembut. Perlahan aku berbalik menghadapnya. Ia tampak tersenyum manis. Sebuah senyuman seorang kakak yang terlihat tulus. Senyuman yang selalu bisa membuatku merasa tenang.

“ nanti pulang sekolah kakak jemput kamu, ya ! “. Ucap kak Cakka dan kembali memperhatikan ruas jalanan. Ku tatap wajah kakakku satu-satunya ini lekat, sesaat aku pun mengangguk.


***

Sesuai janji kak Cakka hari ini ia menjemputku di sekolah. Ia sangat terlihat tampan dengan kaos putih polos dan celana jeans seadanya. aku tersenyum, mengingat hampir sebagian besar dari waktu kosong yang kak Cakka miliki selalu saja dia habiskan bersamaku. Perlahan aku menghampirinya yang saat itu tengah asik dengan ponselnya dan duduk manis di atas kap mobilnya.

“ ayo pulang !! “. Seruku saat tiba di sampingnya. Ia tampak kaget, sedetik kemudian tersenyum dan mengacak rambutku penuh sayang.


***

Hari ini kak Cakka mengajakku ke taman bermain. Tempat yang sudah lama sekali tak ku kunjungi. Ku lirik kak Cakka yang berdiri di sampingku lantas kuraih jemarinya dan ku genggam erat.

Kak Cakka menyodorkan ice cream stroberi kearahku. Dengan penuh semangat aku pun meraihnya. Aku masih bersyukur karena tuhan memberikan ku kakak sebaik kak Cakka. Dialah satu-satunya keluarga yang saat ini aku miliki. Satu-satunya keluarga yang benar menyayangiku dengan tulus.

“ Agni ! “. Seru kak Cakka dan menjatuhkan sebuah liontin tepat di depan wajahku. Gerakanku yang sedari tadi menikmati ice cream kini terhenti dan menatap liontin di hadapanku takjub.

“ huaaaa. Bagus banget kak ! “. Seru ku riang dan menatap lekat liontin berukiran KkaNi Soulmatch dengan senyum mengembang. Kak Cakka tampak tersenyum, sesaat ia pun mengenakan kalung tersebut di leherku.

“ kalung ini akan jaga kamu dimana pun kamu berada. Walau suatu saat nanti kakak jauh dari kamu… kakak akan selalu dekat di sini… di hati kamu “. Ujar kak Cakka sembari menunjuk kearah dadaku. Aku tersenyum dengan air mata tertahan di sudut mataku. Sedetik kemudian aku berhambur dan memeluk kak Cakka erat.


***


Apa aku harus benar-benar tuli… ?


“ mama, Cakka mohon sama mama. Mama tolong dong berubah. Agni butuh kasih sayang mama. Dia butuh perhatian mama. Dia masih labil,  ma “. Kak Cakka lagi-lagi membujuk mama untuk melakukan hal yang pasti akan sia-sia. Mama yang tampak serius dengan beberapa filenya melirik kak Cakka tajam, dan sesaat kemudian ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri kak Cakka yang tengah berdiri tegak di depan meja kerjanya.

“ mama banyak kerjaan Cakka. Ini misi besar. Mama gak ada waktu buat melakukan hal yang tidak penting seperti apa yang kamu harapkan. Soal perhatian dan kasih sayang… mama rasa kamu sudah lebih dari cukup untuk Agni “. Ujar mama dan kembali ke kursi kerjanya. Kak Cakka tampak mengepalkan tangannya kuat.

“ mama egois. Mama gak pernah mikirin gimana perasaan aku, perasaan Agni. Mama gak pernah mau tau soal kita. Mama udah kelewatan. Cakka gak kenal siapa mama. Cakka… Cakka benci sama mama “. Terang kak Cakka kalap dan segera beranjak meninggalkan ruang kerja mama.

Ku sandarkan punggunggu rapat di balik pintu ruang kerja mama saat kak Cakka keluar dari ruangan itu. Ku lihat cairan-cairan kristal yang lama tak terlihat dari wajah tampan kakakku itu kini tampak mengalir deras.


“ Agni benci sama mama. Mama udah nyakiti perasaan kak Cakka. Mama udah buat kak Cakka nangis. Agni benci mama “. Seruku sesaat kemudian dan menatap mama yang tampak kaget dengan tindakan ku itu tajam. Tak lama aku pun membanting kasar pintu ruangan mama dan segera berlalu.


***

Perlahan ku buka pintu kaca di hadapan ku. Tampak kak Cakka yang saat itu tengah termangu di tepi kolam sambil memainkan air dengan kakinya. Sesaat ku jatuhkan pantatku dan duduk di sampingnya. Kak Cakka menatap lurus ke atas langit yang saat itu terlihat gelap tanpa cahaya bintang dan bulan.

“ maafin kakak ya, Ni ! “. Seru kak Cakka tiba-tiba tanpa menoleh sedikit pun kearah ku.

Ku alihkan tatapan ku dan menatap kak Cakka bingung. “ maaf ? kenapa kak harus minta maaf ? “.

Kak Cakka tersenyum dan meraih jemariku kemudian di genggamnya erat. Matanya masih tampak basah. Aku kembali mengerutkan dahi menatap kakak tersayangku ini tak mengerti.

“ huhhh.. kakak janji. Kakak gak akan ninggalin kamu, Ni “. Ucap kak Cakka tulus setengah terisak dan menarikku ke dalam pelukannya. Aneh. kenapa kak Cakka bersikap sepert ini.



***

Nyaris hampir sebulan ini aku selalu mendengar kak Cakka memohon sama mama soal itu-itu melulu tiada habisnya. Dan yang membuat ku tidak habis pikir mama malah tak pulang ke rumah selama seminggu cuma karena masalah itu. Aku hanya mampu menghela nafas dan menepuk pelan pundak kak cakka yang saat itu tengah menatap riak air kolam dengan tatapan kosong.

“ kakak udah dong. Agni gak mau lihat kakak sedih terus kayak gini. Kakak gak perlu mohon-mohon kemana lagi buat Agni. Agni udah biasa kayak gini kak “. Ucap ku dan memeluk pundak kak Cakka erat. Kak Cakka masih diam sembari mengeratkan genggaman tangannya.

“ kak !! “. Ku raih genggam kedua tangan kak Cakka erat dan menatap tepat di dua manik matanya.

“ kakak nyembunyiin sesuatu dari Agni, ya ? “. Tanyaku lembut. Sesaat kak Cakka tampak mengalihkan pandangannya dan melepas genggaman tangganku perlahan.

“ gak. Kakak gak menyembunyikan apa pun dari kamu, Ni “. Terang kak Cakka dan berjalan menjauhi ku. sesaat ku tatap lekat punggung tegap kak Cakka sendu.


***

Hanya kakak yang aku punya.. hanya kakak yang ada buat aku.. aku mohon.. kakak tetap disini.


