Rabu, 19 Oktober 2011

The Truth About Forever (versi ICIL) Cap. 2 : First Last Dinner

The Truth About Forever
( Kebencian Membuatmu Kesepian)

Chapter 2 : Firts Last Dinner

lanjutannya nieh.... moga-moga suka....
check this out.....


Chapter 2
FIRST LAST DINNER


"Hah? Ada orang yang ngekos di sebelah kamar lo?" tanya Sivia teman sekampus Ify. Mereka sedang berada di cafetaria Fakultas Ekonomi Universitas Bandung yang ramai dengan mahasiswa. Ify mengangguk menyambut kata-kata Sivia.

"Cowok aneh yang asalnya dari Mars," jawab Ify sambil menusuk satu glintir bakso dan memasukkan ke mulutnya.

"Hah? Dari Mars?" tanya Sivia bingung.

"Dia yang bilang sendiri. Emang, sih, dia kayak alien," kata Ify sambil masih mengunyah baksonya.

"Tapi seru, kan, punya tetangga cowok. Oh ya, ngomong-ngomong orangnya cakep nggak?" Sivia terus bertanya membuat alis Ify berkerut.

"Sivia Azizah, intinya adalah: dia cowok! Artinya, gue nggak bakal punya privasi lagi!" sahut Ify.

"Iya, iya, tapi cakep nggak?"  Sivia tak mau kalah.

"Oke. Jelas-jelas elo nggak dapet poinnya di sini," ujar Ify sebal." Cakep, sih, cakep..."

"Eh, beneran? Ify! Bener? Gue boleh, dong, dikenalin!" Suara Sivia yang tiba-tiba histeris membuat Ify mengernyit.

"Sivia cantik, kayaknya lo harus belajar membiarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya, deh. Tadi gue mau bilang, cakep, sih, cakep, tapi tetep aja dia alien!" ujar Ify.

"Nggak apa-apa alien, asal cakep," balas Sivia, imajinasinya kini sudah terbang entah ke mana.

"Makan, tuh, cakep." Ify berubah sebal. "Gue, sih, males banget liat tampang sombong dan sok misteriusnya itu."

"Fy, cowok misterius tuh, justru lebih menarik," kata Sivia. "Mereka seolah punya aura yang jadi magnet buat cewek-cewek."

Ify menatap jijik temannya yang satu itu, tetapi dalam hati dia mengiyakan kata-kata Sivia. Rio sepertinya memang punya aura seperti yang dikatakan Sivia.

"Ngomong-ngomong, namanya siapa?" Sivia masih penasaran.

"Kata tante gue, sih, Rio... ya, kalo nggak salah Mario Stevano," jawab Ify yang langsung saja disahuti oleh teriakan histeris Sivia. Ify hampir tersedak dibuatnya.

"Ya ampun, Alyssa Saufika! Namanya aja keren banget! Pasti orangnya cool banget... kayak namanya!" teriakan Sivia membuat Ify menyesal sudah memberitahunya. Temannya yang satu ini kadang memang bisa jadi sangat norak kalo udah menyangkut masalah fashion dan cowok cakep.

***
Rio merasa sudah berjalan beberapa kilometer sampai akhirnya menemukan salah satu fakultas Universitas Bandung terdekat, yaitu Fakultas Pertanian. Rio duduk di bangku taman, memerhatikan dengan cermat orang-orang yang melewatinya.

Rio harus menemukan orang itu, bagaimanapun caranya. Info yang dia dapat dari temannya sangat sedikit. Alvin Jonathan, temannya itu, mengatakan kalau orang yang sekarang dicari Rio pernah terlihat di sekitar kampus Universitas Bandung. Alvin tidak tahu kampus yang mana, tetapi Rio tetap pergi. Tak masalah jika Rio harus mendatangi setiap kampus dan mencari orang itu dibandingkan dia hanya duduk diam dan menyesali nasib. Rio harus bertemu dengannya.

Rio memasang headphone superbesarnya. Dan lagu This Light I See milik Paku Romi mengalun dari iPod-nya. Pikiran Rio melayang ke masa-masa SMA, dan tanpa disadarinya, dia mencengkeram lengan kirinya kuat-kuat.

Rio melangkah ke tempat kosnya yang terlihat gelap. Lampu depan kos yang sudah berpendar dan hampir mati, membuat kos itu tampak jauh lebih horror dibandingkan saat siang hari. Saat menaiki tangga, Ify sedang menyapu gang depan kamarnya. Ify menoleh dan menatap Rio yang tampak lelah.

"Abis kuliah?" tanya Ify, mencoba ramah.

"Nggak," sahut Rio pendek, tak ingin membuat pembicaraan apa pun.

"Oh... abis kerja?" tanya Ify lagi membuat Rio meliriknya sebal.

"Nggak juga." Rio menjawab sambil merogoh saku celananya bermaksud mengambil kunci.

"Lho, jadi kamu ngapain di sini?" kejar Ify. Sebelum Rioo sempat menjawab, Ify sudah berkata lagi, "Oh, gue tau. Pasti lagi nyari kerjaan!"

"Yah, begitulah," kata Rio berusaha menyudahi pembicaraan dan tak ingin capek-capek menjawab. Dia membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa banyak bicara lagi.

Rio melempar tasnya ke atas kasur yang tergeletak menyedihkan tanpa sprei. Dia membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur itu walaupun tahu itu akan menyakitkan. Dengan seketika, debu-debu dari kasur itu berterbangan, membuat Rio terbatuk.

