Jumat, 04 November 2011

Kesederhanaan Hujan dan Pengagumnya (Cerpen)


Kesederhanaan Hujan Dan Pengagumnya


Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Karena mencintaimu adalah hal teristimewa bagiku.

***

Hujan masih tetap berhasil membuat segala ingatan tentangnya kembali berkelebat dalam fikiranku. Bayangannya yang ku rasa takkan pernah lekang ditelan zaman. Indahnya yang sampai era kapan pun tak akan tertandingi. Segalanya. Segalanya tentang Pangeran Pengagum Hujan-ku.

Maka hujan sore ini pun sama halnya dengan hujan yang sudah-sudah. Tiap rinainya memutar kembali memori tentang kisah sederhana yang sampai saat ini menjadi kisah favoritku. Kisah yang disusun dari segala yang amat sederhana. Kisah klasik tentang aku, hujan dan dia. Dimana dialah yang menjadi bagian yang terkrusial dari kisah penuh kesederhanaan ini.

***


Apa yang terjadi, sudah diatur oleh Tuhan, jauh sebelum kita terlahir ke bumi ini.

*

Pemuda itu tengah kerepotan dengan barang-barang bawaannya. Setumpuk buku tebal yang jumlahnya cukup banyak, penggaris kayu berbentuk busur, dan sebuah toples kaca yang diletakan di atas buku-buku tebal itu tentu saja membuatnya kewalahan. Tapi dia tetap berjalan.

Aku menatapinya dengan jengah. Tersenyum saat pemuda itu menghentikan langkahnya tepat di depanku. Dia mendesah lalu memiringkan kepalanya. Memicingkan mata bulatnya, seperti mencari sesuatu. Maka aku terkesiap saat menyadari kedua manik mataku baru saja menangkap kilat tajam yang terpancar dari dua bola matanya.

"Aku mau ke laboratorium biologi. Tapi hujan. Jadi, tolong payungin aku, boleh?" pintanya lantas mengedikkan kepala untuk menunjuk payung yang digamit oleh lengan kirinya.

Aku mengangguk. Mengiyakan untuk menolongnya. Kasihan juga. Aku meraih payung berwarna biru tua tersebut. Membukanya. Sejurus kemudian mengangkat dan meletakannya tepat di atas kepalanya.

Pemuda -yang ku fikir cukup- tampan itu pun menoleh ke arahku. Tersenyum dan memperlihatkan gigi gingsulnya yang menggemaskan. Lantas kami mulai berjalan beriringan. Melaju menerobos guyuran hujan yang lumayan deras. Membelah jalan menuju laboraturium yang terletak di seberang lapangan basket.

Kami membuat langkah yang cukup besar. Sementara tanpa sadar, dalam tiap langkah yang ku cipta, aku terus memaku tatapanku pada wajah pemuda yang bahkan dari samping pun masih terlihat tampan. Rahangnya yang bergerak sejurus dengan hentakan kakinya yang membuat pemuda itu menjadi terlihat lucu. Percikan air yang menggenang sedikit menciprat bagian belakang tubuhku dan tetesan air yang berada di ujung-ujung payung mendarat tepat di puncak kepalaku, sama sekali tak membuatku terganggu untuk terus menatapi wajahnya.

Maka tanpa sadar, kami kini telah menginjakkan kaki tepat di lantai depan ruang laboratorium. Aku menyimpan payung tersebut. Sementara pemuda itu membuka pintu lab dengan cepat. Lantas tergesa masuk dan menyimpan barang bawaannya di atas meja panjang ruangan.

Setelah beberapa menit, dia keluar dan menghampiriku. Tersenyum lebar dengan mata bulat berbinar. Sejenak membuatku terpana pada wajah ramahnya. Lantas aku terkesiap saat tangannya menepuk pundakku. "Makasih ya!" ujarnya.

Aku mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum.

"Coba aja aku tadi ga bawa buku-buku itu, aku ga perlu minta tolong kamu buat pegangin payung aku. Aku bisa hujan-hujanan. Aku suka hujan. Hujan kan baik." celotehnya.

Baik? Jelas-jelas hujan mencegahnya untuk menuju lab ini. Dia masih tetap mengatakan bahwa hujan baik? Dasar aneh. Aku berdecak.

Maka aku hanya bisa mengerutkan kening. Memicingkan mata dan menatapnya heran. Yang ditatap malah tersenyum menyeringai. Sambil mendesah pelan, ia kembali berujar. "Hujan itu baik. Buktinya dia mempertemukan kita."

Aku terperanjat mendengarnya. Kembali terpana pada keindahan bola matanya yang berwarna coklat. Tertegun menatapi tiap lekuk jengkal pahatan sempurna wajahnya. Pemuda ini sangat berbeda.

"Aku Rio. Ayo!" Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Menariknya tiba-tiba. Membuatku tak bisa menolak untuk mengekorinya. Dia membawaku ke tengah lapangan basket. Mengajakku untuk bersuka cita menari bersama jutaan berkah yang dihadiahkan Tuhan. Memintaku untuk menikmati tiap tetes rinai hujan yang mendarat di atas tiap jengkal tubuhku. Menunjukkan padaku betapa hujan memang ciptaan-Nya yang sangat menyenangkan. Maka aku tak bisa menahan perasaan yang membuncah di hatiku. Lalu aku pun melompat. Berlari dan ikut berparade bersama sang hujan.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa tiap rinai hujan yang mendarat di tubuhku adalah sebuah kebahagiaan yang tak terperikan. Dan pemuda tampan bermata bulat yang jemarinya masih terus bertautan dengan jemariku inilah yang menciptakan kebahagiaan itu. Pemuda aneh namun menyenangkan. Pemuda ramah pengagum hujan. Maka setelah itu, ku rafalkan terus namanya dalam benak. R-I-O.

Hujan pertamaku bersamanya, adalah hujan terindah.

***


Rasa sukaku sangat sederhana. Layaknya aku menyukai hujan.

*

Aku memejamkan kedua mataku, saat perlahan gerimis mulai membisiki sore. Lantas aku tersenyum kala aku menengadahkan telapak tanganku dan membiarkan buliran rahmat Tuhan itu mendarat di atasnya. Kegiatan tersebut menyenangkan bagiku. Ya, setelah dua hari yang lalu seorang pemuda tampan bermata bulat mengenalkanku pada hujan. Pada kesederhanaan hujan. Dan selepasnya, aku mulai menyukai hujan.

"Lagi menikmati hujan ya?" seseorang -yang aku yakin sudah berada di sampingku- bertanya dengan suara baritone yang khas. Dan aku mengenal jelas suara itu.

"Aku lagi curhat sama hujan. Aku cerita kalau aku sukaaaa banget sama hujan." jelasku tanpa membuka mata.

"Terus, apa kamu suka sama aku?" tanyanya ringan.