Kak Cakka benar-benar aneh akhir-akhir ini. Semakin over dan bahkan suka marah-marah gak jelas. Dan bahkan hari ini saja kak Cakka tidak pulang ke rumah. Huh. Aku hanya mampu menghela nafas sambil sesekali melirik keluar jendela kamarku cemas. Sesaat ku raih ponselku yang berada di sudut meja belajarku dan menatap layarnya lekat. Gak biasanya kak Cakka bersikap seperti ini. ada apa dengan kakakku itu.

Dengan perasaan yang bergemuruh ku tekan beberapa digit nomor yang telah ku hapal luar kepala dan sesaat menempelkan benda kotak itu di alat pendengaranku. Terdengar nada sambung di seberang sana yang membuat jantungku tiba-tiba merasa sakit.

“ halo ! “. Terdengar sapaan dari nomor yang ku tuju. Aku mengeryitkan dahi dan kembali memastikan nama yang tertera di layar LCD ponselku.

“ halo.. ini benar nomor kak Cakka, kan ? “. Tanyaku ragu saat mendengar suara seorang wanita yang mengangkat panggilanku.

“ oh, iya. Anda keluarga saudara Cakka ? “. Tanya wanita itu balik.

“ iya. Saya adiknya. Mbak ini siapa ya ? “. Aku mulai merasa cemas. Ku genggam ponsel yang menempel di telingaku erat.

“ saya suster dari rumah sakit Sejahtera. Siang tadi mobil yang saudara Cakka kendarai mengalami kecelakaan hebat. Kita sudah mencoba menghubungi ponsel ibunya, tapi sampai sekarang belum ada jawaban  “. Aku terdiam. Tanganku terkulai lemas. Air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. dalam isakku aku berlari keluar rumah tanpa memperdulikan malam yang saat itu semakin larut.


***

Aku mematung di depan pintu kaca menatap tubuh kak Cakka yang terbaring lemah dengan selang di sekujur tubuhnya pilu. Aku terduduk lemas sembari memeluk lututku erat. Aku sendiri. Benar-benar sendiri. Dokter baru saja memberi tahukan bahwa kak Cakka tengah mengidap kanker paru-paru stadium akhir. Hidup kak Cakka gak lama lagi. Dokter bilang ia hanya mampu bertahan 2 atau tiga bulan lagi. Bohong. Dokter pasti bohong. Kak Cakka udah janji bakal jagain aku terus. Kak Cakka juga udah janji gak akan tinggalin aku.

Dengan tangan gemetar ku raih poselku dari saku jeans yang ku kenakan. Dengan perasaan tak karuan aku pun mencari nomor seseorang di daftar kontakku. Setelah menemukannya kembali ku tempelkan benda mungil itu di telingaku. Berulang kali aku melakukannya tapi seseorang di seberang sana tak sekali pun menghiraukan panggilanku. Dengan geram dan penuh amarah ku genggam erat ponsel milik ku dan kembali ku peluk erat kedua lututku.


***


“ Agni.. Agni harus jadi anak yang baik. Anak yang pintar. Biar besar nanti Agni bisa jadi dokter dan ngobati papa “.

“ iya. Pasti, pa. Agni janji. Agni bakal jadi dokter buat papa “.



.
.

“ Agni jangan nagis. Masih ada kak Cakka sama mama kok, kak Cakka janji. Kak Cakka gak akan tinggalin Agni “.

.
.

“ ma.. sekali aja bisa gak sih mama perhatiin Agni lagi. Dia butuh mama. Dia butuh kasih sayang mama”.

“ mama mohon sama kamu Cakka, jangan pernah kamu bahas soal ini lagi sama mama. Mama tau apa yang mama lakukan, dan itu yang terbaik untuk kalian menurut mama “.

“ terbaik untuk diri mama sendiri, tapi gak untuk aku dan Agni “.

.
.

“ suatu saat kakak juga akan nyusul papa “.

“ kak Cakka ngomong apaan sih ? kak Cakka sehat. Kak Cakka kuat. Kak Cakka gak agak ningglin Agni. Iya kan ? “.

Hanya mampu tersenyum dan mengacak lebut rambut ku.

.
.

“ kalung ini akan jaga kamu dimana pun kamu berada. Walau suatu saat nanti kakak jauh dari kamu… kakak akan selalu dekat di sini… di hati kamu “.



Ku buka mataku perlahan sesaat ku picingkan mata begitu cahaya benderang menyeruak pengelihatanku. Aku bangkit dari dudukku dan kembali melihat kearah kak Cakka yang masih belum sadarkan diri dari luar jendela kaca. Ku edarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan, aku tertunduk. Mama benar-benar tak peduli dengan kami.

***

Ku genggam tangan kak Cakka erat. Kulit putih itu terlihat semakin pucat dan terasa dingin. Aku lagi-lagi hanya menangis. Ingin sekali rasanya aku mengguncang tubuh kak Cakka dan menyuruhnya bangun. Ingin aku menariknya seperti biasa kalau dia tidur seharian. Sesaat kedua mata sayu milik kak Cakka terbuka. Ia tersenyum dari balik masker oksigen yang ia kenakan.

“ jangan nangis “. Ucapnya tanpa suara dan menghapus air mataku lembut. “ papa udah nunggui kakak, dek “. Aku hanya mampu terdiam dalam tangis ku saat melihat gerak bibir pucatnya di balik masker. Ku genggam semakin erat tangan kak Cakka dan ku kecup lama.

“ kakak pasti sembuh. Agni yakin kakak pasti sembuh. Kakak harus kuat ya. Demi Agni “.  Ucapku berusaha menahan tangis dan menatap mata sayu kak Cakka penuh harap. Ia tampak tersenyum dan mengangguk sekilas.


***

Ku sandarkan pungugunku di kursi tunggu depan ruangan kak Cakka sambil sesekali mengela nafas berat.

“ Agni ! “. Aku mendongakkan kepala menatap sosok yang kini tengah berdiri di hadapanku dengan tatapan penuh kebencian. Sedetik kemudian aku bangkit dari duduk ku dan menatap tepat di manik mata sosok tersebut tajam.

“ Agni !! “. Seru sosok tersebut yang kini berjalan mendekat kearahku dan berusaha memelukku.

“ jangan pernah sentuh Agni !! “. Seruku dan menepis tangan mama kasar. Mama tampak menatapku tak percaya. Sesaat kami saling pandang lalu sedetik kemudian mama memasuki ruang rawat kak Cakka, seketika aku terduduk lemas sepeninggal mama dan lagi-lagi hanya mampu menangis.


***

“ papaaa.. Agni mohon. Jangan sekarang. Agni gak punya siapa-siapa lagi selain kak Cakka. Papa Agni mohon “. Aku terisak di pusara yang hampir 2 tahun ini tak aku kunjungi. Ku remas tanah merah di hadapanku dan menggenggamnya erat.

“ papa… Agni takut. Agni takut sendirian “. Ucapku lirih dan memeluk nisan putih itu erat. Aku tersentak saat sebuah pelukan hangat menyelimuti tubuhku.

“ mama ada untuk kamu sayang “. Bisik suara itu dan kontan membuat mata ku membulat. Sedetik kemudian aku bangkit dari dudukku dan melepas pelukan mama kasar.