Rio terduduk, mengambil air mineral dan meminumnya. Dia menatap ke sekeliling kamarnya yang tampak mengenaskan. Selain kasur tadi, di dalam kamar itu hanya terdapat lemari setinggi satu meter dan sebuah meja kecil. Ranselnya tergeletak sembarangan dengan isi yang sudah berhamburan, sementara cup-cup bekas mie tergeletak di atas meja kecil bersama sebuah tas kecil.

Rio bangkit untuk meraih tas kecil itu dan membukanya. Dia mengeluarkan sebuah handycam perak dengan model yang kuno. Rio menatap ragu handycam itu, kemudian menyalakannya, bermaksud untuk menonton kaset yang sudah beberapa lama mengendap di sana.

Baru sedetik setelah muncul gambar, Rio cepat-cepat mematikannya. Dia melemparkan handycam itu ke sebelahnya dan meremas kepalanya kuat-kuat. Mendadak, ponsel yang ada di sakunya bergetar. Rio tertegun saat membaca nama di layar ponselnya. Mama.

Ragu, Rio mengangkatnya.

"Hallo?" kata Rio.

"Hallo? Rio? Ini Mama. Kamu di mana sekarang?" tanya ibunya, Mama Manda, dari seberang. Rio terdiam sebentar.

"Mama nggak usah khawatir," sahut Rio, menolak untuk menjawab pertanyaan ibunya.

"Rio, jawab Mama! Sekarang kamu ada di mana?" desak mama Manda lagi.

"Mama, aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku bener-bener harus," kata Rio tegas. Sementara mama Manda terdengar terisak.

"Rio, udah lupain aja. Yang penting sekarang kamu pikirkan dirimu sendiri," bujuk Mama Manda lagi.

"Ma, aku harus menyelesaikan ini sebelum waktuku habis." Rio bersikeras. "Ini satu-satunya kesempatanku. Tolong jangan halangi aku."

Mama masih terisak. Rio baru berniat untuk memutuskan sambungan ketika mama Manda berkata lagi, "Kayaknya, kamu nggak akan ngedengerin Mama. Tapi, tolong Rio, jangan lakukan hal-hal bodoh."

"Mama tenang aja." Rio menjawab dengan suara dingin.

"Rio, obatnya jangan lupa diminum," desakan mama Manda membuat Rio benar-benar memutuskan sambungan telepon. Dia lalu menonaktifkan ponselnya, berjaga-jaga agar Mamanya tak bisa kembali meneleponnya.

Rio mengorek isi ranselnya sampai menemukan sebuah botol berisi pil-pil. Rio mencengkeram botol itu keras, lalu membantingnya ke dinding, membuat isinya berhamburan ke segala arah. Rio terduduk lemas di lantai menatap pil-pil yang berceceran.

Pil-pil yang kabarnya dapat menyelamatkannya.

Rio menatap sebuah bangunan dengan taman yang rindang. Kali ini, Fakultas Kehutanan Universitas Bandung. Rio tak tahu harus menunggu beberapa lama, mungkin sampai Fakultas ini tutup, tetapi dia harus melakukannya.

Rio duduk di salah satu bangku taman dan memerhatikan orang-orang yang sedang berdiskusi di dekatnya. Tak ada satu pun dari mereka yang wajahnya mendekati orang yang dicari Rio. Rio menghela napas, memasang headphone-nya, lalu mengorek saku celananya untuk mencari rokok.
Setelah beberapa jam dan menghabiskan sepuluh batang rokok, Rio memutuskan untuk menghampiri orang-orang yang lewat dan menanyainya langsung. Rio menyodorkan foto orang yang dicarinya, tetapi semua orang yang ditanyainya menggeleng tak kenal.

Lelah bertanya, Rio kembali duduk. Dia menatap foto di tangannya. Foto zaman SMA. Foto bersama orang yang dulu sangat penting baginya.

Orang yang paling ingin ditemuinya saat ini.

Rio berjalan gontai ke kamarnya. Rio melirik kamar Ify. Kamar itu gelap. Rio masuk ke kamarnya dan membanting dirinya ke kasur, dan dia segera meringis saat sadar kalau kasur itu kelentingannya sama dengan nol.

Rio merogoh saku celananya, menarik foto yang seharian tadi ditunjukkannya kepada semua orang yang lewat. Tanpa disadarinya, cengkeramannya pada foto itu mengeras sehingga membuat foto itu kusut, tetapi Rio tak peduli. Foto itu telah mengingatkannya pada kenangan yang tak ingin diingatnya lagi.

Mendadak, terdengar suara ketukan, membuat lamunan Rio buyar. Penasaran, Rio bangkit dan membuka pintu.

Ify.

"Ada apa?" tanya Rio malas. Di depannya, Ify nyengir.

"Ini. Dari Tante Winda, dia takut elo kena busung lapar," kata Ify sambil menyodorkan nampan berisi makanan. Rio menatap nampan itu ragu.

"Nggak usah, gue nggak laper," sahut Rio akhirnya.

Baru saja Ify akan mengatakan sesuatu, terdengar suara janggal dari perut Rio. Sesaat, Ify dan Rio sama-sama bengong.

"Kadang, otak sama perut kurang bisa berkoordinasi ya," kata Ify, setengah mati menahan tawa. Rio hanya tersenyum kecut.

"Yah, makasih." Rio mengalah dan mengambil nampan itu dari tangan Ify.

"Jangan lupa abis makan piringnya dicuci ya," jelas Ify. Dia teringat akan pengalamannya sendiri saat lupa mencuci piring dan kena marah tantenya.

"Yes, Mom," jawab Rio membuat Ify tersenyum geli.

Sebelum Rio menghilang ke dalam kamarnya, Ify berkata lagi, "Jangan lupa, sebelum makan cuci tangan dulu, ya!"