Maka aku mengerjap seketika. Membuka mata lantas menoleh padanya yang tengah duduk di samping kiriku. Aku terperanjat, mendapati dia tengah menatapiku. Terkagum saat menangkap betapa pemuda itu terlihat keren dengan buliran air hujan yang bergelayut di ujung-ujung rambutnya. Maka aku terpesona padanya. Terbuai akan ketampanan sederhana yang terpatri pada wajahnya. Takjub pada dua bola matanya yang selalu menciptakan kilauan cahaya yang sangat indah. Maka tanpa sadar, aku berujar.

"Aku suka sama kamu. Karena kamu yang udah buat aku suka sama hujan."

Dan sampai ucapan penuh kejujuranku pun usai, kami masih terus saling bertatapan. Saling beradu pandangan. Tanpa tahu, sebuah rasa asing baru saja ditiupkan oleh Sang Amor tepat di hatiku.

Hujan berikutnya, adalah hujan penuh kebahagiaan.

***

Aku ingin kamu percaya, bahwa aku mampu menjaga hatimu.

*

Siang ini hujan lagi. Sebenarnya hanya gerimis. Namun apa pun itu, hujan tetaplah menyenangkan. Dan berdiri di depan pintu jati pun menjadi kegiatan yang menyenangkan, seperti saat ini.

"Masuk Fy!" suara pemuda itu terdengar dari dalam lab yang berada di hadapanku. Rio memintaku untuk menemuinya saat jam istirahat. Dan inilah waktunya. Aku melangkah maju mendekati pintu. Sampai akhirnya masuk ke dalam ruangan yang menjadi ruangan favoritnya.

Aku mengedarkan pandangan. Mencari dimana keberadaan pemuda yang -entah mengapa- selalu membuat hatiku buncah oleh perasaan asing yang sebelumnya tak pernah menghinggapi hatiku. Dan dia tak ada. Kemana pula dia? Harusnya dia ada disini. Bukannya menghilang seperti ini. Dasar aneh! Aku berdecak.

Pandanganku pun tertuju pada sebuah benda yang berada di atas meja yang terletak di dekat jendela. Sebuah toples kaca dengan tutup berwarna merah. Toples yang menjadi salah satu dari bawaannya yang membuatnya kerepotan tempo lalu. Entah apa isi toples tersebut. Aku tak tahu. Yang jelas, toples itu seakan melambai-lambai memintaku untuk menghampirinya. Dan setelah mendesah pelan, aku pun melangkah.

Badanku sedikit membungkuk. Mengambil posisi untuk memperhatikan dengan seksama apa yang berada dalam toples tersebut. Seekor ulat kecil berwarna hijau tengah menggigiti selembar daun.

Aku masih terus memperhatikan sang ulat, sampai aku tak menyadari, pemuda yang ku cari telah berdiri di sampingku.

"Kamu ambil ya ulat itu!" ujarnya.

Dan aku terkesiap seketika. Mendengar suara baritone yang khas itu kembali menggelitik lembut gendang telingaku. Aku mendesah. Kembali berdiri tegak. Lantas menoleh ke arahnya. Ya Tuhan. Dia sangat tampan dengan lengkungan menawan yang menghiasi wajahnya. Dia mempesona dengan mata bulatnya yang bercahaya. Aku menyukainya. Hatiku sangat menyukainya. Dan aku hanya bisa menahan nafas saat tanganya meraih tanganku, dan tangannya yang lain meraih toples kaca tadi lantas menyimpannya di tanganku.

Aku mengerenyit tak mengerti. Apa maksudnya ini? Dia memberikan toples ini beserta isinya? Kah?

"Ulat ini untuk kamu." Rio mengambil jeda sejenak. "Aku mau kamu jagain ulat ini sampai nanti dia jadi kupu-kupu. Aku percaya kamu bisa menjaganya dengan baik."

Maka perasaan asing itu pulalah yang kini berkuasa. Mengambil alih kendali sang logika. Maka tanpa sadar, ku letakkan jemariku untuk menyentuh pipi pahatan sempurna miliknya. Lalu masuk menjelajahi cahaya indah di mata bulatnya.

"Dan apakah kamu juga mempercayaiku untuk menjaga hatimu?" tanyaku dengan nada penuh harap yang terdengar menjadi sebuah tuntutan.

Dan Rio tak bersuara. Dia hanya tersenyum. Lantas meraih kepalaku untuk didorongnya agar tenggelam pada dadanya yang lapang. Dan setelah ia mengacak rambutku pelan, ia mendekapku hangat. Membiarkan aku terhanyut dalam jengkal kelembutan yang tercipta dari dekapannya.

Maka perasaan asing itu pun kembali membuncah saat tiap detak jantungnya seakan mengetuk lembut sukmaku. Dan aku tersipu saat menyadari bahwa sang Ulat tengah menyaksikan adegan romantis antara aku dan dia.

Hujan selanjutnya, adalah hujan terhangat.

***

Aku tak takut pada hantu. Aku tak takut pada kematian. Yang aku takut adalah kepergianmu.

*

"Kamu sakit?" tanyaku dengan nada khawatir saat mendapati Rio baru saja meminum beberapa pil obat.

"Aku baik-baik aja!" ujarnya santai seraya memamerkan senyum khasnya seperti biasa.

"Obat-obat itu?" tanyaku sarkatis.

"Hanya kanker." ujarnya ringan. Tanpa ada beban sedikit pun.

Apa? Kanker? Dia bilang hanya? Apa dia sudah gila? Itu penyakit yang sungguh berbahaya. Lalu Rio mengatakan hanya. Aku menggelengkan kepala.

Maka seketika hatiku mencelos. Seakan sebuah samurai panjang nan tajam baru saja menusuk tepat di ulu hatiku. Lantas mencincangnya sampai halus. Menyesakkan.

Seluruh tubuhku seakan melemas tiba-tiba. Ketika perasaan takut menyelimuti hatiku. Aku takut kehilangannya. Kehilangan cahaya indah yang selalu tertera di bola matanya. Kehilangan lengkung senyum mempesonanya. Kehilangan tawa riangnya saat berjingkrak-jingkrak di bawah rintikan hujan. Kehilangan keramahan sikapnya yang menyenangkan. Dan kehilangan seluruh kesederhanaan yang ia miliki seperti Sang Hujan. Ya, aku tak mau. Sungguh tak mau kehilangan Pangeran Pengagum Hujanku.

Maka dia merengkuh tubuhku. Membiarkan aku terjatuh dalam pelukan hangatnya. Dan dalam posisi inilah aku dapat dengan leluasa menikmati tiap dentuman beraturan dari perasaan asing itu. Mendengarkan jantungnya yang berdetak seirama dengan ketukan tetesan hujan di jendela. Lantas tanpa sadar, aku melingkarkan tanganku untuk mendekap tubuhnya. Berharap selamanya tak akan terlepas. Meski mungkin, harapan tersebut takkan kuat bertahan. Secepatnya terabaikan lantas teronggok mati. Mengenaskan.

