Minggu, 03 Juli 2011

Ku Berikan Cinta Pertamaku Padamu ##part I

Ku Berikan Cinta Pertamaku Padamu
Part. I

Para perawat mengikat seluruh tubuh Rio agar ia tidak bisa bergerak.

"Ini mungkin kejam." kata Dokter. "Tapi jika dia bergerak dengan bebas, ada kemungkinan ia akan terluka."

"Kami mengerti." ujar Ayah Rio.

Rio berteriak dan menolak diperlakukan seperti itu, tapi Ibu Rio menenangkannya. Orang tua Rio sangat sedih, namun tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan untuk memperpanjang nyawa putranya kecuali dengan cara tersebut.
Rio mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin pipis. Tapi ibunya menyuruh Rio pipis di pampers.

Diluar ruang rawat Rio, Ify menemui ayahnya dengan wajah cemberut, kesal karena ayahnya mengikat Rio di ranjang.

"Aku sudah selesai pipis." kata Rio. "Ibu bisa menggantinya sekarang!”
"Bagus." ujar ibunya, tersenyum.
"Maafkan aku." ujar Rio dengan mata berkaca-kaca, memalingkan wajahnya agar orang tuanya tidak bisa melihat ia menangis.

Ibu Rio mengambil pengganti pampers. Tapi mendengar ucapan maaf Rio, ibunya tidak bisa menahan air matanya.
"Biar aku yang melakukannya." kata Ayah Rio cemas. Takut Rio melihat tangisan ibunya. "Kau tunggulah diluar."
Ibu Rio mengangguk dan keluar ruang rawat Rio.

"Maafkan ayah, Rio." ujar Ayah sedih. "Jika bisa, ayah ingin mengganti tempatmu dengan ayah. Tapi ayah tidak bisa melakukan apapun untuk membantu. Maafkan ayah."

Di luar, ibu Rio menangis. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sungguh sangat berat  menjalani semua ini. Melihat anak tercintanya diperlakukan seperti itu untuk memperpanjang hidupnya.

Diruangannya, Dokter Tian duduk termenung memandang hasil ronsen Rio beberapa hari lalu. Hingga seorang suster datang mengambil beberapa berkas diruangannya.
"Agni!!." panggil Dokter Tian, menunjuk ke bagian belakang rok perawat. "Apakah itu olok-olok dari Ify lagi?"

Perawat Agni melihat ke bagian belakang roknya. Rok itu sudah kotor. Penuh dengan cat warna yang digunakan untuk melukis. "Ah, dimana tadi aku duduk?" keluhnya. Ia berjalan mendekati dokter. "Apakah itu Rio...?" tanyanya sambil ikut melihat hasil ronsen yang dihadapan dokter Tian.

"Ya." jawab Dokter sedih. "Jika aku tidak bisa membantunya, aku bukan lagi seorang dokter. Aku juga cemas pada putriku. Kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ibunya meninggal dan kini temannya. Mungkin lebih baik aku tidak membawanya ke rumah sakit, bukan?"

"Mereka berdua bukan hanya sekedar teman." kata Perawat.
Dokter Tian tertawa pahit. "Cinta pertama?"

Ketika Ify sedang bermain di pinggur hutan, Rio mendekatinya. Rio duduk jongkok tidak jauh dari tempat Ify duduk.

"Ify, apa yang kau lakukan?" tanya Rio.

"Aku ingin menemukan semanggi berdaun 4." jawab Ify. "Dengan begitu, permohonan apapun yang kuminta akan terkabul."

"Aku tidak pernah mendengar itu." ujar Rio heran.

"Aku pernah."

Rio ikut membantu Ify mencari semangggi. 

"Jika kau bisa menemukan semanggi berdaun 4, permohonan seperti apa yang akan kau minta?" tanya Rio

"Tidak ada yang istimewa." jawab Ify.

"Kalau tidak ada yang istimewa, kenapa kau mencarinya?" tanya Rio polos.

"Kau sangat menyebalkan." kata Ify. "Aku hanya bosan karena tidak bisa bermain denganmu. Apa kau sudah berhenti memakai pampers?"