Rio menutup pintu, tersenyum sendiri mendengar kata-kata Ify. Dia menatap makanan di tangannya. Kare buatan Winda. Rasanya sudah begitu lama Rio tidak melihat nasi. Rio dengan segera duduk dan dengan cepat menyantap nasi kare itu seakan tidak pernah makan sebelumnya.

"Agni tak kuasa lagi menahan perih di hatinya saat melihat Cakka pergi... Kenapa bahasa gue jadi menjijikkan gini, ya?" gumam Ify bingung saat membaca layar komputernya. "Arrrggghhhhh!"

Ify berbaring di lantai, frustasi pada karyanya yang sedari tadi belum juga beranjak dari halaman tiga sembilan, dan malah makin ngaco. Ify menghela napas, bangkit, dan seperti biasa, melakukan senam-senam kecil utnuk kembali menyegarkan pikirannya. Dia melirik jam: dua belas lebih sepuluh.

Ify memutuskan untuk membuat secangkir cokelat panas untuk mengembalikan semangatnya. Perempuan itu mengambil air dan sebungkus susu cokelat, lalu membuka pintu untuk pergi ke dapur. Dia melirik kamar Rio yang lampunya masih menyala. Lalu, dia buru-buru kembali lagi ke kamarnya.

Rio menatap kosong layar handycam-nya. Di sana, tampak teman-teman SMA-nya sedang bersama-sama mengerjakan pentas seni. Rio menekan tombol stop, membuka kaset mini-DV-nya, lalu melemparkannya sembarangan. Di kaset itu, tertempel stiker bertuliskan, 'Pensi 2004'. Rio menggapai-gapai kaset lain tanpa melihat dan yang terambil adalah yang bertuliskan 'Manado  Beach 2004'. Rio tak langsung menyetelnya, dia malah menatap kaset itu dingin.

"Rio..."

Rio tersentak kaget saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Rio menatap kaset di tangannya bingung. Mungkinkah—

"Rio..."

Kali ini, Rio segera melempar kaset itu. Suara itu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah dikenalnya. Tetapi, tidak mungkin itu...

"Mario Stevano!"

Rio menoleh ke arah pintu. Ternyata, suara itu berasal dari sana. Rio menghela napas lega, tetapi kembali bingung. Dia melirik jam tangannya. Setengah satu pagi.

Rio membuka pintu dan tampang Ify muncul. Di tangannya—Ify, terdapat dua buah mug yang mengepul. Rio mengernyit.

"Nih." Ify menyodorkan salah satu mug yang ada di tangannya.

"Apa, nih?" tanya Rio, belum mengambil mug yang disodorkan.

"Susu cokelat. Katanya, bagus buat pertumbuhan," jelas Ify.

Cttikkk. Langsung muncul persimpangan jalan di kepala Rio. "Pertumbuhan gue udah maksimal," sahut Rio sewot, mengingat tinggi badannya yang abnormal. 

"Ambil aja kenapa, gue nggak mau minum dua-duanya, nih," balas Ify. "Udah susah-susah dibuatin, juga."

"Nggak ada yang nyuruh lo ngebuatin." Tetapi, Rio menerima mug itu. "Thanks."

Ify mengangguk kecil sambil mengintip ke dalam kamar Rio.

"Lo lagi ngapain, jam segini belum tidur?" tanya Ify yang membuat Rio merasa harusnya dialah yang bertanya itu.

"Nggak ada," jawab Rio berusaha menghalangi pandangan Ify. "Lo sendiri? Nggak takut lo jalan-jalan sendirian hari gini?"

"Udah terlalu terbiasa," balas Ify. "Tinggal di kos ini bakal bikin elo nggak takut sama apa pun lagi."
Rio membenarkan dalam hati. Kost ini memang lebih mirip rumah hantu.

"Oke. Kalo gitu, gue mau tidur." Rio mengakhiri pembicaraan, tak berniat mengobrol malam-malam. "Ini, Thanks."

Rio menutup pintu kamarnya. Tak berapa lama, dia mendengar suara pintu sebelah ditutup. Rio duduk di kasur, menatap susu cokelat di tangannya. Sepertinya, dia tidak boleh terlalu baik pada Ify. Dia tidak membutuhkan lebih banyak masalah.

Rio menghirup susu cokelat itu, dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

***
Sudah beberapa hari ini Rio mendatangi beberapa fakultas di kampus Universitas Bandung, tetapi orang yang dicarinya tidak ketemu juga. Tak terkecuali hari ini. Rio pulang dengan tangan kosong.

Orang yang pertama dilihat Rio di kos adalah seseorang pemuda yang tidak terlalu tinggi dengan poni yang menghiasi keningnya. Tubuhnya kecil, tidak terlalu tinggi untuk orang sebayanya. 

"Hai," sapa orang itu membuat Rio berhenti. Rio mengangguk pada orang itu. "Anak baru, ya?"
Rio mengangguk lagi. Ternyata, orang itu penghuni kos ini juga. Salah satu dari dua cowok yang tertinggal di kos ini.

"Nama gue Fauzy. Tapi, lo bisa panggil gue Ozy," katanya sambil menyodorkan tangan. Rio menyambutnya.

"Mario Stevano," kata Rio.

"Peace, yo!" kata Ozy tiba-tiba sambil menunjukkan gerakan memukul dada dan mengacungkan simbol victory. Rio menatapnya bingung.

"Peace," kata Rio akhirnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya juga.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari lantai atas, membuat Rio dan Ozy mendongak. Ternyata Ify.