Kemudian pemuda yang masih memeluk hangat tubuhku ini pun mendesah tak kentara. Lalu sejurus kemudian membisikkan sesuatu padaku. Sesuatu yang ku fikir akan memberikan aku kekuatan untuk tetap berharap. Walau berharap, hanya dalam lelap.

"Aku akan baik-baik saja. Itu janji Tuhan."

Hujan lainnya, adalah hujan penuh harapan.

***

Jangan memintaku untuk berhenti mencintai. Karena Tuhan pun tak pernah melakukan itu.

*

Hujan sore ini menelisik relung jiwaku. Membisiki sang hati agar segera melakukan eksekusi sebelum waktu menyerbu. Waktu yang tak pernah dapat dihentikan walau barang sedetik. Maka secepatnya, aku harus segera melakukannya. Melakukan eksekusi terpenting dalam sejarah kehidupanku. Tentu saja. Ini yang pertama. Dan Tuhan menciptakan ini untuknya. Untuk Pangeran pengagum Hujan-ku.

Dan dengan disaksikan oleh rinai hujan yang gemericiknya seakan tengah bersorak mendukungku, aku melakukannya. Ini dia saatnya. Saat dimana sebuah pengakuan yang berisi ketulusan akan terlahir. Saat aku yakin, bahwa buncahan perasaan asing itu akan merajai akal sehatku. Saat jantungku seakan berdentum hebat lantas memukul-mukul perutku, meminta untuk keluar. Saat dua bola matanya menghipnotisku untuk terus menjelajahi kilauan cahaya indah. Saat aku duduk bersamanya di ruang yang menyeruakkan aroma obat-obatan. Saat ini.

Aku menggigiti bibirku. Memainkan ujung-ujung rambut ikalku. Lantas mendesah tak kentara. Hei, kenapa aku segugup ini? Bukankah tadi aku begitu antusias untuk melakukannya? Lalu sekarang aku takut? Nyaliku ciut saat melihat betapa pemuda di hadapanku terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Apalagi dengan kemeja putih bergaris yang ia kenakan.

Lantas, aku akan kalah dan mengurungkan niatku untuk mengungkapkannya? Tidak. Aku sudah menyusun rencana ini jauh-jauh hari. Dan aku akan melempem hanya dengan ketampanannya? Memalukan.

Aku menutup mata. Menghirup udara untuk memenuhi tiap rongga pernafasanku. Mengumpulkan jutaan amunisi untuk membangun tembok keberanian. Dan saat mataku tak lagi terpejam, aku melihat lengkungan senyumnya yang masih jauh lebih indah dari lengkung bulan sabit. Senyuman itu pun justru adalah pelecut semangatku. Dan dengan semangat, keberanianku mengembang kembali.

Maka setelah helaan nafas yang teramat pelan, aku memulai segalanya.

"Aku mencintaimu Rio." kataku seraya menatapi bulatan matanya.

Rio terlihat sangat terkejut. Mata bulatnya membelalak. Ia langsung bangkit dari duduknya. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan berdecak.

"Kenapa?" tanyanya retoris.

Hatiku terperanjat saat pertanyaan yang terdengar seperti sebuah penolakan itu terlontar. Aku ikut berdiri. Menatapnya nanar. Lantas pelan berkata "aku ga tau" seraya menggelengkan kepala tak kalah pelan. Kemudian menghela nafas dan berkata dengan suara yang lebih nyaring. "Aku mencintaimu, seperti hujan mencintai alam. Sesederhana itu."

"Waktuku untuk berada di dunia ini tak lama lagi. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan hujan dan juga kamu, Ify! Dan kamu tahu apa artinya? Artinya, aku tidak akan bisa membalas cinta kamu." ujarnya lalu mengacak rambutnya.

Ah, aku benci sikapnya yang menunjukkan bahwa dia tak selapang apa yang ku bayangkan. Aku benci argumennya yang ia ucapkan dengan nada pasrah yang terdengar lemah. Aku benci dia yang putus asa. Bukankah saat itu dia mengatakan baik-baik saja? Jadi, sekarang pun dia harusnya tetap baik-baik saja. Bukan berkata seperti tadi. Perkataan yang tersirat seperti pengutukkan terhadap takdir Tuhan.

"Lalu memangnya, aku akan meminta kamu membalas cintaku? Tidak. Bagiku, balasan cinta dari kamu adalah sebuah harapan. Bukanlah permintaan. Dan aku akan terus berharap sampai Tuhan tak mengizinkanku untuk berharap, meski mata tengah terlelap."

Rio menunduk. Menyesali kebodohannya. Ya, aku berharap seperti itu.

"Maaf Ify! Maaf untuk cinta kamu!" ujarnya seraya mengelus lembut pipiku.

"Dan permintaanku hanya satu, biarkanlah aku tetap mencintaimu. Menjaga hati ini untuk tetap mencintaimu. Sampai Tuhan melarangnya nanti!"

Aku menggenggam tangannya yang masih menari di pipiku. Saling menautkan jemari kami dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya, menghamburlah aku untuk memeluk tubuhnya. Pertanda, cinta ini terlalu besar untuk ia atau siapa pun cegah -kecuali Tuhan-. Dan aku memeluknya erat. Ini karena aku benar-benar tak pernah mau kehilangannya. Juga karena kehangatan pelukannya selalu membuat perasaan asing itu semakin mengembang tak terkendali.

Dan Rio juga membalas pelukanku lantas membelai puncak kepalaku. Entah apa maknanya. Yang pasti, dalam setiap belaiannya, aku mendengar dia menggumamkan sesuatu.

"Aku juga mencintaimu. Maka jangan berhenti mencintaiku, sebelum Tuhan menjemputku."

Hujan lagi. Itulah hujan penuh cinta dan kasih sayang.

***

Tuhan menyayangiku. Dia mengizinkanku untuk mengukir namaku di lembar-lembar terakhir bab jalan hidupmu.

*

Hujan selalu menjadi saksi betapa cinta yang ku punya untuk Pangeran Pengagum hujan itu sangatlah sederhana. Ya, memang seharusnya seperti itu. Aku mencintainya tanpa meminta balasan. Catat. Tanpa meminta. Tuhan melarangku untuk memintanya membalas cintaku. Tapi Tuhan berjanji, bahwa aku masih bisa berharap. Dan sebenarnya, menyimpan harap itu jauh lebih terhormat daripada meminta. Maka dalam tiap helaan nafas adalah beribu pengharapanku.

Apakah aku tersiksa dengan cara mencintai yang mungkin akan membuat banyak orang frustasi? Sungguh tidak. Tahukah kalian, mencintai dengan cara ini tidak membebaniku. Tentu saja. Karena aku tak perlu memikirkan bagaimana agar cintaku terbalas. Aku tak harus bersusah payah memaksanya membalas cintaku. Aku percaya, Tuhan yang akan membalasnya dengan cinta agung-Nya.