Rio cemberut. Ify meneruskan pencariannya.
"Jika kita bisa menemukan semanggi berdaun 4, bisakah aku membuat permintaan? Jika aku besar, aku ingin menjadi astronot. Jika itu terjadi, ayo kita menikah. Itu impianku. Aku ingin menjadi astronot dan menikah denganmu." ujar Rio.

Ify terdiam, menatap Rio.
Rio menunduk. Matanya menangkap sesuatu yang sedari tadi mereka cari.
"Ah, aku menemukannya." katanya, menunjuk daun semanggi itu.

Ify mendorong Rio hingga jatuh dan berteriak pada daun semanggi.
"Semanggi berdaun 4, tolong bantu Rio!" serunya. "Jangan biarkan Rio mati! Biarkan kami bersama selamanya! Tolong sembuhkan penyakitnya! Kumohon padamu! Kumohon padamu! Kumohon padamu!"

Ify menangis keras.
"Ify!" panggi Rio. Ia mendekati Ify dan mencium bibirnya. Ciuman pertama mereka.

"Saat itu, aku tidak tahu apa artinya kematian. Karena itulah, aku membuat janji yang tidak bisa kupenuhi. Itu janji yang sangat buruk."

Ify kecil memotong tirai jendelanya dan membuat gaun pengantin. "Rio ingin menikah denganku." katanya senang pada ayahnya.
Ayahnya memandang Ify heran. Dia hanya tertawa kecil didalam kemarahannya.

Di lain sisi, saat Rio sedang duduk seorang diri di taman, sebuah bola menggelinding di kakinya.
"Bisakah kau melempar bola itu?" tanya seorang anak kecil.
Rio menatap bola itu dengan senang dan ikut bermain.
Setelah itu kondisi Rio kembali  kritis. Rio tidak boleh melakukan olahraga berat. Karena akan berpengaruh buruk pada Jantungnya.

"Aku membuat janji yang tidak bisa kupenuhi."
"Ayo kita menikah saat kita sudah dewasa."


***


Beberapa tahun berlalu tanpa terasa. Semua tumbuh dan berkembang. Dan kini sudah 8 tahun sejak janji menikah itu terucap.

Kembali Rio harus mengunjungi gedung menyeramkan bernuansa putih itu. Sudah tidak terhitung berapa kali dia mengunjunginya. Baik untuk check up ataupun dirawat disalah satu kamar didalam bangunan itu.

Rio dewasa memeriksakan dirinya ke Dokter Tian. Kata Dokter, kondisinya baik. Tapi ia mengingatkan Rio agar tidak berolahraga berat dan tidak memakan makanan yang terlalu manis atau asin diakhir perjumpaan mereka.

"Aku tahu itu." ujar Rio santai. "Sampai jumpa."
Rio meninggalakan ruangan Dokter Tian dengan santai sambil menenteng jaket hitam ditangannya.
Dokter hanya tertawa melihat sikap Rio itu.

Setelah dari rumah sakit, Rio menemui Ify. Ify sedang mendengarkan I-Ponnya sambil bersandar di pembatas jalan di taman depan rumah sakit saat Rio menghampirinya. Lalu mereka berdua bergandeng tangan dan berjalan bersama. Menikmati senja yang indah.

"Apa yang ayah katakan?" tanya Ify.
"Dia bilang aku baik-baik saja." jawab Rio.

Mereka menghabiskan senja itu dengan canda tawa didalam kebersamaan mereka. Membawa tawa kemanamun mereka menginjakkan kaki.


***


Ify dan Rio bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama. Saat ini, mereka duduk di SMP kelas 3 IPA 2.
Saat guru bahasa Inggris sedang menjelaskan di depan, Ify malah menggambar wajah Rio di bukunya.

"Siapa yang bisa menjelaskan arti dari kalimat ini?" tanya Guru sambil menunjuk deretan kata berbahasa inggris d\yang tertulis dipapan putih didepannya. "Alyssa Saufika, coba jelaskan!!"
Ify bangkit dari duduknya dan membaca tulisan bahasa Inggris di papan tulis. Tidak ada satu katapun yang ia mengerti.

"Rio, bantu aku." bisik Ify pada Rio yang duduk disebelahnya.

Rio membacakan arti kalimat di papan tulis. Ify mengatakannya lagi pada Guru.
Guru bahasa Inggris mengangguk. "Orang yang membantumu sangat luar biasa." katanya. "Bagus, Mario."