"Cuekin aja, Rio, dia pikir dia Bob Marley," ucap Ify, membuat Ozy cemberut. Rio tersenyum sopan pada Ozy, lalu naik.

"Lo nggak kuliah, Fy?" tanya Ozy pada Ify.

"Nggak. Lagi libur," jawab Ify dan langsung nyengir pada Rio yang sudah sampai lantai dua.

"Oi, Rio, hati-hati, lho, sama Ify. Siap nyerang kapan aja, tuh," teriak Ozy dari bawah, membuat Rio tersenyum kaku. "Tiap malem mesti kunci pintu!"

"Heh, mestinya gue yang dibilangin begitu!" balas Ify keki.

"Wah, sama sekali nggak ada niat buat nyerang, tuh," kata Rio sambil merogoh saku celananya dan mengambil kunci.

"Eh, jangan pede dulu, ntar-ntar kalo elo naksir gue, bakal repot, lho!" sahut Ify membuat Rio mendengus.

Rio masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Benar. Benar sekali. Akan sangat merepotkan baginya kalau harus menyukai seseorang. Ataupun, disukai.

Rio baru akan memasak air untuk mie cup-nya saat Ify muncul tiba-tiba dan mematikan kompor. Rio mengernyit menatap cewek itu.

"Disuruh makan bareng sama Tante Winda. Ayo!" kata Ify sambil menarik Rio yang belum sempat menyanggupi, menuju rumah Bu Winda.

Di sana, sudah ada Bu Winda beserta keluarganya: suami dan anak satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun bernama Deva, kemudian Ozy, dan seorang berkacamata yang diyakini Rio sebagai penghuni kos satunya lagi.

"Gue berhasil ngebawa dia ke sini!" seru Ify ceria, lalu menyuruh Rio duduk. "Ini dia, nih, anak baru yang nggak sopan. Udah dua minggu lebih ngekos, tapi belum kenalan."

"Ify, jangan ngomong begitu dong, siapa tau dia sibuk," kata Bu Winda sambil tersenyum pada Rio yang membalasnya dengan kaku.

"Iya. Rio, maaf ya, Ify memang agak judes," sahut suami Bu Winda membuat Ify melotot.

"Nggak apa-apa, Pak," jawab Rio membuat Ify pindah memelototinya.

"Rio, ini suami saya Joe, dan ini Deva, anak saya satu-satunya. Terus kamu udah kenal Ozy, kan? 

Nah, kalo yang ini namanya Septian," kata Yuroichi, menunjuk lelaki berkacamata. Rio mengangguk padanya, yang dibalas anggukan singkat. "Dia anak kedokteran, pinter banget, lho, sampai dapat beasiswa!"

Rio mengangguk-angguk kecil, benar-benar kagum pada orang yang sudah kuliah di kedokteran, dapat beasiswa pula. Tak heran "bentuk" Septian seperti itu, mungkin dia terlalu sibuk belajar, ampai rambutnya lepek begitu.

"Yang bawel itu, kamu pasti udah kenal. Dia banyak nyusahin kamu nggak, Rio?" tanya Bu Winda lagi. Kini, Ify siap mengamuk.

"Lumayan," jawab Rio membuat Ify benar-benar mengamuk.

"Aduh, maaf, ya, kalo dia sering ribut, anaknya memang suka heboh sendiri. Tapi sebenarnya dia anak baik, kok," kata Bu Winda sambil nyengir pada Ify yang masih misuh-misuh.

"Besok-besok, kalau mau makan, datang saja ke sini. Kita makan bareng," kata Joe. "Kami semua sudah biasa makan malam bareng."

Rio mengangguk ragu.

"Ya sudah kalau begitu, ayo kita mulai makan!" sahut Joe lagi. "Ayo Rio, makan yang banyak!"
Rio mengangguk pelan sambil memerhatikan anak-anak lain berebutan makanan yang ada di atas meja. Ify menatap Rio heran.

"Rio? Kenapa?" tanyanya membuat Rio menatapnya. "Jangan salahin kita, lho, kalo makanannya habis. Di sini sistemnya seleksi alam."

Rio tertawa garing dan menggapai satu lauk yang tersisa, kemudian menatap nasi yang ada di piringnya. Dia melirik orang-orang di sekitarnya yang sudah mulai sibuk berkicau. Sudah lama Rio tidak merasakan suasana makan malam seperti ini. Rio tersenyum sendiri, dan bermaksud untuk mulai makan.

"Tante, nanti aku bantuin cuci piring," ujar Ify di sela-sela cerita Septian tentang ujiannya. 

Mendengar itu Rio tersentak dan menatap sendok di tangannya yang sudah setengah terangkat di udara. Sendok itu terlepas dengan sendirinya dan jatuh ke piring, membuat suara dentingan keras. Semua orang berhenti berbicara dan menatap Rio yang wajahnya pucat pasi.

"Rio? Kamu kenapa?" tanya Bu Winda, wajahnya khawatir. "Masakan saya nggak enak?"

Rio masih belum bisa menguasai dirinya. Wajahnya tegang dan dari dahinya keluar keringat dingin.

"Maaf, saya ke belakang dulu," katanya, lalu buru-buru bangkit dan pergi meninggalkan meja makan. Semua orang saling tatap dengan pandangan heran.

Rio berjalan secepat mungkin ke kamar mandi, sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Bagaimana mungkin tadi dia berpikiran untuk makan bersama keluarga itu? Bagaimana mungkin kemarin-kemarin dia juga menerima makanan dan minuman dari Ify?

Rio memukul dinding di depannya keras-keras. Napasnya tersengal, muak memikirkan dirinya yang nista itu dengan tamaknya mau merasakan sedikit kebahagiaan tanpa memikirkan akibatnya.