Kanker yang diderita Rio sudah mencapai stadium akhir. Hal itu mengharuskan dia untuk tinggal di rumah sakit dan menjalani perawatan. Pemuda jenius itu terpaksa meninggalkan dunia luarnya. Sekolahnya. Laboratorium biologi favoritnya. Tapi Rio hebat. Bahkan dalam keadaannya yang sudah sangat menyedihkan ini, dia tak sedikit pun berubah. Ya, dia tetap Rio. Pemuda bermata indah dengan jiwa yang kuat. Pemuda empunya senyuman indah yang tak sedikitpun menyerah. Pemuda pengagum hujan yang menyenangkan. Maka meski ia berada di ruangan serba putih dengan aroma obat-obatan yang -menurutku- tidak mengenakkan, ia masih tetap bisa menikmati hujan yang setiap hari tak pernah absen menyerbu bumi. Ya, hujan yang sangat ia sukai.

Setiap hari, selepas pulang sekolah aku selalu mengunjungi rumah barunya -rumah sakit-. Berada dalam tiap detik kehidupannya adalah harapanku. Kalau saja, aku tak diwajibkan untuk berangkat sekolah, pasti dari pagi hingga larut malam aku akan melewati detik-detik berharga itu bersamanya. Ya, detik yang terus berjalan itu layaknya butiran mutiara yang sayang untuk dilewatkan. Maka sebisa mungkin, mutiara itu harus aku dapatkan.

Dan di minggu pagi berhujan ini, aku berhasil mendapatkan mutiara yang paling utama. Mutiara yang bahkan lebih indah dari kerlap-kerlip bintang malam hari. Mutiara itu aku dapatkan, saat ia menghembus nafas terakhirnya di dunia fana.

"Aku mau keluar. Aku mau main sama hujan Ify. Tolong temani aku!" pintanya.

Aku terperanjat. Yang benar saja. Apa dia sudah kehilangan warasnya? Dengan tubuh yang ringkih, wajah yang pucat, dan keadaan yang amat menyedihkan ini, dia mau hujan-hujanan? Dimana otak jeniusnya? Hujan bisa memperburuk kesehatannya. Dia seharusnya beristirahat saja di ranjangnya. Toh, dia masih tetap bisa menikmati hujan dari kamarnya ini. Secepatnya aku menggeleng. Tegas menolak permintaannya.

"Ga. Kamu harus tetap ada di sini. Kamu ga boleh keluar."

"Ayolah Ify! Setiap hari hujan selalu setia mengunjungiku. Apakah aku akan tega, kalau aku terus menerus mengacuhkannya? Aku akan menjadi orang terjahat di dunia ini." Dia menatap penuh harap. Memelas.

"Hujan tidak baik buat kamu saat ini."

"Hujan baik." sanggahnya cepat. "Hujan selalu baik." Rio segera turun dari tempat tidurnya. Dengan langkah payah, ia berjalan menuju pintu. Meraih kenop pintu lantas memutarnya.

Rio. Pemuda yang sangat keras kepala. Hanya untuk mencapai ambang pintu saja, sudah sepayah itu. Lalu sekarang, ia berniat untuk tetap keluar dan bermain dengan hujan. Benar-benar gila.

Pintu sudah terbuka. Rio benar-benar tak dapat dicegah lagi. Rasa sukanya terhadap memang sangatlah hebat. Maka dalam kesehatannya yang buruk itu pun, dia masih mempunyai semangat untuk bermain bersama idolanya.

Sebelum ia benar-benar keluar dari kamar yang telah lebih dari sepuluh hari ia huni ini, dia mendelik ke arahku tajam.

"Kalau kamu ga mau nemenin aku main sama hujan, aku sendiri aja." desisnya tajam lantas melangkah dengan perlahan.

Tidak. Aku bukan tak mau menemaninya. Penolakkanku adalah bukti bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku tak mau hal buruk terjadi padanya. Dan keinginannya untuk menari di bawah hujan, kemungkinan besar akan membahayakan kesehatannya. Aku yakin dia pemuda yang kuat. Tapi, dia tetap manusia biasa, kan? Aku berdecak. Secepatnya keluar dan mengejar Rio. Aku yakin dia belum jauh.

Dan aku benar. Rio masih berada di koridor. Belum jauh dari kamarnya. Ia berjalan dengan susah payah. Kedua kakinya ia seret seperti koper. Tangannya meraba-raba tembok. Seakan tembok itulah yang menuntunnya. Itu sangat menyedihkan. Hatiku tertohok melihatnya. Maka aku bergegas menghampirinya.

Aku mensejajarkan langkahku dengan langkahnya. Lantas berkata pelan. "Aku mau main sama kamu dan hujan."

Rio menoleh dan tersenyum.
*

Rio sangat menikmati hujan yang membisiki pagi ini. Dia tertawa sangat lepas. Melompat menyerbu ribuan rinai berkah Tuhan. Ya, aku rasa hujan memang tak akan membahayakan kondisinya. Justru sebaliknya. Hujan membuatnya bahagia. Hujan yang luar biasa. Maka aku pun ikut menari bersamanya. Melepaskan beban hidupku. Membaur menikmati aroma hujan yang semerbak. Berjingkrak gembira. Bersama-sama.
Tiba-tiba, ketika kami asyik menari, Rio jatuh tersungkur. Aku terperanjat. Hal yang tidak ku inginkan pun terjadi.

Aku segera duduk. Mengangkat kepala Rio dan membiarkannya bersandar pada lenganku. Hatiku mencelos seketika. Darah mengalir dari kedua lubang hidungnya. Tawanya seketika lenyap bagai tersapu deburan ombak. Wajahnya pucat sekali. Bibirnya bergetar. Oh Tuhan, jangan biarkan dia kesakitan. Aku mulai menangis.

Rio mengangkat tangan dan menempelkannya di pipiku. Tersennyum tipis lalu mendesah berat. "A-aku pergi ya! Ingat, hujan itu baik dan... me... nyenangkan." ujarnya terbata.

Aku menggeleng cepat. Jangan. Baru sebentar aku berada dalam hidupnya. Rio tak boleh meninggalkanku. Aku menggigit bibir. Membiarkan tangisku menjadi yang lebih deras dari tangisan alam. Lantas memeluknya erat.

Dan dalam pelukanku, Rio pergi. Menyerahkan seluruh kehidupannya pada Sang Esa. Nafas yang terakhir ia hembus dalam dekapku. Dan aku tak akan mengutuk siapa pun atas perihal ini. Aku tak akan merutuki hujan lalu setelah itu membencinya. Tidak akan. Karena aku percaya, Rio pergi karena Tuhan yang ingini.


Hujan pagi itu, hujan penghujung kisah ini.
***

Tuhan selalu menyuruhku untuk berharap. Membuat harapan sebesar mungkin. Mempertahankan harapan sekecil apa pun. Itu perintah-Nya. Tuhan berjanji, harapan-harapan itu akan terjawab. Sekarang. Besok. Nanti. Kapan saja. Ya, itu janji-Nya.