"Terima kasih." jawab Rio sambil tersenyum.

Ify kembali duduk ditempatnya. Dia mendengus sebal. Rio tertawa kecil melihatnya.

Saat pelajaran olahraga, seperti biasa Rio hanya bisa duduk diam dipinggir lapangan, menonton teman-temannya berolahraga. Ify bermain basket bersama teman-temannya. Ia sangat canggih melakukan olahraga itu.

Ketika Ify dan kedua temannya berjalan seusai berolahraha, tiga orang murid laki-laki menyiram air pada Ify.

"Maafkan kami." kata salah satu murid laki-laki. "Kami ingin membersihkan lapangan."

"Apa yang ingin kalian lakukan?!" seru Ify kesal.

"Wah, merah jambu!" seru murid laki-laki lain, melihat baju dalam Ify.
Ify menunduk.

"Minta maaf!" seru teman-teman Ify.

"Untuk apa? Kami tidak melakukan apapun." jawab murid laki-laki.

Mendadak Rio datang. Ia menyelimuti badan ify dengan jaket hitamnya.
"Itu kecelakaan! Kecelakaan!" seru murid laki-laki.

Ketiga murid itu beranjak pergi, tapi Rio mengejar dan menyerang mereka. Ia memukuli salah seorang dari mereka.

"Kalian pikir apa yang kalian lakukan?!" seru Rio marah.

Kedua murid lain berusaha menarik Rio, namun Rio tidak menggubris dan terus memukuli murid itu.

Ify berlari cemas. "Aku tidak apa-apa!" katanya, mendorong Rio. "Aku tidak apa-apa!"
Rio terus berusaha menyerang. Ify terpaksa menamparnya.

"Tolong hentikan!" seru Ify cemas.

Rio berhenti memukul mereka. Dia terduduk dihadapan Ify dengan nafas yang tidak beraturan. Semantara ketiga murid tadi sudah kabur entah kemana.

Ify membawa Rio ke ruang kesehatan. Rio tiduran diatas tempat tidur diruangan itu.
"Kenapa kau marah karena hal kecil seperti itu?" tanya Ify. "Itu hanya olok-olok."

"Mereka melihat pakaian dalammu." kata Rio, membelakangi Ify. "Aku belum pernah melihatnya."

"Apa?" Ify tertegun heran.

"Bagaimana bisa mereka melihat pakaian dalam merah jambumu sebelum aku?" keluh Rio.

"Bodoh!" seru Ify, memukul kepala Rio. "Kenapa kau membahayakan nyawamu hanya demi masalah sepele?"

"Itu tidak sepele!" seru Rio, bangkit dari tidurnya. "Itu penting! Aku pacarmu! Tentu saja pacar harus melihatnya lebih dulu. Kita sudah berjanji ketika masih kecil."

Ify diam sejenak, kemudian menutup tirai pembatas.
"Baik, aku akan membiarkanmu melihatnya pertama kali." ucapnya.
"Apa?" Rio memandang Ify tidak mengerti.

"Aku bisa menunjukkan padamu kapan saja." kata Ify. "Tolong jangan lakukan tindakan gegabah seperti ini lagi."

Ify  melepas jaket Rio. Dari luar baju olahraganya yang basah, baju dalam merah jambunya terlihat. Ketika Ify hendak membuka kaosnya, mendadak Rio berteriak.
"Tunggu!" seru Rio, memegangi dadanya. "Dadaku sakit."

Ify memakai kembali jaket Rio. "Jika kau begitu antusias, aku tidak akan pernah menunjukkan padamu! Tidak akan pernah!" seru Ify sambil membuka kembali tirai pembatas dan pergi dari sana.

Ify hendak berjalan keluar dari ruang kesehatan, tapi Rio mengejarnya.
"Tunggu!"

Ify berlari, menghindari Rio. Rio mengejar Ify. Yah, kejar-kejaran deh!
Akhirnya Rio berhasil menangkap Ify dan memeluknya dari belakang.

Mendadak terdengar suara murid lewat. Rio dan Ify menunduk, bersembunyi agar tidak terlihat.

Didalam tempat persembunyiannya, Rio dan Ify saling berhadapan. Rio meraih tangan Ify, kemudian mencium bibirnya.