Rio menatap cermin kecil di depannya. Dia tahu dia seharusnya tidak memulai hubungan baik dengan siapa pun. Rio membasuh wajahnya dengan air, menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya.

Rio keluar dari kamar mandi, dia tertegun melihat Ify yang sudah menunggu di depan kamarnya sambil membawa nampan. Wajahnya terlihat khawatir.

"Rio, lo nggak enak badan, ya?" tanyanya sementara Rio berjalan mendekatinya. "Tante khawatir banget, makanya gue bawain aja makanan lo ke sini."

"Nggak perlu," kata Rio dingin sambil melewati Ify. Dia bermaksud masuk ke kamarnya. Ify menatap Rio bingung.

"Tapi, ntar lo sakit," kata Ify lagi, membuat Rio berbalik.

"Apa peduli lo?" tanyanya tak sabar. Ify terdiam. Rio mendesah. "Denger. Jangan pernah bawain apa pun lagi ke sini, karena gue nggak perlu. Ngerti?"

Rio masuk ke kamar dan membanting pintunya tepat di depan Ify yang masih mematung. Rio meremas kepalanya sambil terduduk di belakang pintu.

Lebih baik begini. Memang, lebih baik begini.


T_B_C
gimana? bagus? siapapun yang baca, di komen ya.....

The Truth About Forever (versi ICIL) Cap. 1 : Neighbour From Mars

The Truth About Forever
(Dendam Membuatmu Kesepian)


Chapter 1 : Neighbour From Mars

Sebelumnya nie ya, nie cerita tu buatan Mbak Orizuka, pada kenal kan? yups penuis tuop itu lho. (Idola ku jg. gaya tulisannya simple, dan aku suka.) 
nie cerita TOP BGT. ag aja ampe nangis-nangis. makanya q aku buat Versi ICIL. (Aku juga penggemar ICIL. dan jagoku so pasti, RIO PUBBAY.
monggo dinikmati yo.... OKE......

Keep Reading!!!!

Chapter 1

NEIGHBOUR FROM MARS

Kereta jurusan Bandung berjalan tenang di antara persawahan. Di dalam kereta itu, seorang cowok berambut hitam pekat berumur dua puluh satu tahun tertidur dengan mulut setengah terbuka. Suara dentum-dentum keras terdengar dari headphone besar yang merosot dari telinganya dan malah melingkari lehernya.

Seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun menatap wajah cowok di depannya itu dengan cermat. Ibu dari anak itu juga sedang terkantuk-kantuk. Anak perempuan itu bangkit, mendekati cowok di depannya. Dia memerhatikan iPod yang ada di tangan cowok itu, lalu menjulurkan tangan, bermaksud memegangnya.

"Jangan," kata cowok itu membuat anak perempuan itu tersentak kaget. Namun mata cowok itu masih terpejam. Rupanya, dia hanya mengigau.

Anak perempuan itu menghela napas lega, lalu kembali menjulurkan tangannya, penasaran. Tiba-tiba, cowok itu bergerak gelisah.

"Jangan! Lepasin gue! JANGAN!" teriak cowok itu, sambil membuka mata kejoranya-nya yang sejak tadi tertutup.

Si anak perempuan tadi terlonjak dan akhirnya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa?" seru ibu dari anak itu kaget. Dia terbangun karena teriakan keras si cowok. "Ada apa, Oik?"

Anak perempuan bernama Oik itu langsung menangis, terlebih karena kaget. Ibunya segera menenangkannya, lalu melirik tajam ke arah cowok bermata hitam kejora tadi.

Rio, si cowok tadi, masih terlalu kaget dengan mimpinya. Mimpi buruk yang sudah sekian tahun mengganggunya. Rio menyeka keringat dingin yang mengalir deras di wajahnya, lalu menatap si ibu yang juga masih menatapnya tajam.
"Oh, maaf, Bu," kata Rio setelah melihat Oik yang masih terisak meski dia tak tahu persis apa kesalahannya.
Si ibu tidak begitu peduli dengan permintaan maaf  Rio, bahkan membuang muka. Rio yang merasa bersalah, hanya bisa menggigit bibir sambil membetulkan posisi duduknya. Setelah memastikan si ibu tidak menatapnya lagi, Rio membuang pandangannya ke luar jendela. Kereta masih melintasi persawahan.

Rio menghela napas berat mengingat mimpinya tadi. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan kirinya erat.

Rio sudah sampai di Bandung, kota yang dua hari lalu tidak pernah terpikirkan akan menjadi kota tempat tinggalnya. Hari itu, temannya memberi tahu tempat tinggal seseorang yang sedang dicarinya.

Rio berjalan keluar stasiun, lalu menatap ke sekeliling. Di depannya jalanan ramai dipenuhi orang yang berlalu lalang, dia sama sekali tak tahu menahu mengenai kota ini.
Nekat. Itulah modalnya datang ke kota ini. Rio tak bisa mundur lagi. Dia sudah mendapatkan info penting tentang seseorang yang dicarinya, dan dia tidak mau kehilangannya lagi.

Rio menghela napas, memanggul ranselnya, dan mulai berjalan untuk mencari bus kota.

Rio menatap rumah-rumah di depannya yang tampak seperti bangunan kos. Dia sudah selamat setelah penjual minuman di depan stasiun menyuruhnya untuk naik bus nomor empat. Sekarang, dia berada di kawasan kampus Universitas Bandung dan berniat untuk mencari kos.