Dan hujan pagi inilah yang menyadarkanku, bahwa harapan yang dulu ku rajut telah terjawab. Dengan Rio mengizinkanku untuk hadir dan mengisi catatan indah hidupnya, secara tak langsung ia telah membalas cintaku. Ya, aku merasakan hal itu.

Maka meski kini Rio tak lagi di sisiku, cintanya selalu ada dalam tiap desau nafasku. Semangatnya selalu hadir dalam tiap lantun doaku. Dan hujannya selalu setia melapangkan hatiku saat rindu melanda relung jiwaku.
Pada akhirnya, harap yang ku cipta kini adalah harap terbesarku. Harapan agar kisah cinta sederhanaku ini akan tetap terkenang. Sampai waktu yang tak terbatas. Dan semoga hujan tetap mencintai alam dengan sederhana.
Dan kini aku tahu, apa yang membuatku mencintai Rio. Karena dengan mencintainya, aku merasa menjadi seseorang yang istimewa.


Hujan kali ini, aku mencintainya.
Hujan berikutnya, aku mencintainya.
Aku akan tetap mencintainya, walau tak ada lagi hujan.

***

Kamis, 03 November 2011

The Truth About Forever (versi ICIL) Cap. 7 : Does It Hurt?

The Truth About Forever
( Dendam Membuatmu Kesepian )

Chapter #7
DOES IT HURT?


Hari Minggu. Langit Kota Bandung sedang tidak bersahabat. Ify sudah hampir dua jam duduk di depan monitornya tanpa melakukan apa pun. Tangannya terkulai lemas di keyboard sehingga memunculkan huruf-huruf acak di tengah tulisan novelnya.

Semalam, Ify tidak bisa tidur. Dia hanya memandangi dinding di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rio, bertanya-tanya apa Rio juga tidak bisa tidur seperti dirinya.
AIDS. Jelas bukan penyakit sembarangan. Penyakit ini telah menghilangkan nyawa ratusan, atau bahkan ribuan, remaja di dunia. Penyakit yang membunuh penderitanya secara perlahan. Penyakit yang sampai sekarang masih belum ditemukan obatnya.

Membayangkannya saja sudah membuat Ify merinding. Ify tidak pernah mengira masalah Rio seberat ini. Ify jadi teringat kata-kata Sivia beberapa hari yang lalu.

"Kalo ternyata masalahnya bener-bener berat dan lo nggak bisa berbuat apa-apa untuk ngebantu dia, apa lo masih tetep mau bareng dia?"

Saat itu, Ify tak menjawab, karena Ify takut hal itu benar-benar terjadi. Dan, sekarang, Ify benar-benar takut.

Ify bukanlah cewek baik seperti di sinetron-sinetron—tontonan tantenya, yang tegar menemani kekasihnya yang sakit sampai akhir hayatnya. Ify hanya manusia biasa seperti manusia lainnya, dia juga merasakan ketakutan yang luar biasa saat mengetahui bahwa Rio adalah penderita HIV. Ify tak yakin bisa berbuat sesuatu dengan dirinya yang sekarang ini.

Ify menatap tangannya yang gemetar, lalu mendekapnya. Ternyata, dia memang takut. Ify bermaksud untuk mengambil gelas, tetapi secara tak sengaja tangannya terkena pinggiran gelas yang sudah pecah. Ify meringis kesakitan saat mengetahui bahwa jarinya sudah terluka.

Ketika Ify akan mengisap jarinya yang berdarah, dia terkesiap. Pikirannya tiba-tiba melayang ke kejadian beberapa hari lalu, saat jari Rio juga berdarah, dan dia tiba-tiba menolak untuk diplester. Setelah itu, pikirannya melayang lagi ke kejadian-kejadian saat Rio beberapa kali menolak makanan serta saat kejadian di pantai.

"Kita nggak punya masa depan."

Ya, itu adalah lima kata yang diucapkan Rio di pantai dan yang sampai kemarin sama sekali tidak dimengerti artinya oleh Ify. Namun kali ini, Ify sudah mengerti benar apa arti kalimat itu. Kalimat yang seolah telah menolak perasaannya mentah-mentah.

Selama ini, tanpa disadari Ify, Rio bersikap dingin dan ketus hanya untuk berusaha melindungi Ify. Rio hanya ingin menjaga hati Ify.

Mata Ify menerawang. Darah di jarinya sudah menetes ke lantai, tetapi dia tidak peduli.

***

Rio yang sekarang sedang berada di lantai tiga kost-nya menatap atap rumah-rumah di depannya kosong. Hasil pencariannya hari ini nol lagi. Padahal, Rio sangat bernapsu untuk cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dan pergi dari kota ini.

Rio melirik langit yang sudah berwarna kemerahan. Satu hari lagi dari beberapa tahun sisa hidupnya, sudah dia lalui. Rio bertanya-tanya, masih berapa lama lagi dia dapat melihat matahari terbenam.

Tiba-tiba, Rio teringat pada kejadian kemarin, saat Ify mengetahui penyakit yang diidapnya. Reaksi Ify sama saja seperti rekasi orang lain. Sekarang, Rio tidak akan heran kalau Ify akan menghindarinya. Sepagian ini saja, Ify tidak keluar dari kamarnya.

Rio memang kecewa, tetapi dia tidak bisa mengharapkan lebih. Ify hanya menangis dan tidak berteriak histeris saja sudah cukup untuknya. Lagi pula, Rio memang tidak berhak untuk kecewa.

Rio mendesah, ia lalu berbaring di lantai. Mendadak, Rio seperti mendengar langkah kaki. Berharap setengah mati itu Ify, Rio menoleh. Ternyata, memang benar Ify. Rio langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak boleh berharap macam-macam lagi.

"Dingin, lho," kata Ify sambil mendekati Rio. Rio duduk, lalu mengebas-ngebaskan tangannya yang berdebu.

"Kenapa lo ke sini?" tanya Rio singkat tanpa menoleh.

"Mau nemenin, siapa tau kamu kesepian," jawab Ify membuat Rio mendengus.

"Nggak usah maksain diri jadi malaikat," ujar Rio skeptis. "Lebih baik lo nggak usah deket-deket sama gue."

Ify menatap punggung Rio yang benar-benar tampak kesepian. Tadi pagi, Ify sudah membulatkan tekadnya untuk tetap mendukung Rio karena Ify tahu, Rio selama ini melindunginya. Sikap Rio yang keras itu semata-mata hanya supaya Ify tidak bergaul dengan orang penyakitan sepertinya.

"Apa kamu nggak kesepian?" tanya Ify. "Kamu memutuskan buat hidup sendiri dan nggak membina hubungan baik sama orang lain. Apa kamu nggak kesepian?"

"Kesepian juga gue nggak peduli. Gue udah biasa sendiri," jawab Rio tegas.

Ify masih menatap punggung Rio. Kalau saja Rio mau egois, Rio bisa saja tetap bergaul dengan teman-temannya dan orang lain, dan tetap menyembunyikan penyakitnya. Namun, Rio malah melakukan sebaliknya.