"Alyssaku tersayang, aku menyadari sesuatu ketika aku dirawat di rumah sakit untuk ke tujuh kalinya. Ada sesuatu yang kuinginkan. Jika aku bisa keluar dari rumah sakit, aku ingin menciummu. Menggenggam tanganmu. Memelukmu dengan erat, kemudian putus denganmu. Ketika kau bersamaku, kau selalu menangis. Ketika di pikiranku hanya ada Ify, tapi bagi Ify, di dalam pikirannya selalu ada penyakitku. Kau selalu cemas mengenai kapan aku mati. Agar kau tidak selalu menangis, kurasa seharusnya aku putus saja denganmu, saat aku masih hidup."

Ketika berciuman dengan Rio, Ify menangis. Rio kemudian memeluknya erat. Sangat erat seolah tidak ingin dipisahkan oleh ada dan siapapun. Termasuk waktu dan takdir Tuhan.


***


Didalam rumah yang sederhana, Rio dan kedua orang tuanya duduk bersama diruang keluarga. Rio mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa ia ingin bersekolah di SMA Prasetya. Tapi orang tuanya menolak. Jika bersekolah disana, maka Rio harus tinggal di asrama. Kedua orang tuanya tidak akan bisa menjaga Rio.

"Aku ingin membuat kenangan indah sebelum aku mati." kata Rio. "Aku ingin mencoba segalanya tanpa takut. Agar aku tidak menyesal."

Kedua orang tuanya diam sejenak.
"Apa karena Ify?" tanya Ibu Rio. "Kau melihat pilihan sekolah Ify, bukan?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Ify."

Setelah itu Ibu Rio mendatangi Ify dan memohon pada Ify agar membujuk Rio mengambil SMA lokal. Dia mengatakan kalau Rio memilih disekolah Prasetya High School karena Ify juga bersekolah ditempat itu.
"Tante, kurasa kau salah." kata Ify, terlihat terkejut mendengar informasi itu. "Dengan nilaiku, mustahil bagiku diterima di SMA Prasetya. Aku baru tahu kalau Rio mendaftar di Prasetya." ucap Ify.


***


Di sekolah.
"Rio sudah mempersiapkan ujian masuknya?" tanya Ify, menoleh ke arah Rio yang sedang serius menekuni bukunya. "Kemana kau akan mendaftar?"

"Prasetya." jawab Rio singkat.
"Wah!" seru Ify  keras, membuat semua murid menoleh. "Orang ini akan mendaftar di Prasetya High School!"

"Diam!" seru Rio.
"Aah, nilaiku tidak akan cukup." keluh Ify. "Aku tidak ingin masuk SMA. Aku punya rencana lain. Rencana yang sudah kita buat saat masih kecil. Apa kau lupa?"

Rio diam.
"Sepertinya kau lupa." gumam Ify.

Rio menunjukkan surat penerimaan SMA Prasetya pada ibunya. "Dengan ini, aku bisa putus dengan Ify secara wajar."


Hari kelulusan.
Rio mencari-cari Ify, namun tidak bisa menemukannya.
Mendadak, seseorang memukul kepalanya dengan keras. Dia Ify. "Siapa yang kau cari?" tanya Ify.

"Aku tidak mencari siapa-siapa." jawab Rio.
"Begitukah?!" seru Ify, berjalan mendahului.
"Bagaimana hasil ujian masuk ke SMA pilihan keduamu?" tanya Rio.
"Aku gagal." jawab Ify. "Aku kagum pada diriku sendiri. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku sebodoh ini."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Mungkin aku akan mencari kerja." jawab Ify acuh. Ia mengeluh. "Sepertinya aku hanya bisa berada di samping Rio sampai SMP."
"Ify..." panggil Rio ragu. Walaupun berusaha, tapi Rio tidak sanggup mengucapkan selamat tinggal pada Ify.

Malam itu, Rio duduk diam di kamarnya, memandang foto-fotonya bersama Ify sejak kecil. Ia merasa bimbang dan frustasi. Beberapa kali dia berusaha memantabkan hati akan jalan yang dia pilih. Dia ingin Ify bisa hidup bahagia, tanpa harus ikut menanggung akibat dari penyakitnya. Lagipula, waktu yang diberikan tuhan padanya sudah diujung batas.