“ Agni benci mama.  Kak Cakka kayak gini tuh karena mama. Semuanya karena mamaaaa. Agni benciiiiii. Agni… Agni benci sama.. mama “. Seruku nyaris berteriak dan berlari meninggalkan mama.

“ Agni !! Agni !! “. Mama terus saja menyerukan namaku dan berlari mengejar langkah lebarku. Aku terdiam di pinggir jalan, menatap jauh ke belakang dan tak lama kembali berlari.

“ Agniiiii ! “. Seketika ku hentikan lariku saat teriakan mama terasa memekakan di telingaku. Dengan gerakan cepat aku berbalik ke arah kanan ku, seketika mataku melotot lebar saat melihat sebuah benda bergerak cepat dan semakin mendekat kearahku.

Aku hanya diam mematung. Perlahan ku tutup rapat kedua mata indahku sembari tersenyum tipis.

‘brakk’

Dapat ku rasakan cairan amis itu menjalar di sekujur wajahku. Tubuhku terasa sakit. Dadaku mulai sesak. Dengan sisa tenaga yang aku miliki dapat ku lihat dengan jelas mama tengah menangis dan memelukku erat. Pelukan yang hampir 10 tahun tak pernah aku rasakan. Dan saat ini.. mama kembali memelukku dan menagis karena melihat kesakitanku. Ku gerakan tanganku yang terasa lemas dan menghapus butir bening di mata mama lembut.

“ mm.. mam..ma.. Ag.. Ag.. ni… sayang.. mama “. Ucapku terakhir kalinya sebelum semua terasa gelap.



***

Dan semua terlambat….

“ papa, kak Cakka ! “. Seruku dengan mata berbinar saat melihat dua orang yang paling aku sayang kini berdiri di hadapnku. Aku berlari kecil dan memeluk keduanya erat.

“ Agni kangen. Jangan tinggalin Agni lagi, pa, kak “. Ucapku lirih dan semakin mengeratkan pelukanku. Dapat kurasakan tangan hangat keduanya mengelus lembut rambut dan juga punggungku.

“ kamu jagain mama ya sayang “. Ucap papa sesaat melepas pelukannya.

“ kamu harus jadi anak dan adik yang baik “. Ujar kak Cakka yang kali ini mengacak rambutku penuh sayang.

“ gak. Agni mau disini. Agni mau tinggal sama kak Cakka dan papa aja“. Aku menggeleng kuat dan kembali memeluk keduanya erat.

“ Agni. Mama itu sayang sekali sama kamu. Dia melakukan semua ini cuma untuk mengalihkan kesedihannya karena kepergian papa. Mama tidak sejahat yang kamu pikirkan sayang “. Ucap papa merengkuh kedua pipiku dan menatapku lembut. Lagi-lagi air mata itu mengalir di pipi ku. ku lirik kak Cakka yang berdiri di samping papa, ia tampak tersenyum dan kini menarikku dalam dekapannya.

“ ingat ya, Agni. Kakak selalu ada di hati kamu “. Bisik kak Cakka tepat di telingaku dan sesaat kemudian  melepas pelukannya.

 Tak lama sebuah sinar benderang menyilaukan mataku dan sedetik kemudian aku tak dapat melihat papa dan kak Cakka lagi berdiri di hadapanku. Hanya ruang kosong dan hampa.


***

Di atas kursi roda aku menatap dua pusara di hadapanku perih. Aku hanya mampu tersenyum di balik tangisku yang tertahan. Aku merasa sesak itu kembali meyeruak. Tepat di malam kecelakaan ku seminggu lalu kak Cakka pergi meninggalkan ku. pergi untuk selamanya. Aku merenung sejenak, membanyangkan mulai hari ini, besok dan seterusnya aku akan melalui hariku sendirian. Ya, hanya seorang diri tanpa sosok kakak yang selalu ada di setiap hari yang ku lalu ini. ku letakkan masing-masing buket mawar putih di masing-masing pusara papa dan juga kak Cakka. Sesaat ku raih kalung pemberian kak Cakka dan ku kecup hangat.

***


MAMA P.O.V


Hanya mampu menatap wajah-wajah ceria di lembar-lembar foto yang mungkin hampir 10 tahun ini tak ku jamah. Menangis. Menyesal. Merasa bersalah. Dan merasa benci akan diriku sendiri. Masih ku ingat dengan jelas saat Cakka yang mungkin untuk terakhir kalinya memohon agar aku memperhatikan mereka. Memperhatikan dia, dan juga Agni. Aku bukan ibu yang baik, bahkan anak sendiri mengidap penyakit mematikan itu saja aku tak tahu sampai ajal menjemputnya.

Ku hela nafas berat sembari menutup album yang saat ini ada di pangkuanku, sesaat kemudian aku bangkit dari dudukku dan beranjak menuju kamar putri kecilku. Aku tersenyum perih. Sudah hampir satu bulan aku melihat Agni duduk termangu dan menatap kosong keluar jendela kamarnya. Tak sakali pun aku mendengar tawa cerianya. Tak sekali pun aku mendengar tangis atau teriakannya lagi. Tuhan, kini putri kecilku mematung. Ia bahkan menutup diri dariku. Aku hanya mampu menangis dari tempat ku berdiri. Meyesal dan merasa bersalah. Coba saja malam itu aku tidak keras kepala dan mengikuti keinginan Cakka.

“ Agni butuh mama.. Cakka mohon ma, tolong perhatiin Agni. “.

Entah sudah berapa puluh kali Cakka memohon seperti itu. Seakan tuli aku tak pernah mengindahkan dan terus saja memakinya habis-habisan.



“ Cakka mohon.. ini yang terakhir kalinya, ma “.



Seharusnya aku sadar kalau itu adalah peringatan Cakka untukku. Peringatan yang ingin memberi tahukanku kalau Cakka itu sakit. Anak ku itu sakit, dan dia ingin.. aku, ibunya… menjaga dan merawat Agni adik kesayangannya dengan baik sebelum dia benar-benar pergi.

Kembali ku lihat Agni tersenyum saat menatap liontin yang tergantung indah di lehernya. Yah, liontin pemberian Cakka. Mereka permata yang telah aku sia-siakan karena ke egoisanku. Permata yang tanpa sadar telah aku hancurkan dengan tanganku sendiri. Permata berharga yang kini telah menghilang dari hidupku. Jauh dari jangkauanku, dan mungkin takkan lagi aku dapatkan permata seindah mereka. Kedua belahan jiwaku. Cakka dan Agni. Dan aku kini hanya mampu termenung dalam pikiranku. Sendiri. Dan di liputi penyesalan yang mendalam.

“ maafin mama, Agni. Mama sayang kamu. Mama pasti akan jaga kamu selamanya. Mama akan melakukan apapun untuk kebahagian kamu. Janji mama untuk kamu, Cakka dan juga papa “.

Sesak. Sakit luar biasa yang ku rasakan saat menatap putri kecilku hanya mampu terdiam di singgasananya kini.