"Kenapa?" tanya Ify lagi. "Kenapa kamu begitu?"

Rio terdiam lama. "Gue nggak mau ada yang nangisin gue kalo gue mati ntar," kata Rio pelan, masih memunggungi Ify. "Semakin sedikit, semakin bagus."

Ify tertegun mendengar jawaban Rio. Dia tersenyum lembut.

"Ternyata kamu baik banget, ya," ujar Ify membuat Rio menoleh sedikit. "Kamu masih mementingkan orang lain."

Rio tak menjawab kata-kata Ify. Dia terdiam sambil menatap langit yang sudah mulai gelap.

"Karena kamu nggak mau orang-orang yang kamu sayangi berurusan sama kamu, makanya kamu sengaja menghindari mereka, ya, kan?" tanya Ify lagi. "Karena itu, kamu memilih sendirian, bener, kan?"

Rio masih terdiam. Tangannya sudah terkepal keras. Tahu-tahu, sepasang tangan sudah melingkar di lehernya. Ternyata Ify sudah duduk dan memeluknya dari belakang.

"Punya penyakit bukan berarti kamu nggak bisa bahagia, Rio," ujar Ify lirih. "Kalo nggak ada yang menemanimu, aku yang bakal menemani kamu."

Rio tidak berusaha melepas tangan Ify. Tangan Ify begitu hangat, sampai-sampai Rio tidak mau melepasnya. Rio mau menggenggam kebahagiaan ini walaupun cuma beberapa detik.

Tanpa terasa air mata sudah mengalir dari mata kejora Rio.

"Sakit," gumam Rio di antara isakan lirihnya membuat Ify ikut menitikkan air matanya dan memeluk Rio lebih erat.

Ify tahu benar di bagian mana Rio merasa sakit. Dari bagian mana pun di tubuh Rio, bagian hatinyalah yang paling sakit.

Bagian yang selama ini selalu dikorbankannya.

***

Rio melewati malam dengan menatap langit-langit kamarnya yang sudah kecoklatan. Dia sama sekali tidak bisa tidur, setelah pertama kalinya menangis di depan orang. Pada saat divonis positif HIV, dia tidak menangis. Pada saat ibunya, Amanda, menangis sejadi-jadinya, Rio juga tidak menangis. Pada saat ayahnya, Putra, pergi dari rumah karena malu memiliki anak berpenyakit mengerikan sepertinya, dia juga tidak menangis.

Mungkin semalam adalah akumulasi dari segala kesedihan yang Rio alami selama lima tahun terakhir. Rio tahu, cepat atau lambat emosinya akan meledak, tetapi yang dia tidak habis pikir, kenapa harus bersama orang yang baru dikenalnya. Kenapa malah orang yang hampir tidak dikenalnya yang mau memeluknya dan membiarkannya menangis.

Rio teringat ibunya. Saat divonis positif HIV, Rio tidak sempat menangis karena mamanya sudah menangis duluan. Setelah itu, perlakuan mamanya tidak sama lagi. Dia sangat hati-hati dalam menyentuhnya dan ekstra hati-hati dalam memberinya makan. Bahkan, ibunya itu memberinya peralatan makan khusus, dan dia mencuci pakaian Rio secara terpisah. Rio sudah seperti alien di rumahnya sendiri.

Saat Putra, ayahnya, pergi, Amanda depresi berat. Berhari-hari dia menangis tanpa mempedulikan Rio. Rio jadi tak punya waktu untuk memikirkan masalahnya sendiri. Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana ibunya bisa bahagia. Karena itu, Rio sering menghabiskan waktunya untuk menyepi sendirian, berharap dengan cara yang tak seberapa itu ibunya bisa jadi lebih tenang.

Semalam, ketika Ify memeluknya, dia tak bisa menolak. Sudah terlalu lama semenjak seseorang memeluknya seperti itu. Semalam, sisi egoisnya sudah menang. Dia tidak mempedulikan apa pun, dan berharap malam itu tak 'kan pernah berakhir.

Namun, sekarang sudah berakhir. Rio tak bisa menerima kebaikan Ify hanya demi kepentingannya. Dia sadar, kalau Ify hanya kasihan padanya. Ify kasihan karena Rio hanya sendirian, dan akan mati sendirian pula.

Secercah harapan tumbuh pada hati Rio semalam, saat Ify tidak ragu untuk memeluknya. Gadis itu seolah tidak takut padanya. Gadis itu masih bersikap sama seperti sebelum mengetahui penyakitnya. Namun, Rio juga sadar bahwa Ify hanya ingin menemaninya, tidak lebih.

Rio bangkit dari tempat tidurnya, memutuskan untuk sepagi mungkin berangkat supaya tidak bertemu dengan Ify. Sangat sulit baginya untuk bertemu dengan gadis itu setelah kejadian semalam.

Rio membuka pintu kamarnya dan pada saat bersamaan, pintu kamar Ify juga terbuka. Rio langsung mengumpat dalam hati.

Ify keluar kamar, lalu menoleh dan menatap Rio yang membeku di depan kamarnya. Ify menelengkan kepalanya, bingung Rio sedang apa.

"Kenapa?" tanya Ify membuat Rio tersadar. Rio cepat-cepat keluar, mengunci pintunya, lalu bergerak cepat ke tangga. Ify teringat sesuatu.

"Rio! Jangan lupa bawa payung, ntar kehujanan lho!" sahutnya, tapi Rio seperti tidak mendengar.

Ify menatap punggung Rio yang menghilang di tangga sambil tersenyum. Ternyata, Rio masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Akan jadi tugas yang sulit buat Ify, tetapi Ify tak akan menyerah.


***

Rio memandang kosong bangunan yang ada di depannya, Fakultas Psikologi Universitas Bandung. Dia tidak benar-benar melihat siapa yang lewat, pikirannya masih melayang ke kejadian semalam. Suara musik berdentum-dentum melalui headphone besar yang tergantung di lehernya.

Sepasang kekasih tiba-tiba lewat di depan Rio, membuatnya mau tak mau memandangnya. Alangkah baiknya jika Rio tidak memiliki penyakit apa pun. Di umurnya yang sekarang ini, dia pasti juga bisa merasakan kebahagiaan seperti pasangan itu.

Namun, tak ada gunanya berandai-andai. Rio sudah kepalang memiliki virus ini yang mengalir dalam darahnya. Sekarang, dia hanya harus menyelesaikan "pekerjaan"-nya yang belum selesai dan setelah itu, Rio tak peduli lagi mau hidup dengan cara apa.

Rio membetulkan headphone-nya, dan tanpa sengaja, dia menyentuh bagian belakang telinganya. Rio merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia menyentuh sebuah benjolan tepat di belakang telinganya yang seingatnya tidak pernah dimilikinya.