Rio tidak memiliki banyak uang. Dia memiliki simpanan, tetapi tidak akan dihabiskannya untuk sebuah kos bertingkat yang mewah. Dia akan mencari kos dengan harga sewa semurah-murahnya. Tidak perlu bagus, dia toh, tidak akan lama berada di kota ini. Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, Rio akan segera pergi.

Setelah dua jam mencari, Rio berhenti untuk makan di sebuah warung makan. Agar hemat, Rio hanya memesan makanan yang harganya paling murah, yang penting bisa untuk mengisi perutnya yang sejak tadi pagi belum diisi.

Rio bertanya pada si penjual di mana kos cowok yang murah. Si penjual menyarankan untuk pergi ke tempat kenalannya yang ada di gang sebelah. Rio pun mengikuti sarannya.

Dan, di sinilah dia berada, di depan sebuah bangunan reot yang sepertinya hanya tinggal menunggu waktu untuk rubuh. Bangunan itu bertingkat dua, tampak menyeramkan karena hampir semua catnya mengelupas aneh. Atap bangunan itu juga tampak seperti akan jatuh.

"Ada nih, yang tinggal di sini?" Rio bergumam sangsi. Namun, dia tetap melangkahkan kakinya masuk.

"OH, MAU KOS? BOLEH-BOLEH!" sahut ibu kos membuat Rio merasa headphone-nya akan sangat berguna untuk menghindari kerusakan telinga. Ibu itu terlalu histeris. Rio merasa curiga, jangan-jangan kos itu tidak berpenghuni.

"Saya mau masuk hari ini juga, Bu," kata Rio lagi.

"MASUK HARI INI JUGA? OH, BOLEH!" sahut ibu yang belakangan ini diketahui bernama Winda itu lagi, matanya sekarang berbinar-binar. Bahkan nyaris berkaca-kaca.

"Saya juga mau bayar lunas sekarang," kata Rio lagi, lalu dengan segera menutup telinganya sebagai antisipasi.



Rio menatap simpati. Winda menyeka air matanya, lalu menggenggam tangan Rio erat. Rio tak sempat menghindar. "Ng... siapa tadi?"

"Mario... Mario Stevano, tapi bisa di panggil Rio," sahut Rio..

"Mm, Rio... kos saya ini udah hampir nggak ada penghuninya... Tinggal dua orang di bawah dan satu orang di atas... Kamu liat sendiri, kan, kondisi kos ini... Nggak ada yang mau kos di sini...," ratap Winda.

"Terus kenap..."

"Terus, saya juga nggak punya duit untuk renovasi...," potong Winda. "Jadi, satu per satu semua pada pergi. Sisanya bertahan karena mereka pada nggak mampu bayar kos-kosan yang lain. Saya kasihan sama mereka..."

Rio mengangguk-angguk dengan pandangan kosong. Dia seolah mengangguk hanya untuk formalitas. Winda sekarang sudah terisak.

"Tapi! Kamu tiba-tiba datang menyelamatkan saya! Terimakasih! Saya benar-benar berterimakasih banyak...," sahutnya, membuat Rio tersenyum kaku.

"Kalo gitu... boleh saya tau di mana kamar saya?" tanya Rio setelah memberi uang kepada Winda. Ternyata biayanya amat sangat murah, jauh di luar perkiraan Rio.

"Oh! Kamar kamu di lantai dua, nggak apa-apa, ya?" kata Winda lagi.

"Nggak apa-apa. Tapi, emangnya kalo lantai dua kenapa?" tanya Rio, curiga.

"Ng... kamar yang dibawah, kecuali yang di tempatin, semua rusak, cuma sisa satu kamar di atas yang bisa dipakai," kata Winda.

"Oh, oke. Nggak apa-apa."

"Tapi, masalahnya, kamar yang di atas itu... Ng... gimana yah... kamar cewek," kata Winda yang sukses membuat Rio cengo.

"Hah? Jadi, ini kos cewek?" tanya Rio yang merasa capek karena sudah mengobrol panjang lebar.

"Bukan, ini kos campuran. Yang cowok di bawah, yang cewek di atas. Tapi berhubung yang di bawah pada rusak, jadi yang sisa cuma di atas," kata Winda sambil nyengir bersalah. "Tapi, nggak apa-apa, kok. Si cewek ini anak baik!"

Winda melongo. Sebenarnya, yang harus merasa terancam itu siapa?

"Bu Winda, saya bukannya nggak mau, tapi apa cewek itu mau?" tanya Rio lagi.

"Oh, kamu tenang aja! Dia pasti mau, kok, pasti mau! Orang dia keponakan saya!" sahut Winda yang kemudian kembali membuat Rio melongo. Orang macam apa yang membiarkan orang asing tinggal di sebelah keponakannya sendiri?
"Tapi..."

"Sudah, sekarang kamu naik aja ke lantai dua. Kamar kamu nomor sebelas! Kalo kamu butuh apa-apa, tinggal datang ke sini aja, ya?" kata Winda tak sabar.

Rio mengangguk, lalu bangkit sambil melirik Winda yang sedang sibuk menghitung uang. Dia menghela napas, memanggul ranselnya, lalu bergerak keluar rumah ibu kos.

"Duhh! Gue kenapa, sih?"

Sebuah teriakan cempreng terdengar dari dalam kamar nomor sepuluh. Penghuninya, Ify, sedang tergeletak di lantai sambil menjambaki rambut sebahunya dengan frustasi.

Tak lama, ia bangun dan menatap komputer yang ada di depannya. Di layar komputer itu, terdapat tulisan-tulisan yang masih menunggu untuk diselesaikan. Ify memelototi tulisan itu, berharap dengan begitu dia akan mendapatkan inspirasi untuk meneruskannya.