_FIN_


Rabu, 04 Januari 2012

Sifat Berdasarkan Bulan Kelahiran (Copas)

Sifat Berdasarkan Bulan Kelahiran

JANUARI (It's me)
- Sangat mudah melihat kelemahan orang lain dan suka mengkritik.
- Rajin dan setiap yang dibuat selalu menghasilkan keuntungan.
- Suka berbenah atau bersih-bersih dan hal-hal yang serba teratur.
- Bersifat sensitif, berfikiran mendalam.
- Pandai mengambil hati orang lain.
- Mudah mendisiplinkan diri sendiri.
- Bersikap romantik tetapi tidak pandai memamerkannya
- Cukup sayang pada anak-anak.
- Suka berdiam di rumah.
- Setia pada segala-galanya.
- Perlu belajar untuk hidup bersosialisasi.
- Mempunyai rasa cemburu yang sangat tinggi.

FEBRUARI
- Berpikiran abstrak.
- Inteligent, bijak dan jenius.
- Memiliki kepribadian yang mudah berubah.
- Mudah menawan hati orang lain.
- Agak pendiam, pemalu dan rendah diri.
- Jujur dan setia pada segalanya.
- Keras hati untuk mencapai tujuan.
- Tidak suka dikekang.
- Mudah memamerkan dan memperlihatkan amarahnya.
- Suka berkawan tapi kurang memamerkannya.
- Sangat berani dan suka memberontak.
- Bercita-cita tinggi dan suka berangan-angan
- Optimis untuk merealisasikan impiannya.
- Suka hiburan dan suka akan benda yang bersifat seni.
- Berkecenderungan pada benda yang tahyul.
- Harus belajar untuk memamerkan emosi.

MARET
- Berkepribadian yang menarik dan menawan.
- Sangat pemalu dan pemendam rasa.
- Sangat baik, jujur, pemurah dan mudah simpati.
- Suka pada kedamaian.
- Sangat peka kepada orang lain.
- Tidak cepat marah dan sangat baik hati.
- Tahu membalas dan mengenang budi orang.
- Pemerhatian dan penilaian yang sangat tajam.
- Kecenderungan untuk mendendam jika tidak dikontrol.
- Suka berangan-angan.
- Suka melancong.
- Sangat manja dan suka diberi perhatian yang sangat tinggi.
- Suka dengan hiasan rumah tangga.
- Punya bakat seni dalam bidang musik.
- Kecenderungan kepada benda yang istimewa dan bagus.
- Terlalu moody.

APRIL
- Sangat aktif dan dinamik.
- Cepat bertindak buat keputusan tetapi cepat menyesal.
- Sangat menarik dan pandai memanjakan diri.
- Punya daya mental yang sangat kuat.
- Suka diberi perhatian.
- Diplomatik (pandai membujuk, berkawan dan menyelesaikan masalah).
- Sangat berani dan tidak ada perasaan takut.
- Suka petualangan, pengasih, penyayang, sopan santun dan pemurah.
- Kecenderungan bersifat dendam.
- Kuat daya ingatan.
- Gerak hati yang sangat kuat.
- Pandai mendorong diri sendiri dan memotivasikan orang lain.
- Sangat cemburu dan terlalu cemburu.

MEI
- Kuat semangat dan bermotivasi tinggi.
- Pemikiran yang tajam.
- Mudah marah apabila tidak dikontrol.
- Pandai menarik hati orang lain dan menarik perhatian.
- Perasaan yang amat mendalam.
- Cantik dari segi mental dan fisik.
- Tetap pendirian tetapi mudah dipengaruhi oleh orang lain.
- Mudah dibujuk.
- Bersikap sistematik (otak kiri).
- Suka berangan-angan.
- Kuat daya firasat, memahami apa yang terlintas di hati orang lain tanpa diberitahu.
- Daya khayal yang tinggi.
- Pandai berdebat.
- Suka sastra,seni dan musik serta melancong.
- Tidak berapa suka duduk atau diam di rumah.
- Rajin dan bersemangat tinggi.
- Agak boros.

JUNI
- Berfikiran jauh dan berwawasan.
- Mudah digunakan atau dimanfaatkan orang karena sikap baik.
- Berperangai lemah lembut.
- Mudah berubah sikap, perangai, idea dan mood.
- Idea yang terlalu banyak di kepala.
- Bersikap sensitif.
- Otaknya aktif (senantiasa berfikir).
- Sukar melakukan sesuatu dengan segera.
- Bersikap suka menunda-nunda.
- Bersikap terlalu memilih dan selalu mau yang terbaik.
- Cepat marah dan cepat sejuk.
- Suka berbicara dan berdebat.
- Suka membuat lawakan atau lelucon dan bergurau.
- Otaknya cerdas berangan-angan.
- Mudah dan pandai berkawan.
- Orang yang sangat tertib.
- Pandai memamerkan sikap.
- Gampang berkecil hati.
- Suka berbenah atau bersih-bersih
- Cepat merasa bosan.
- Sikap terlalu memilih dan cerewet.
- Lambat sembuh apabila hatinya terluka.

JULI
- Sangat senang apabila didampingi.
- Banyak berahasia dan sukar dimengerti, terutama laki-laki.
- Tak suka menyusahkan orang lain tapi tidak marah apabila disusahkan.
- Mudah dibujuk.
- Sangat menjaga hati atau perasaan orang lain.
- Sangat ramah.
- Berjiwa sentimental.
- Mudah memaafkan tapi sukar melupakan.
- Membimbing secara fisik dan mental.
- Sangat peka, pengasih serta penyayang.
- Daya simpati yang tinggi.
- Pemerhatian yang tajam.
- Suka menilai orang lain.
- Mudah dan rajin belajar.
- Suka mengenang peristiwa atau kawan lama.
- Suka berdiam diri.
- Suka duduk atau diam di rumah.
- Suka menunggu kawan tapi tidak mencari kawan.
- Tidak agresif kecuali terpaksa.
- Minta disayangi.
- Mudah terluka hati tapi lambat untuk pulih.
- Rajin dalam bekerja.

AGUSTUS
- Suka bergurau.
- Sopan santun dan perhatian terhadap orang lain.
- Berani dan tidak mengenal kata takut.
- Orangnya agak tegas dan bersikap kepemimpinan.
- Pandai membujuk orang lain.
- Terlalu pemurah dan bersikap ego.
- Nilai harga diri yang sangat tinggi.
- Haus akan pujian.
- Semangat juang yang luar biasa.
- Cepat marah dan mudah mengamuk.
- Mudah marah apabila perkataannya dilawan.
- Sangat cemburu.
- Cepat berpikir.
- Suka memimpin dan dipimpin.
- Sifat suka berangan.
- Romantik, pengasih, penyayang.
- Suka mencari kawan.

SEPTEMBER
- Sangat sopan santun.
- Sangat cermat, teliti dan teratur.
- Suka menegur kesalahan orang lain dan mengkritik.
- Pendiam tapi pandai dalam bercakap-cakap.
- Sikap sangat cool, sangat baik dan mudah simpati.
- Kerja yang dilakukan sangat sempurna.
- Sangat sensitif tetapi tidak diketahui.
- Otak bijak dan mudah belajar.
- Kontrol diri untuk tidak terlalu mengkritik.
- Pandai mendorong diri sendiri.
- Suka akan hiburan dan melancong.
- Kurang menunjukan perasaannya.
- Luka hatinya sangat lama disimpan.
- Terlalu memilih pasangan.
- Sistematik.