Tangan Rio langsung terkulai lemas. Pandangannya kosong. Beberapa detik kemudian, dia terkekeh pelan. Benar. Ini sudah hampir lima tahun semenjak dia divonis menderita HIV. Tentu saja, dia akan mengalami perubahan pada tubuhnya.

Rio seharusnya dapat menerima ini, tetapi entah kenapa sebagian tubuhnya menolak. Selama lima tahun, hampir tidak ada yang dirasakannya. Rio merasa nyaris sehat. Dan sekarang, setelah kelenjar getah beningnya membengkak, dia baru sadar kalau dia benar-benar sakit.

Setitik air hujan jatuh di tangan Rio. Tak berapa lama, hujan turun, tetapi Rio masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia malah menengadahkan kepalanya, berharap hujan bisa membawa pergi semua virus yang ada pada tubuhnya.

Juga membawa pergi semua air mata dan kesedihannya.

***

Ify menggeliat di balik selimut ungu bergambar chappy-nya, lalu menggapai weker yang—lagi-lagi—bergambar chappy yang ada di sampingnya. Dia terduduk kaget saat membaca jarum jam itu. Pukul sembilan lebih dua puluh lima menit, hampir pukul setengah sepuluh malam. Ify mengucek matanya, pandangannya tertumbuk pada dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Rio.

Ify bangun, bergerak membuka pintu. Ternyata, di luar hujan. Ify menengok ke kamar Rio yang masih gelap. Ify menghela napas. "Mungkin Rio kehujanan di jalan, jadi menunggu hujan reda," pikirnya.

Ify baru akan bergerak ke kamar mandi ketika dia mendengar suara-suara di kamar Rio. Ify berhenti, lalu menatap kamar Rio. Mungkinkah ada tikus?

Ify memegang kenop pintu, tetapi dia segera menggeleng. Terakhir Ify masuk, Rio sangat marah. Dia tidak mau dimarahi lagi. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu muncul lagi. Kali ini terdengar seperti suara igauan.

"Rio?" panggil Ify, tetapi tak ada sahutan. Ify mengetuk pintu Rio. Karena tak kunjung ada jawaban juga, Ify mengetuk lebih keras. "Rio? Kamu ada di dalem?"

Mendadak lampu kamar Rio hidup, dan Rio membuka pintu dengan kasar. Wajahnya tampak pucat. Juga marah.

"Berisik! Apaan sih?" serunya. Ify menatap Rio lekat-lekat. Tampaknya Rio bukan baru bangun tidur. Wajahnya pucat dan berkeringat. "Apa?"

"Kamu... nggak kenapa-napa, kan?" tanya Ify khawatir.

Rio berdecak kesal, tampak sebal sudah diganggu.

"Kalo nggak ada perlu lagi, gue mau tidur," jawab Rio. Sementara Ify memerhatikan wajahnya, dia menutup pintu.

Ify menghela napas, lalu beranjak pergi. Baru beberapa langkah, dia mendengar suara gaduh dari kamar Rio. Ify segera kembali dan membuka pintu kamar Rio yang ternyata tidak terkunci, dan mendapatinya sudah tergeletak di lantai. Tubuhnya menggigil.

"Rio!" seru Ify panik, lalu terduduk di sampingnya. Dia memegang dahi Rio, dan terkejut karena panasnya sangat tinggi. Ify menoleh ke kanan dan ke kiri panik, menepuk-nepuk pipi Rio yang panas. "Rio! Naik ke kasur, ya!"

Ify membantu Rio untuk naik ke kasur. Tubuh Rio yang tidak terlalu berat agak sedikit membantu Ify untuk memindahkannya ke kasur, meskipun suhu tubuhnya saat ini sangat tinggi. Bajunya sudah basah bermandikan keringat dingin. Setelah Rio terbaring di kasur, Ify segera membuka baju Rio yang basah, dan mencari-cari baju bersih. Namun, Ify tak mendapatkannya, yang dia temukan hanya setumpuk pakaian kotor yang belum dicuci. Ify melesat ke kamarnya, dan menemukan sweter milik ayahnya, setelah itu memakaikannya pada Rio. Walaupun ukurannya kebesaran, tetapi jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Rio, tunggu bentar ya, aku ambil air hangat dulu," kata Ify. Dia segera turun ke rumah tantenya. Bu Winda heran melihat Ify terburu-buru merebus air.

"Ify? Buat apa air panas?" tanyanya.

"Itu Tante, Rio..." Ify berhenti berbicara. Dia teringat pada Rio yang pasti tidak ingin tantenya tahu soal penyakitnya.

"Rio...?" tanya Bu Winda penasaran.

"Rio... mau bikin susu cokelat, katanya baik buat pertumbuhan!" sahut Ify cepat, lalu segera kembali secepat mungkin ke atas.

"Huft... Astaga! Tadi itu benar-benar berbahaya!" batinnya, setelah berhasil menjauh dari pandangan Bu Winda.

Ify mengisi baskom dengan air hangat, dan mengambil saputangan handuk miliknya. Dia juga mengambil selimut miliknya dan memakaikannya ke tubuh Rio.

Rio membuka matanya, sadar kalau Ify ada di sampingnya. Walaupun berkunang-kunang, Rio masih bisa melihat Ify yang sedang memeras saputangan. Saat Ify mau meletakkannya ke dahi Rio, Rio menepisnya.

"Pergi... Jangan peduliin gue...," gumam Rio, tetapi Ify tidak peduli. Dia mengambil saputangan yang jatuh, lalu berusaha memakaikannya pada Rio. Rio masih tetap bersikeras tidak mau.

"Mario Stevano!" sahut Ify marah. "Jangan kamu kira aku bego, ya! Aku tau penyakit kamu nggak akan menular kalo cuma begini doang!"

Rio berhenti berusaha dan membiarkan Ify mengompres dahinya. Ify menghela napas.

"Sori. Nggak maksud teriak-teriak," kata Ify sambil membetulkan selimut. "Kamu, kok, bisa panas begini, sih?"

Ify mengedarkan pandangannya ke kamar Rio, dan menemukan seonggok baju basah di pojokan. Ify mendelik pada Rio.

"Kan, udah aku bilang bawa payung," kata Ify sebal sambil mengambil kompres di dahi Rio, mencelupkannya ke baskom, memerasnya, lalu meletakkannya kembali, tetapi kali ini kompres itu jatuh di mata Rio.

Rio membetulkan sendiri kompres itu, sambil melirik Ify yang masih kelihatan sebal.

"Cari penyakit sendiri," kata Ify pendek, kemudian bangkit. Rio sama sekali tak punya tenaga untuk bertanya dia mau ke mana. Sebelum menghilang di pintu, Ify berbalik. "Mau ambil obat," katanya, lalu pergi.

Rio menatap langit-langit yang sudah berbayang-bayang. Alangkah baiknya kalau seumur hidupnya Ify mau menemaninya seperti ini. Rio tak akan protes walaupun dimarahi seperti tadi seumur hidupnya.