"Oh, inspirasi! Datanglah!" serunya lagi sambil mengatupkan kedua tangan dan mengarahkannya ke langit-langit seperti sedang menjampi-jampi orang.

Ify masih menatap layar komputernya, tapi tak ada inspirasi apa pun yang datang. Perempuan itu menghela napas, meraih gelas di sebelahnya, lalu meminum isinya: kopi. Cairan hitam yang akhir-akhir ini selalu diminumnya. 

Ify melirik papan target berhiaskan gambar chappy kesukaannya yang ada di sebelah komputer itu. Di sana tertulis: Menjadi Penulis Best-seller. Rukia mendesah. Jangankan best-seller, jadi penulis saja belum tentu.

"AAAARRGGGHHHH! SEBEEEELLL!" seru Ify membuat Rio yang sedang lewat di depan kamarnya terlonjak kaget.

"Ada apaan, sih?" gumam Rio. Dia bergerak menuju sebuah kamar yang pintunya sudah penuh ditempeli stiker.

Rio menengadah untuk melihat nomor kamar itu, sebelas. Ya, benar, ini kamarnya. Rio melirik kamar di sebelahnya. Pintu itu ditempeli hiasan bertuliskan nama pemiliknya: Ify.

Rio memasukkan kunci di tangannya ke lubang kunci. Sebelum pintu kamarnya terbuka, pintu kamar sebelah sudah terbuka duluan.

Ify keluar kamar sambil menguap lebar. Dia melakukan gerakan-gerakan kecil untuk meregangkan ototnya, belum menyadari kalau ada seseorang di sebelahnya yang sedang menatapnya heran. Ify meregangkan otot leher dengan menoleh ke kiri dan ke kanan, dan saat itulah, dia bengong mendapati seorang cowok asing sedang menatapnya.

Ify mengerjapkan matanya sesaat, lalu berkata, "Elo siapa?"

"Yang mau kos di sini," jawab Rio pendek.

"Oh," ujar Ify sambil mengangguk-angguk, kemudian kembali bersenam-senam. Rio memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke kamarnya. Sesaat kemudian, Ify tersentak. "HEEH? LOE MAU KOS DI SINI?"

Ify segera mendatangi Rio, tetapi pintu kamar Rio terbanting tepat saat Ify hendak bicara. Ify bengong, ia menggedor-gedor pintu itu. Tak ada jawaban.

Ify memandang pintu itu geram, lalu segera tahu siapa biang keladi dari semua ini. Dia langsung berderap ke bawah.

"Tante!" teriak Rukia setelah sampai di rumah tantenya yang tak lain tak bukan adalah Winda, si ibu kos. "Kenapa ada cowok yang ngekos di sebelah kamarku?"

"Ya, nggak apa-apa, kan, Ify," kata Winda santai sambil menghitung uang yang sudah dihitungnya untuk kesekian kali. "Anaknya baek, kok."

“Tante tau dari mana kalo dia anak baek? Emangnya dia kenalan Tante?"

"Bukan," jawab Winda. Sikapnya yang masih sesantai sebelumnya, membuat Ify melongo.

"Bukan? Terus kenapa Tante bolehin dia ngekos di sebelahku?"

"Ify, kamu tau sendiri, di bawah kamarnya udah nggak ada yang bisa di pake. Tinggal kamar yang ada di sebelah kamu," kata Winda lagi.

"Iya, tapi itu, kan, khusus buat cewek! Yang tadi, kan, cowok!" Ify masih berusaha memprotes.

"Dia bayar lunas, Ify," jawab Winda yang semakin membuat Ify menganga.

"Tante!" teriak Ify lagi hingga membuat perhatian tantenya itu teralihkan dari uang.

"Ify, kamu tau, kan, Tante lagi kesulitan uang. Anak-anak kos udah nggak ada yang bayar. Sekarang, ada orang yang mau bayar, yah, Tante nggak bisa nolak," jelas Winda yang membuat Ify tak jadi protes lagi.

"Iya, sih, tapi... apa cowok itu bisa dipercaya? Kalo ntar dia ngapa-ngapain aku, gimana?" tanya Ify, intonasi suaranya sudah menurun.

"Kalo dia ngapa-ngapain kamu, ya malah enak, kan, orangnya cakep ini," ujar Winda santai. Tentu saja Ify melotot mendengar jawaban itu. "Iya, iya. Kalo ada apa-apa, kamu tinggal teriak aja. Kamu jangan lupa selalu kunci pintu." Windai cepat-cepat melanjutkan kalimatnya.

Ify menghela napas, tak tahu lagi harus berkata apa. Sepertinya, mulai sekarang, dia harus terbiasa dengan makhluk asing yang tinggal di sebelahnya.

Ify naik ke kamar dengan tubuh lunglai. Sebenarnya, Ify merasa ngeri harus bersebelahan dengan cowok asing, tetapi berhubung Ify tinggal di sini secara gratis, dia tak bisa protes. Memang benar, tantenya sedang mengalami kesulitan keuangan, jadi Ify harus maklum kalau ia menerima siapa saja yang membayar untuk kos sebobrok ini.

Ify sampai di lantai dua, menatap pintu sebelah kamarnya dengan sebal. Di antara dua puluh kamar, kenapa harus kamar sebelahnya yang masih bisa dipakai?

Ify berdecak sebal, dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Masih banyak yang harus dikerjakannya daripada memikirkan makhluk tidak jelas di sebelah kamarnya itu. Menjadi penulis best-seller, misalnya.