***


Rio masuk ke Prasetya. Saat Kepala Sekolah mengucapkan pidatonya, Rio terlihat sangat bosan dan mengantuk. Walau dia siswa berprestasi, dia tipikal orang yang tidak betah mendengarkan pidati berbau ceramah. Karena sudah sering dia mendengarnya.
Pidato akhirnya selesai.

"Selanjutnya." ujar pembawa acara. "Kata sambutan dari murid baru. Perwakilan murid baru adalah Alyssa Saufika."

Rio kaget dan menoleh.
Ify berjalan dengan percaya diri ke depan untuk mengucapkan sambutannya.

Ify berdiri di podium. Matanya jelalatan ke arah murid-murid, mencari sosok Rio.

"Mario Stevano! Aku menemukanmu!" seru Ify setelah menemukan Rio duduk diantara murid lelaki. "Kau terkejut? Kau ingin putus denganku? Terlalu cepat sejuta tahun! Aku belajar! Aku mencari guru private dan belajar dengan keras."

Para murid bingung mendengar celotehan Ify.
"Terima kasih padamu aku mendapat nilai tertinggi di ujian masuk." kata Ify. "Aku murid perwakilan dan kau hanya murid biasa. Rio bodoh! Kau meremehkan aku! Terlalu cepat sejuta tahun!"

"Aku tidak meremehkanmu!" seru Rio, bangkit dari duduknya.
"Rio bodoh!" teriak Ify. "Aku sama sekali tidak berniat masuk SMA! Aku ingin masuk organisasi!"

"Hentikan!" seru pihak Prasetya, menarik Ify dari podium.
Ify  mendorong mereka dengan kasar hingga jatuh ke lantai. "Hari minggu aku ingin ikut kelas memasak dan belajar merangkai bunga. Dan bahasa Inggris. Aku ingin menikah. Hanya tinggal 2 tahun lagi. Aku senang menunggu Rio berumur 18. Apa kau lupa? Janji masa kecil kita?"

Rio terdiam. Kata-kata Ify memenuhi otak dan hatinya. Membuatnya tidak mempunyai kekuatan  untuk membalas dan berucap.

"Jangan meremehkan aku." ujar Ify. "Aku tidak akan pernah melupakan janji itu. Ingin mencampakkan aku? Terlalu cepat seratus juta tahun! Aku ingin menjadi pengantin paling cantik di dunia! Apa kau dengar?!"

Makin banyak orang yang naik ke podium untuk menarik Ify turun, tapi Ify mendorong mereka semua. "Lepaskan aku!" serunya, meronta. "Aku belum selesai!"
Hingga akhirnya, mereka berhasil menarik Ify turun dari podium.

Rio dan Ify meneruskan berdebatan mereka di taman sekolah. Mereka jadi bahan tontonan murid-murid lain. Semua mata memandang mereka dengan tatapan aneh. Baru mereka temui spesies manusia seperti dua orang itu.

"Tentu saja aku tidak lupa!" seru Rio. "Tapi, walaupun tidak lupa..."
"Kau melamar dan menciumku!" seru Ify. Mengingatkan Rio akan kejadian dimasa kecil mereka bertahun-tahun lalu. "Dan kau masih bisa mengatakan itu?"
"Yang ingin kukatakan..."
"Apa?" potong Ify.

Rio terdiam sejenak. Hingga dia menemukan kata yang lebih baik saat ini.
"Dan dananmu terlalu berlebihan!" kata Rio, mengejek.
"Diam!" seru Ify, membalas. "Apa yang salah dengan itu. Lihat rambutmu!"
"Mereka benar-benar akan menikah." celetuk salah seorang murid.
"Diam! Siapa yang bilang?"
"Memang!" kata Ify. "Karena itu, tidak ada seorangpun yang bisa mengambil orang ini dariku." Dia merangkul lengan kiri Rio dengan erat. Menunjukkan kebersamaan mereka.
"Diam." kata Rio, berjalan pergi. "Kau bahkan tidak tahu apa yang dirasakan orang lain."
"Tunggu!" seru Ify, mengejar Rio.