OKTOBER
- Menyukai orang yang sayang padanya.
- Suka mengambil jalan tengah.
- Sangat menawan dan sopan santun.
- Kecantikan luar dan dalam.
- Tidak pandai berbohong dan berpura-pura.
- Mudah rasa simpati, baik, lebih mementingkan kawan.
- Senantiasa berkawan.
- Hatinya mudah terusik tetapi merajuknya tak lama.
- Tidak menolong orang kecuali diminta.
- Suka melihat dari perspektifnya sendiri.
- Tidak suka terima pandangan orang lain.
- Emosi yang mudah terusik.
- Daya firasat yang sangat kuat (terutama perempuan).
- Suka melancong, bidang sastra dan seni.
- Pengasih, penyayang dan lemah lembut.
- Romantik dalam percintaan.
- Mudah terusik hati dan cemburu.
- Suka kegiatan luar.
- Orang yang adil.
- Boros dan mudah dipengaruhi sekitarnya.

NOVEMBER
- Banyak ide.
- Sukar untuk dimengerti atau difahami sikapnya.
- Berpikiran unik dan bijak.
- Penuh dengan idea-idea baru yang luar biasa.
- Pemikiran yang tajam.
- Daya firasat yang sangat halus dan tinggi.
- Cermat dan teliti.
- Sifat yang berahasia, pandai mengorek dan mencari rahasia.
- Banyak berfikir, kurang bicara tetapi mesra.
- Berani, pemurah, setia, dan sabar.
- Apabila mau akan diusahakan sehingga berhasil.
- Tidak suka marah kecuali digugat.
- Cara berfikir yang lain dari orang lain.
- Otak yang sangat tajam.
- Pandai mendorong diri sendiri.
- Tidak menghargai pujian.
- Kasih sayang dan emosi yang sangat mendalam.
- Romantik.
- Tidak pasti dengan hubungan kasih sayang.
- Suka duduk atau diam di rumah.
- Sangat rajin dan berkemampuan tinggi.
- Amanah, jujur setia dan pandai berahasia.
- Perangai tidak dapat diramal dan mudah berubah-ubah.

DESEMBER
- Sangat setia dan pemurah.
- Bersifat patriotik.
- Sangat aktif dalam permainan dan pergaulan.
- Sikap kurang sabar dan tergesa-gesa.
- Bercita-cita tinggi.
- Suka menjadi orang yang berpengaruh dalam organisasi.
- Suka dipuji, diberi perhatian dan suka dibelai.
- Sangat jujur.
- Tidak pandai berpura-pura.
- Cepat marah.
- Perangai yang berubah-ubah.
- Tidak ego walaupun harga diri yang sangat tinggi.
- Benci apabila dikekang.
- Suka bergurau.
- Pandai membuat lelucon dan berpikir dengan logika.


Baca Selengkapnya : http://www.whooila.com/2011/04/sifat-berdasarkan-bulan-kelahiran-anda.html#ixzz1KQoGAAax

Selasa, 03 Januari 2012

The Truth About Forever (versi ICIL) Cap. 10 : Another Lies


The Truth About Forever
(Dendam Membuatmu Kesepian)


Chapter #10
ANOTHER LIES
 
Ify menatap langit-langit kamarnya hampa. Semalaman, Ify tidak bisa tidur lagi, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rio adalah seorang gay. Ify masih sulit memercayainya. Ify setengah mati berharap bahwa Rio hanya berbohong, tetapi yang Ify lihat kemarin terlalu meyakinkan. Bahkan, Rio sampai memanggil namanya dan memeluknya.

Ify terduduk lemah. Ify merasa terlalu lelah dengan semua ini, tetapi Ify tidak pernah menyesal telah menyukai Rio. Sampai sekarang pun, Ify masih menyukai Rio walaupun Rio tidak mungkin mencintainya.

Ify tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Rio. Ify tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Ify terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya.

Ify membentur-benturkan kepalanya ke lutut, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak, semua kenangannya selama bersama Rio terputar di otaknya. Ify benar-benar tidak mau percaya.

Tiba-tiba, ponsel Ify berdering. Sivia meneleponnya. Ify  kemudian cepat-cepat mengangkatnya.

"Ify? Lo, kok, nggak kuliah?" seru Sivia dari seberang. "Kenapa, Fy? Lo sakit?"

Belum sempat menjawab, Ify sudah keburu terisak.

"Fy? Lo kenapa? Ada apa?" tanya Sivia panik sementara isakan Ify semakin menjadi-jadi.

"Via...," kata Ify, dan selanjutnya kronologi kejadian semalam mengalir seperti air bah. Di ujung sana, Sivia diam membisu, tak bisa berkata-kata.

"Dia... gay?" kata Sivia lambat-lambat, tak percaya. Ify makin terisak. "Fy! Lo tunggu, ya! Gue langsung ke kost lo sekarang!"

Sivia memutuskan sambungan telepon sementara Ify kembali tersuruk di antara bantal-bantalnya.

Sivia sekarang sudah berada di kost Ify, memegang tangan Ify erat-erat. Sivia benar-benar tak habis pikir dengan cobaan yang sepertinya dialami Ify tanpa berkesudahan. Sivia pikir sudah cukup kenyataan bahwa Rio adalah seorang penderita HIV positif, sekarang ditambah kenyataan bahwa Rio menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Sivia jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.

"Ify... Maafin gue, ya," kata Sivia membuat Ify menatapnya lemah.

"Kenapa, Sivia? Emangnya kamu salah apa?" tanya Ify bingung.

"Karena kemaren gue udah bilang yang nggak-nggak. Soal takdir itu," jawab Sivia hati-hati. Ify tersenyum menatap sahabatnya itu.

"Nggak apa-apa, Sivia. Bukan salah kamu," balas Ify pelan.

Sivia menatap Ify lama. Sivia tahu kesedihan Ify hanya dengan melihatnya. Hati Ify sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.

"Terus... lo mau gimana?" tanya Sivia, kembali berhati-hati.

Ify terdiam sebentar, dia tersenyum dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.

"Aku nggak bisa ngejauhin dia, Vie. Perasaanku masih sama, bahkan setelah aku tau kalau dia itu gay. Aku nggak bisa lantas benci sama dia," ujar Ify lirih.

"Jangan maksain diri, Fy," kata Sivia. "Dia pasti ngerti."

Ify menggeleng. "Aku mau nemenin dia sampai dia pergi. Itu udah keputusanku," jawab Ify tegas. Sivia menatap Ify sedih.

"Tapi, Fy, dia bisa aja nyakitin lo lagi," katanya membuat Ify menggeleng.