Baru saja ia hendak masuk, pintu di sebelahnya terbuka. Rio keluar dengan handuk tersampir di bahunya. Ify dan Rio saling tatap, seolah mempunyai pertanyaan untuk ditanyakan kepada satu sama lain.

"Elo..."

"Kamar mandinya di mana?" tanya Rio sebelum Ify sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Hah? Oh, di ujung situ," kata Ify sambil menunjuk ruangan di ujung gang.

Rio segera bergerak ke sana. Ify tiba-tiba tersadar. "Eh! Woi, woi! Jangan pake kamar mandi di situ!"

Rio berhenti dan menoleh. "Kenapa?" tanyanya.

"Itu kamar mandi cewek! Kamar mandi cowok yang di bawah!" sahut Ify lagi.

"Tapi kamar gue, kan, di lantai ini, jadi kamar mandinya yang di lantai ini juga dong," Rio membalas.

"Hah? Tapi! Itu kan... kamar mandi cewek!" Ify masih bersikeras meski tak punya alasan yang lain.

"Emang apa bedanya, sih? Sama-sama kamar mandi, kan?" Rio bertanya tak sabar.

"Ya, tapi, kan... jijik!" sahut Ify sambil membayangkan hal-hal apa yang bisa dilakukan cowok itu di kamar mandi. Kamar mandi yang sudah beberarapa bulan terakhir menjadi kamar mandi pribadinya.

"Oh...," gumam Rio. Gumaman itu membuat Ify lega karena sepertinya cowok itu mengerti. Namun, perkiraannya meleset karena setelah itu Rio malah melengos dan tetap bergerak menuju kamar mandi di depannya.

"Woi!" teriak Ify, tapi Rio sudah keburu menghilang di balik pintu kamar mandi. Ify cuma bisa melongo, ia merasakan firasat buruk tentang kehidupannya ke depan bersama cowok aneh itu.
Baru beberapa detik, Rio keluar lagi dari kamar mandi, membuat Ify menatapnya dengan heran. Rio melambai-lambaikan tangan memanggilnya.

"Apa?" tanya Ify sebal.

"Tolong ya, peralatan perang lo diambil dulu," ujar Rio.

Ify mengernyit tak mengerti. Namun, beberapa detik kemudian, Ify langsung teringatkan pakaian dalamnya yang sejak mandi tadi pagi belum diambil.

"HUAAA!" seru Ify histeris dan segera berderap menuju kamar mandi untuk mengamankan pakaian dalamnya yang menggantung di balik pintu. Dia menatap curiga pada Rio yang tampak malas.

"Makasih," kata Rio pendek, dia segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Ify yang melongo parah. Detik berikutnya, Ify tersadar.

""WOII! Elo tadi liat, ya? Heeii!" seru Ify sambil mengedor-gedor pintu kamar mandi, tapi yang terdengar hanya bunyi cebar-cebur orang mandi.

Ify semakin tak bisa berkonsentrasi pada karya tulisnya setelah kejadian aneh tadi sore. Tetangga barunya tiba-tiba datang, memakai kamar mandinya, dan melihat pakaian dalamnya. Sambil berbaring di lantai, Ify menghela napas putus asa.

"Kenapa, sih, saat gue butuh konsentrasi, malah dateng orang aneh...," gumamnya kesal.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah-langkah kaki di luar. Menurut Ify, itu pasti langkah si cowok aneh. Tadi orang itu pergi keluar. Iseng, Ify membuka pintunya dan melongok ke kiri. Rio sedang mencari-cari kunci kamarnya. Di tangannya terdapat plastik besar berisi berbagai macam mie cup dan air mineral.

"Elo bisa makan di rumah Tante Winda," kata  membuat Rio menoleh. "Semua anak kos makan di sana."

"Nggak usah," jawab Rio, sambil tetap mencari-cari kunci di seluruh kantongnya. Ify mengangguk-angguk pelan.

"Soal minum, bakal mahal, lho, kalo selalu beli satu literan. Elo bisa langganan galon di Tante Winda."

"Nggak perlu. Gue nggak bakal lama di sini." Kali ini Rio sudah mulai berkeringat dingin karena tidak menemukan kuncinya.

"Oh, gitu." Ify masih penasaran. "Kalo nggak bakal lama, kenapa ngekos? Pake bayar lunas, lagi."

Rio menghela napas panjang dan menatap Ify. "Gue punya alasan-alasan tertentu yang nggak harus gue bagi sama semua orang," jawabnya dingin yang langsung membuat Ify cemberut.

"Iya, iya, sok rahasiaan amat," ujar Ify keki, dan Rio kembali mencari kuncinya. "Terus, elo asalnya dari mana?"

Rio putus asa mencari kuncinya. Iseng, dicobanya membuka pintu. Ternyata, pintu itu tidak dikunci dan kuncinya masih tergantung di dalam. Rio menghela napas lelah. Dia menoleh pada Ify yang tampaknya masih menunggu jawaban.

"Dari sana," jawab Rio asal sambil menunjuk ke atas. Ify mengikuti arah jari Rio sambil menatap langit-langit. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan.

"Hah? Dari mana?" tanya Ify bingung. "Oh, gue tau. Jakarta, ya?"

"Bukan," kata Rio, hampir mendengus.

"Oh... Atau mungkin dari Depok?" tebak Ify lagi

"Bukan. Gue dari sana," kata Rio sambil menunjuk ke atas lagi. "Dari Mars."

"Hah?" Ify bingung, tetapi Rio sudah masuk ke dalam kamarnya sebelum Ify sempat bertanya lagi. 

Ify menggeleng-geleng simpati. "Hhh... udah gue kira. Anak ini pasti punya kelainan jiwa," gumamnya lagi sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya.


T_B_C