Tanpa mereka ketahui, seorang murid laki-laki menonton mereka. Tersenyum sinis dengan tataan mata yang tajam. Seorang mengisyaratkan akan terjadinya tragedi didalam hubungan mereka suatu saat nanti.


Part I…….. End!!!!

Di Dalam Kelopak Bunga Aster

DI DALAM KELOPAK BUNGA ASTER
oleh: Naeny

Ni ceritaku sendiri. Tapi dah q posting di blog gen22.blogspot.com.
Dah cukup lama sih.
Happy reading!!!


Hari-hari yang sama kembali terlewati. Tanpa rasa, tanpa cerita yang pasti. Tanpa dia yang pernah dan selamanya ada didalam hati. Ini bukan kisah ku. Namun ini adalah kisah seorang teman terbaikku.

Kisah ini berawal ketika hujan mulai turun membasahai tanah yang fana ini;
Tahun ajaran baru dimulai. Akan ada tempat baru dan teman baru. Harus dilewati bagi murid kelas satu yang baru. Dan saat inilah awal pertemuan antara Naya dengan cinta pertamanya, Dira.

Naya adalah gadis cantik yang banyak dikagumi. Dia menjadi primadona sekolah sejak pertama masuk. Selain cantik, Naya adalah pribadi yang ceria dan begitu menonjol diantara siswa perempuan lainnya.
Sedangkan Dira hanyalah seorang siswa biasa yang tidak begitu menonjol. Memang ku akui kalau dia termasuk cakep. Namun entah kenapa dia tidak pernah mencoba menjadi yang terbaik.

Saat awal MOS, Dira dihukum karena datang terlambat. Dia disuruh senior untuk mengumpulkan daun semanggi berdaun lima dibelakang sekolah. Semua orang tahu kalau semanggi hanya memiliki 3 ato 4 daun. Tanpa protes, Dira melaksanakan hukumannya itu.

Sudah lama Dira mencarinya. Namun tidak juga dia menemukan sesuatu yang dia cari. Hingga hujan pun mulai membasahi bumi.
Dari kejauhan, Naya melihat Dira yang sedang berteduh dibawah pohon. Pemuda itu terlihat kedinginan. Walau tahu pekerjaannya akan sia-sia, dia tetap kekeh berada ditempatnya.
Naya menghampiri pemuda itu. Dia membentangkan payung diatas kepala Dira.

“Elo goblok ato bego sih? Mana ada semanggi berdaun lima?” ucap Naya jengkel.

“Aku pernah melihatnya.” jawab Dira singkat.
Naya duduk disamping Dira. Dia melihat keyakinan dari sorot mata Dira. Hatinya pun tersentuh.

“Kita taruhan. Kalau benar ada, gue akan memenuhi semua permintaan elo. Tapi kalau sampai sore enggak ketemu, elo harus traktir gue sepuasnya. Setuju?” ucap Naya sembari mengulurkan tangannya dihadapan  Dira sebagai sarat persetujuan.
Dengan ragu, Dira menyambutnya.
Mereka mencari daun semanggi bersama-sama.

Hingga tiba-tiba, Dira berseru senang. Sebuah senyuman lebar mengembang dibibirnya. “Aku menemukannya..”
Dan benar, Dira menemukan semanggi berdaun 5. Naya tersenyum senang.

“Elo hebat, pangeran semanggi…” ucap Naya.
Tanpa sempat saling mengucapkan nama, mereka berpisah. Tiba-tiba saja Dira menghilang dari sisi Naya tanpa dia sadari.
Hari MOS kedua, dan seterusnya, Naya tidak melihat Dira. Pemuda itu seperti ilusi yang sesaat tlah menghilang. Namun perasaannya bukanlah ilusi. Perasaan yang berbeda, terasa saat bersama Dira.
Pemuda itu seperti hilang ditelan bumi.

***

Masa MOS telah usai. Saatnya pelajaran dimulai.
Naya duduk dikelas yang sama denganku. Dia berada disampingku. Jadi terlihat jelas kegalauan hatinya karena ketidakberadaan Dira.
Pelajaran hampir dimulai. Perhatian Naya hanya terarah pada keberadaan Dira saat ini. Dimana dia? Kenapa dia tidak pernah datang? Dia seperti hantu yang terus membayang hari Naya.
Bel masuk berbunyi. Seorang anak datang bertepatan saat guru memasuki ruang kelas.
Betapa terkejutnya Naya saat melihat anak itu. Yup benar!! Dia Dira. Perasaannya yang tadi kalang kabut berubah senang. Senyuman lebar mengembang dari telinga hingga telinga.
Dira duduk disebah bangku kosong. Dia sebangku dengan seorang pemuda yang terlihat asyik diajak berbicara. Mereka saling mengenalkan diri.