Rio menurunkan kompres itu ke matanya, siapa tahu air matanya keluar lagi. Beberapa menit kemudian, Ify kembali dengan berbagai jenis obat di tangannya. Ify duduk di samping Rio sambil mengamati obat-obat di tangannya.

"Hm... yang mana, ya?" gumamnya membuat Rio mengernyit ngeri. Bisa saja cewek itu memberinya obat untuk diare. "Yang ini aja, deh."

Ify membuka salah satu obat, lalu menyodorkannya pada Rio yang tampak enggan. Ify mengambil sebotol air mineral dan membantu Rio untuk minum. Rio sendiri akhirnya tidak bisa menolak. Dia pasrah saja menelan pil berwarna putih itu.

Setelah itu, Ify kembali membetulkan selimut Rio dan mengganti kompresnya. Ify kemudian menengok ke kiri dan kanan, seolah mencari sesuatu.

"Rio? Obat kamu mana? Udah diminum belum?" tanya Ify membuat Rio memejamkan mata, berpura-pura tidur. "Rio? Kamu udah ke rumah sakit?"

Ify kemudian melirik Rio yang tampak sudah tertidur, lalu menghela napas. Ify mengganti kompres lagi, setelah itu bangkit dan keluar kamar. Rio kembali mebuka mata, dan menatap langit-langit.

Obat.

Rumah sakit.

Dua hal yang tidak akan mungkin membantunya. Rio tak mau repot-repot pergi ke rumah sakit hanya untuk ditolak. Sudah cukup semua penolakan yang pernah dialaminya.

Rio melirik pintu yang sudah tertutup, bertanya-tanya apa Ify akan datang lagi. Walaupun Rio sadar, dia sudah menyakiti dirinya sendiri lagi dengan harapan ini.

***

Ify mengaduk bubur dalam panci dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang pada Rio yang sekarang sedang terbaring demam di kamarnya. Dia pasti kehujanan, dan karena daya tahan tubuhnya rendah, dia mudah sakit.

Ify juga berpikir soal obat Rio yang waktu itu sudah remuk di tangan Rio. Apa Rio sudah ke rumah sakit lagi untuk meminta obat? Kalau belum, apakah Rio akan baik-baik saja tanpa obat itu?

"Ify, kamu ngapain? Buburnya hangus, tuh!" sahut Bu Winda, menyadarkan Ify.

Ify segera mematikan kompor, lalu mengangkat panci itu. Setelah itu, dia menuangkan isi panci itu ke dalam mangkuk. Sedangkan Bu Winda mengamatinya dengan penuh minat.

"Tumben kamu masak bubur malem-malem gini," ujarnya membuat Ify gelagapan.

"Ng... lagi pengen aja," kata Ify cepat, setelah itu segera pergi dari dapur dan membawa bubur itu naik ke kamar Rio.

Ify membuka pintu kamar Rio, lalu duduk di samping Rio yang masih terbaring di tempat tidurnya. Rio masih tampak tertidur. Ify mengganti kompres, menepuk-nepuk pelan pipi Rio. Panasnya ternyata sudah turun.

"Rio," kata Ify membuat empunya nama membuka matanya. Rio yang memang sempat tertidur sebentar, menoleh lemas. "Makan dulu. Udah aku buatin bubur," sambung Ify.

Rio menatap mangkuk di tangan Ify tanpa minat.

"Kamu kan harus minum obat, jadi makan dulu," kata Ify lagi, membuat Rio membuang muka.

"Nggak perlu," ujar Rio.

"Nggak boleh!" sahut Ify tegas. "Kamu harus makan, kalo nggak ntar kamu nggak sembuh-sembuh! Oh iya, ngomong-ngomong, mana obatnya?"

"Habis," jawab Rio sekenanya.

"Ya udah, kalo habis, tapi yang penting sekarang kamu harus makan," kata Ify, dia membantu Rio membetulkan duduknya.

"Gue nggak mau," kata Rio, menolak saat Ify menyodorkan sesendok bubur padanya. Rio melirik bubur itu malas. "Keliatannya nggak enak."

Ify menganga sebal, tetapi kemudian teringat pada kejadian Rio menolak makanan dari Bu Winda. Ini semua ternyata soal peralatan makan.

"Ng... setelah kamu makan, aku buang, deh, mangkuk ama sendoknya. Itu kalo kamu takut kenapa-napa," kata Ify hati-hati. Rio menatapnya.

"Bukannya itu punya tante lo?" tanya Rio.

"Yah, ntar aku bilang sama dia. Atau, aku ganti," jawab Ify, mulai tak sabar. "Yang penting, sekarang kamu makan dulu."

Rio mulai menerima sesuap demi sesuap bubur yang ada di mangkuk.

"Enak, kan?" goda Ify begitu bubur di mangkuk akan habis.

"Di mana-mana rasa bubur, ya, gitu aja," kata Rio membuat cengiran di wajah Ify lenyap. Ify berdecak dan mengedikkan bahu.

"Yah, kalo udah begini berarti kamu udah sembuh," kata Ify sambil meletakkan mangkuk dan menyodorkan air minum untuk Rio. Ify melirik mangkuk dan sendok. "Rio, aku cuci aja, ya, mangkuknya?"

"Beli baru aja. Uangnya ambil di dompet gue," kata Rio tegas.Ify menatap Rio.

"Rio, bukannya kamu yang paling tau kalo virus HIV nggak menular lewat air liur? Kenapa, sih..."

"Gue nggak mau ambil resiko," potong Rio sambil kembali merebahkan dirinya. Kepalanya masih terasa pening. "Jangan lupa mangkuknya dibuang. Atau kalo perlu, dipecahin dulu," kata Rio lagi. 

Dia mulai memejamkan mata, berusaha tidur.

Ify menatap Rio sedih. Rio begitu mementingkan orang lain tanpa mempedulikan perasaannya sendiri.

"Sakit, ya, Yo?" tanya Ify.

"Pusing doang," jawab Rio sambil memijat kepalanya yang terasa pening.

"Sakit, ya, setiap kali kamu menghindari orang?" tanya Ify lagi, membuat Rio mebuka matanya. 
"Sakit, kan? Jadi, kenapa nggak berhenti berusaha menjauhi orang lain sekuat tenaga? Orang-orang yang bener-bener peduli sama kamu pasti maklum, kok."

Rio menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kemungkinan itu. Tetapi, itu tidak mungkin, karena tidak ada orang-orang yang benar-benar peduli padanya.

"Udahlah, gue mau tidur," kata Rio, kembali memejamkan matanya. Ify menatap wajah tampan Rio lama, lalu mulai beranjak mengganti kompres Rio.

"Istirahat, ya, Rio, besok pagi aku ke sini lagi," ujar Ify lalu bangkit sambil membawa mangkuk bubur.

Sekeluarnya Ify dari kamarnya, Rio segera menempatkan kompres di matanya, tetapi kompres itu tidak bisa menghentikan aliran air mata Rio.


-Selesainya? Masih lama, kok!-