"Vie, apa lagi yang tersisa dari aku, yang masih bisa buat disakiti?" Ify tersenyum getir. "Dia nggak mungkin suka sama aku. Tapi, aku nggak nyesel pernah suka sama dia. Dia... sedikit banyak udah ngasih aku pelajaran dalam hidup. Dia sangat menghargai orang lain sampai-sampai dia rela hidup sendirian, Sivia. Itu yang bikin aku nggak bisa ninggalin dia. Dia... kesepian."

Sivia menatap Ify, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Sivia ingin berteriak pada Ify agar tidak berhubungan lagi dengan Rio. Ify menghela napas melihat kekhawatiran Sivia.

"Vie, di luar dia punya penyakit HIV dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Ify.

"Tapi, kenapa harus lo, Ify?" tanya Sivia lagi membuat Ify tersenyum lembut.

"Mungkin karena ini takdir. Kamu sendiri, kan, yang bilang," jawab Ify membuat Sivia terkesiap.

Ify sudah mengambil keputusan. Ify tidak akan menjauhi Rio. Ify akan menerima Rio apa adanya walaupun itu berarti cinta Ify tidak akan terbalas. Ify akan berusaha semampunya untuk mendukung Rio.

Sivia mempererat genggamannya pada tangan Ify, mengagumi kekuatan hati sahabatnya itu. Ify juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Rio tanpa membebaninya.


 
***

Rio menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Rio melayang ke mana-mana, mulai dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Ify. Dan, sekarang, wajah sedih Ify sudah memenuhi kepalanya.

Mendadak, terdengar suara pintu yang seperti ditendang paksa, membuat Rio menoleh. Ify sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.

Rio menatapnya nanar. Cewek itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Rio benar-benar tak habis pikir. Rio menyerah pada cewek yang satu ini.

Ify menghampiri Rio, dia lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi cokelat panas pada Rio. Rio menerimanya dan mengangguk kecil, berterima kasih.

"Wah, bintangnya lagi banyak, ya?" ujar Ify, berusaha terdengar ceria, sambil melayangkan pandangannya ke arah langit yang membentang di atasnya. Rio hanya diam tak menjawabnya. Dia pura-pura sibuk menyeruput cokelat panasnya. Ify menatap Rio.

"Gimana, Rio? Udah ketemu?" tanya Ify membuat Rio menatapnya heran. "Gabriel. Udah ketemu belum?"

Rio melotot mendengar pertanyaan Ify. Rio sama sekali tak menyangka kalau Ify akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir, Ify akan jijik dengannya dan menghindar, tetapi pikirannya salah. Cewek ini ternyata benar-benar ingin menyampuri kehidupannya.

"Belum," jawab Rio setelah terdiam beberapa detik. Ify mengangguk-angguk.

"Eh, Yo, aku punya ide bagus," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Gimana kalo aku bantuin nyari di kampusku? Aku bakalan tanya-tanyain ke semua jurusan. Gimana?"

Rio hampir saja menganga. Dan dia bahkan sudah menganga, tetapi untungnya Ify sibuk menghirup cokelat panasnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Rio segera mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.

Rio tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Ify tadi membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya dia mengatakan akan membantu Rio mencari Gabriel, padahal kemarin-kemarin cewek itu bilang sayang dan sebagainya.

"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Rio kemudian, membuat Ify kembali menatapnya. Rio menatap Ify tajam. 
"Kenapa lo mau ngebantu gue?"

"Rio, dulu aku pernah bilang, kan, kalo aku mau nemenin kamu?" kata Ify lembut. "Dan, sekarang, mungkin kita udah nggak bisa bersama, tapi aku tetep mau bantu kamu. Sebagai teman. Boleh, kan?"

Rio mengalihkan pandangannya dari Ify. Tentu saja. Perasaan Ify yang kemarin memang cuma simpati, makanya sekarang Ify sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Rio tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri. Sekarang, Rio hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Rio harus meneruskan perannya.

"Yo," ujar Ify lirih tapi masih bisa didengar oleh Rio, sehingga membuat si empunya nama menoleh. "Jangan khawatirkan perasaanku. Aku pasti baik-baik aja."

Mata Rio melebar setelah mendengar perkataan Ify. Pikiran Rio ternyata salah besar. Cewek itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk terlihat tegar. Perasaan Ify untuknya ternyata tulus. Hati Rio terasa sakit bila mengingat hal ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada cewek itu, tetapi Rio tak mau mengambil risiko. Menyelamatkan Ify dari masa-masa suram bersamanya adalah tugas utamanya sekarang.

"Boleh aja," kata Rio kemudian sambil tersenyum pada Ify. "Thanks, ya. Lo udah baik banget sama gue selama ini."

Ify balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Rio tidak menahan diri, dia pasti sudah menangis lagi di hadapan Ify. Rio mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat cewek itu.

"Yo, karena sekarang kita temen, kamu bisa, kan, cerita sama aku?" pinta Ify ceria. Ify tidak mau terlihat sedih di depan Rio.

"Hm... cerita apa, ya?" kata Rio. "Gimana kalo... si Kancil?"

Ify tertawa lepas mendengar gurauan Rio, sementara dalam hatinya dia sedih karena baru kali ini Rio mau bercanda dengannya. Rio sendiri lebih memilih untuk diam dan menolak untuk melirik Ify.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Ify tiba-tiba bergidik.

"Kamu nggak kedinginan, Yo?" tanya Ify.

"Nggak," jawab Rio pendek.

"Aku... kedinginan, nih. Aku turun duluan, ya?" ujar Ify sambil bangkit dan membersihkan bagian bawah dari terusannya yang kotor oleh debu. Ify bergerak ke pintu.

"Ify," panggil Rio membuat Ify menoleh. Rio mengangkat mug plastik yang dipegangnya. "Ini, makasih, ya."

Ify mengangguk, meneruskan berjalan menuju pintu. Sedih juga, Rio tidak lagi memanggilnya dengan nama kecil seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.

"Rio," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku. Kalo aku bisa, aku pasti bantu kamu."

"Oke. Thanks, ya," kata Rio, dan Ify menghilang di balik pintu.

Rio menatap pintu itu lama dan setelah yakin kalau Ify sudah tidak ada di sana, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dialaminya, inilah yang paling menyakitkan. 
Sebelumnya, Rio sudah pasrah menerima penyakitnya dan sudah siap mati kapan pun juga, tetapi semenjak mengenal Ify, Rio menjadi sangat marah pada Tuhan.

"Kenapa...," gumam Toushiro geram. Mat kembali terpancang pada langit malam yang bertaburan bintang. 
"Kenapa harus dipertemukan sama dia kalau pada akhirnya mesti dipisahin lagi?"

Mug di tangan Rio sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi langit semen yang dingin.

***

Ify berjalan gontai menuju kamarnya. Air matanya pun sudah menganak sungai di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu kamarnya, lalu merosot ke lantai.

Ternyata, perasaan Ify terhadap Rio masih sama besarnya seperti sebelum Rio mengatakan bahwa dia gay. Ify masih belum bisa sepenuhnya merelakan Rio. Ify masih saja berharap Rio akan berkata bahwa dia bohong soal perkataannya itu.