“Raizkadira. Panggil saja Dira.” ucapnya ramah sembari mengulurkan tangannya.

“Arizal. Panggil aja Izal. Calon cowok idaman disekolah ini.” ucapnya, meyambut uluran tangan Dira.
Dira tersenyum geli mendengarnya.

“Oh Ya? Berarti aku berutung dong bisa sebangku denganmu.” ucap Dira.

“Bahasanya baku amat. Pake aku kamu segala.” ucap Izal.

“Aku terbiasa. Soalnya dirumah pakai ini. Sorry deh kalau kamu terganggu.” ucap Dira.

“Enggak biasa aja dengernya. Tapi asyik sih!!” ucap Izal.
Naya terus memperhatikan Dira yang duduk persis didepannya. Dia penasaran kemana dia selama ini. Selain itu kenapa dia tidak mengenalinya. Padahal hari itu adalah saat yang paling berkesan.

“Pangeran Semanggi!!” panggil Naya pelan.
Dira menoleh. Naya tersenyum menyambutnya.

“Selama MOS elo kemana? Kok ga kelihatan?” tanya Naya.
Belum sempat Dira menjawab, Bu Enny menegur Naya karena berbicara saat pengenalan siswa baru yang ada dikelas.

“Kanaya Indah Pertiwi?” seru Bu Enny.

“Iy..iya Bu!” sahutnya gugup.

“Coba sebutkan nama anak yang duduk dihadapan Ibu!”
Masalah datang diawal sekolah. Dari tadi memang dia tidak memperhatikan Bu Enny. Tapi dia memperhatikan Dira yang ada dihadapannya. Dia benar-benar habis kali ini. Sama sekali dia tidak tahu.

“Adrian Putra.” ucap Dira pelan.
Naya langsung menyebutkan nama yang Dira katakana. “Adrian. Adrian Putra.”

“Bagus.”
Kali ini Dira menyelamatkannya dari hukuman guru super killer disekolah. Untung ada Dira. Kalau tidak, dia pasti akan menghabiskan hari ini diruang hukuman.

“Terima kasih.”

***

Naya pulang kerumahnya. Bagitu meletakkan tas, dia mengambil sebuah foto dari meja belajar. Didalam figura itu tergambar sebuahgambar  seorang pemuda yang tersenyum senang.

“Kakak, sepertinya aku jatuh cinta.” ucapnya. “Tapi sepertinya dia tidak merasakan perasaan yang sama. Kalau kakak ada disini, apa yang akan kakak katakana padaku?” tanyanya.
Foto yang diajaknya berbicara hanya terdiam. Tetap dan selalu terdiam. Seandainya dia masih bernafas dan hidup didunia ini, Naya akan sangat senang.
Tegeletak setangkai bunga Aster dihadapannya. Naya mengambilnya. Diamatinya bunga itu dengan senyum yang mengembang.

Ditempat lain, Dira juga pulang kerumahnya. Dia langsung masuk kedalam kamarnya. Dia memandang sebuah foto yang terpajang didinding kamar. Wajahnya terlihat sangat sedih.

“Maafkan aku!! Maafkan aku!!” gumamnya. Tanpa terasa air matanya meleleh.

“Maafkan aku!!”
Dira terus mengatakan kata itu. Berulang-ulang, hingga tidak terhitung bayaknya.
Dira histeris didalam kamarnya. Dadanya sesak. Jantungnya terasa sangat sakit seperti ada sesuatu yang menekan. Sakit didadanya tidaklah sesakit hati penuh penyesalan.
Kelopak bunga aster yang telah kering, satu persatu gugur dari tangkai yang menopangnya. Dialah yang menemani Dira merasakan rasa sakitnya. Tiada yang lain. Hanya Dira dan kelopak bunga Aster yang berguguran.