Tiba-tiba, Ify tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya terus-terusan memikirkan itu. Ify harus mengesampingkan perasaannya demi membantu Rio. Rio membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Ify. Ify akan menjadi lebih kuat dan tegar untuk menolong Rio.

Ify menghapus air matanya, dan tanpa sengaja melirik komputernya, ia mendapat ide, lalu mulai mengetik.

***

Rio menyalakan korek api, dia membakar rokok yang terselip di mulutnya. Setelah itu dia menarik napas, dan menghembuskannya. Hari ini, Rio sedang mencari Gabriel di Universitas Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak ada di sana.

Rio menghela napas, membuka layar handycam-nya. Di dalam handycam itu, terdapat kaset yang selama ini selalu dihindari Rio, yaitu kaset dengan judul "Ancol Beach 2004". Rio menggigit bibir bagian bawahnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.

Mata Rio sampai terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahang Rio mengeras. Mungkin memang seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Rio membuangnya.

Film ini terlalu mengingatkan Rio pada semua hal yang dulu pernah dimilikinya, namun sekarang telah hilang, terampas secara paksa darinya karena penyakit mengerikan yang diidapnya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya. Semua kebahagiaannya.

Setetes air jatuh ke layar handycam itu. Bukan hujan, melainkan itu hanyalah tetes air yang berasal dari mata Rio.

***

Ify mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Dan barusan di dekat kost-nya, dia juga hampir menabrak Ozy yang baru pulang dari warung.
Ify mematikan mesin motornya dan mendorongnya masuk. Dia membuka helm. Sementara itu, Ozy menatap wajah Ify yang kusut.

"Lo kenapa, Fy?" tanyanya bingung.

"Nggak apa-apa, kok," jawab Ify sambil naik tangga menuju ke lantai dua dengan gontai.

Tadi di kampus, dia sudah mencari orang yang sedang dicari Rio selama ini, Gabriel. Namun, tak ada satu pun yang bernama Gabriel Stevent, juga tak ada yang mengenal Gabriel. Ify merasa kalau dia tak akan menemukan orang itu kalau caranya seperti ini.

Ify menghela napas lagi. Ify akan melakukan apa pun untuk menolong Rio, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenisnya atau siapa pun. Ify mengangguk semangat, tak mau terlihat sedih di hadapan Rio. Ketika sampai di lantai dua, Ify terpaku melihat seorang cewek cantikdengan rambut yang dibiarkan terurai di depan kamar Rio.

Cewek itu menoleh dengan wajah cemas, namun kemudian dia tersenyum pada Ify. Rukia balas senyumannya, tetapi masih terlihat heran.

"Hai," sapa cewek itu ramah. "Ng... Kamu... kost di sini?"

"Iya," jawab Ify pendek. Ekspresi cewek itu berubah cerah. Ify mengamati cewek yang cantik dan semampai itu.

"Kamu... kenal sama Vano, Eh maksudnya Rio?" tanya cewek itu lagi.

"Kenal. Itu kamar dia," jawab Ify lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap cewek ini tidak bagus.

"Dia lagi keluar, ya?" tanya cewek itu lagi.

"Mungkin," jawab Ify. "Kamu... siapa, ya?"

Baru ketika cewek itu akan menjawab, terdengar suara langkah orang yang sedang menaiki tangga. Rio muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya, namun kemudian terpaku menatap sosok cewek yang berdiri di depan kamarnya.

Rio serasa tidak bisa melakukan apa pun, baik bernapas maupun bergerak, saat melihat cewek manis itu. Cewek itu membekap mulut, lalu berlari ke arah Rio dan memeluknya erat-erat. Rio terlalu kaget sampai-sampai tidak sempat menghindar.

"Vano" sahut cewek itu, air matanya mulai mengalir. "Aku pikir, aku nggak bakal bisa ketemu lagi sama kamu lagi!"

"Shil...la...?" gumam Rio, masih terlalu terkejut. Cewek yang ternyata memiliki nama Ashilla Zahrantiara itu sekarang sudah mempererat pelukannya.

"Rio, maafin aku. Maafin aku... Aku janji nggak bakal ninggalin kamu lagi..." Shilla sudah terisak. "Aku nyesel udah ninggalin kamu. Maafin aku, Vano..."

Rio merasakan seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tak menyangka Shilla akan menyusulnya dan meminta maaf. Rio berusaha mengambil napas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Ify yang sedang menatapnya marah.

Kedua tangan Ify gemetar di samping pahanya. Ify sangat marah sampai-sampai ingin meninju Rio di tempat, tetapi tak bisa dilakukannya. Entah mengapa, Ify hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Mario Stevano dan mungkin pacarnya.

Rio menatap Ify, berpikir keras sementara Shilla masih terus terisak sambil memeluknya erat. Rio akhirnya balas memeluk Shilla, membuat Ify memalingkan pandangannya.

Rio berusaha untuk tidak melihat bagaimana Ify menangis. Rio juga menahan segala keinginannya untuk menahan Ify saat dia berderap turun. Yang sekarang Rio pikirkan hanyalah, bagaimana Ify bisa menjauhinya, apa pun caranya.

"Apa kabar, Yo?" tanya Shilla setelah didesak Rio untuk tidak memanggilnya dengan sebutan "Vano".

Rio mengisap rokoknya, lalu menghembuskannya. Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Shilla menatap punggung Rio yang tampak kesepian.

"Begini aja," jawab Rio pendek. "Jadi, tau dari mana alamat ini?"

"Aku... nelpon Alvin, terus aku ancam dia. Akhirnya, dia ngasih tau alamat kamu," kata Shilla.
Rio mendengus. Tentu saja, Alvin. Hanya Alvin satu-satunya yang tahu di mana Rio tinggal sekarang.

"Terus... ngapain ke sini?" tanya Rio lagi.

"Aku... Maafin aku, Rio," ujar Shilla pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku nggak pernah berpikir kalo aku bakal sangat kehilangan kamu."

Rio hanya diam, tak berkomentar apa pun. Dia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.

"Rio, aku bener-bener bodoh udah ninggalin kamu," ujar Shilla lagi. "Sekarang, aku sadar kalo aku..."

"Shilla, kamu udah bener," potong Rio membuat Shilla menatapnya. "Kamu dulu udah membuat keputusan yang benar, ninggalin aku. Jangan mikir macem-macem lagi. Aku udah nggak apa, kok."

"Tapi, Yo, aku masih say..."

"Shill, kalo emang kamu masih sayang sama aku, tolong bantu aku. Kamu ngerti, kan?" potong Rio lagi. Rio kemudian duduk di samping Shilla.

"Rio..."

"Shilla, aku udah maafin kamu," kata Rio. "Dulu mungkin aku nggak bisa terima kenapa kamu ninggalin aku di saat aku merasa sangat membutuhkan kamu. Tapi, sekarang aku udah merelakan kamu."

Shilla menatap Rio yang menolak untuk menatapnya balik. Air mata Shilla sudah jatuh.

"Yo, kamu beneran mau maafin aku?" tanya Shilla. Rio mengangguk, menepuk kepala Shilla, membuat cewek itu langsung terisak.

"Jangan nagis, dong," kata Rio sambil mengacak-acak rambut Shilla. "Thanks, ya, kamu udah dateng ke sini."

Shilla mengangguk di sela-sela tangisnya. Shilla benar-benar menyesal mengapa dulu dia meninggalkan Rio. Shilla sampai sekarang masih tak mengerti, kenapa Tuhan memilih Rio untuk menerima penyakit ini, penyakit yang telah merenggut semua kebahagiaannya.

"Yo...," kata Shilla sambil menatap Rio. "Jangan cari dia lagi."

Rio menatap Shilla sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Nggak bisa, Shil. Aku harus cari dia sampe ketemu. Setelah itu, aku nggak peduli lagi sama apa yang bakal terjadi sama aku."

"Rio, kamu harus peduli! Kamu masih punya ibumu, kamu masih punya aku! Jangan cari Gabriel lagi, Yoo, aku mohon!" seru Shilla sambil menarik tangan Rio.

"Shil, sampai sekarang, dia yang membuat aku tetap hidup. Kebencianku terhadap dia juga yang udah membuat aku bertahan, tetap hidup untuk menemukan dia. Nggak ada siapa pun yang bisa menghentikan aku," ujar Rio tegas. "Karena dia, aku kena penyakit sialan ini. Kamu ngerti, kan, gimana perasaanku?"

Shilla menatap Rio yang tampak emosi.

"Yo, janji sama aku, jangan ngelakuin hal-hal bodoh. Janji, Yo," desak Shilla cemas.

"Shill, kalo soal yang satu ini, aku nggak bisa menjanjikan apa pun," balas Rio keras kepala. "Thanks karena udah mikirin aku."

Shilla terisak lagi, memikirkan Rio yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Alvin memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tak menyangka kalau Rio akan menjadi seperti ini. Benar-benar bukan Rio yang dulu pernah dikenalnya.

"Shilla," kata Rio kemudian. "Jangan pernah mikirin aku lagi. Kamu juga harus nerusin hidup kamu. Kamu udah punya cowok, kan?"

Shilla melirik Rio marah membuat Rio nyengir.

"Yah, masa, sih, kamu jomblo terus selama lima tahun," kata Rio lagi.

"Tau nggak, Rio. Hatiku sakit banget, lho, denger kamu ngomong begitu," jawab Shilla membuat cengiran Rio lenyap. "Denger kamu bisa nanya-nanya yang begitu sama aku seolah kamu udah bener-bener ngelupain aku, hatiku sakit banget."

Rio terdiam sesaat. "Sori," kata Rio membuat Shilla menatapnya.

"Rio," kata Shilla. "Kamu suka... cewek itu, ya?"

Rio segera menoleh pada Shilla yang tampak serius. Tahu siapa cewek yang dimaksud, Rio segera mengalihkan pandangannya. Sepertinya percuma saja jika dia berusaha berbohong. Rio mengangguk, pandangannya menerawang langit yang sudah mulai petang. Shilla menghela napas.

"Udah aku kira," kata Shilla. "Apa dia... udah tau, ng... penyakit kamu?"

Rio mengangguk lagi. "Dia udah tau dan dia bisa terima," jawab Rio membuat Shilla mengangguk-angguk.

"Aku kagum sama dia," ujar Shilla, matanya jauh menerawang. "Aku dulu... bodoh, ya?"

"Shilla," tegur Rio membuat Shilla tersenyum.

"Rio, aku bener-bener minta maaf," kata Shilla lagi. "Aku tau ini mungkin udah sangat terlambat, tapi kapan pun kamu ngebutuhin aku, aku nggak akan lari lagi."

"Thanks." Rio tersenyum pada Shilla.

Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.

***

Ify melangkahkan kakinya ke atas tangga, berharap setengah mati kalau Rio tidak ada. Mata Ify sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di kost Shilla tadi, dan Rio adalah makhluk terakhir yang ingin dilihatnya.

Baru ketika Ify muncul di tangga, Rio baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Ify menatap Rio marah, dan berjalan menuju kamarnya. Rio menatap Ify yang tampak enggan menatapnya balik.

"Jadi, yang tadi itu yang namanya Gabriel, ya?" sindir Ify, tak tahan untuk tidak bertanya. Rio tampak tak berekspresi. Dia bersandar di dinding sambil menatap Ify malas.

"Namanya Ashilla Zahrantiara." Jawaban Rio membuat Ify melotot. Ify refleks mengambil sepatu dan melempar Rio dengan sepatu itu. Rio bahkan tidak mengelak. Air mata Ify sekarang sudah jatuh lagi.

"Kamu kejam! Aku bahkan nggak mau tau siapa namanya!" sahut Ify emosi. Rio hanya menatapnya.

Rio mengambil sepatu yang tadi dilempar Ify, dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia menghela napas, berusaha menatap ke arah lain selain Ify yang sedang menatapnya marah.

"Kenapa, sih, kamu bohong terus?" tanya Ify lagi, hampir menjerit. "Kenapa kamu harus sekejam ini sama aku? Kenapa, Rio?"

"Sori," kata Rio membuat Ify menatapnya tajam. "Gue nggak bermaksud nyakitin..."

"Nggak bermaksud?" ulang Ify tak percaya. "Nggak bermaksud kamu bilang? Kamu pakai segala cara buat ngejauhin aku dari kamu!"

Rio terdiam, sementara Ify sudah memukul-mukulinya sambil terisak.

"Kenapa kamu harus bilang kalau kamu gay? Kenapa kamu seneng banget nyakitin aku?" seru Ify lagi. "Kalo kamu emang segitu nggak sukanya sama aku, kenapa nggak bilang terus terang?"

"Gue nggak suka sama lo!" sahut Rio membuat Ify terdiam dan berhenti memukulinya. Rio menatapnya serius. 
"Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue nggak suka sama lo. Gue udah kasih peringatan dari awal, kan? Tapi, lo tetep mau tau urusan gue. Gue nggak tau lagi gimana caranya supaya lo menjauh dari gue, dan terus terang aja, gue nggak tega ngomong langsung kalo gue nggak suka sama cewek yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain kayak lo!"

Rio tersengal setelah mengatakan semua itu pada Ify. Ify menatap Rio tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir makin deras.

"Rio," ujar Ify kemudian. "Kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?"

Rio terdiam menatap Ify yang sudah gemetar.

"Maaf, Ify. Tapi, Shilla adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampai sekarang, cuma dia yang ada di hati gue. Nggak akan ada yang bisa menggantikan dia," kata Rio membuat Ify tersenyum miris.

"Rio... Kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku?" kata Ify getir, membuat Rio terdiam. "Kenapa, Mario... Kenapa kamu harus datang ke sini? Kenapa? Kenapa aku bisa kenal sama kamu?"

Ify berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Rio hanya bisa menatapnya tanpa mampu berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Rio lakukan adalah pergi secepatnya dari kost ini.



-B-E-R-S-A-M-B-U-N-G-