***

Olahraga adalah bidang yang paling Naya suka. Dia begitu semangat menyambut hari ini.
Saat pelajaran olahraga dimulai, dia tidak melihat Dira dilapangan. Semua teman termasuk Izal tidak tahu dia kemana. Karena penasaran, Naya mencari Dira dikelas. Dan banar saja, Dira duduk termenung didalam kelas sendirian.
Naya baru sadar, dia tidak pernah melihat senyum Dira seperti saat pertama mereka bertemu. Dira hanya terdiam. Tidak pernah berbicara kecuali pada Izal, teman sebangkunya. Tidak pernah dia tersenyum senang. Kadang dia hanya mempersembahkan senyum yang dipaksanya.
Naya menghampirinya dan bertanya.

“Kenapa tidak ikut olahraga?” tanya Naya.

“Tidak apa-apa.” jawab Dira singkat. Naya memegang dahi Dira. Buset!! Badannya panas sekali. Hampir melebihi suhu diluar.

“Elo sakit. Ke UKS ya?” ajak Naya.

“Tidak perlu. Terima kasih!!” Naya duduk disebelah Dira. Tidak diperdulikannya pelajaran olahraga yang sudah dimulai.

“Hei.. pangeran Semanggi, elo kemana waktu MOS? Berhari-hari enggak kelihatan.” tanya Naya.

Dira menoleh. “Kenapa kau selalu memanggilku Pangeran Semanggi?”

“Karena elo bisa nemu semanggi yang langka. Hanya orang tertentu yang bisa menemukannya.” Dira tersenyum senang mendengar ucapan Naya yang aneh.

“Kan semakin cakep kalau senyum.” puji Naya. Dira berdiri. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Naya.

“Mau kemana?” tanya Naya.

“UKS.” Dira pergi meninggalkan Naya dikelas sendirian. Naya semakin tidak mengerti. Kenapa dengan Dira? Dia tidak sehangat dulu. Dia tidak seramah dulu. Ada apa?

***

Dira duduk sendiri diatap gedung sekolah. Naya menghampirinya dan duduk disebelah Dira yang hanya membisu.

“Kenapa elo ada disini? Gak kekantin atau perpus kayak yang lain?” tanya Naya.

“Aku tidak suka tempat ramai. Dan aku lebih suka sendiri.”
Perkataan Dira seperti menyindir Naya yang datang ketempatnya ingin sendiri. Naya menyadari itu. Dia berdiri dan beranjak pergi. Namun Dira memegang tangannya. Naya terdiam tidak percaya.

“Duduk!” pinta Dira. Naya kembali duduk ditempatnya.

“Kamu suka bunga Aster?” tanya Dira.

“Tidak terlalu. Tapi seseorang yang aku kenal menyukai bunga itu. Karena…”

“Bunga itu seperti bintang yang jatuh dari langit.” Naya memandang Dira tidak mengerti. Kenapa dia bisa tahu itu?

“Apa benar orang yang sudah meninggal akan menjadi Langit?” tanya Dira. “Mereka bisa melihat kita. Tapi kita sama sekali tidak dapat melihat mereka. Sungguh tidak adil.”

“Iya sungguh tidak adil. Dia bisa lihat gue. Tapi kenapa gue enggak bisa lihat dia? Menyebalkan.”

“Kalau aku ingin menjadi setiap kelopak bunga aster.”

“Kenapa?”

“Karena bila kelopak bunga Aster layu, perjalanannya tidak akan berakhir. Mereka akan diterbangkan oleh angin yang sejuk.”
Dira terdiam. Naya juga terdiam. Mereka memandang langit dan mengenang seseorang yang sudah pergi kesebuah tempat yang sangat jauh. Masing-masing berada pada dunianya sendiri.

“Gue enggak ingin elo jadi kelopak bunga aster.” ucap Naya. “Karena gue pengen elo selalu ada didekat gue.” Dira sangat terkejut mendengarnya.

“Maksudnya?”

“Gue butuh elo Dir. Bukan sebagai kelopak bunga, tapi sebagai Dira yang hidup dan bernafas disamping gue.” ucap Naya.

Dira semakin terkejut. Saat itu jantungnya terasa nyeri. Sangat sakit. Tanpa memperdulikan Naya, Dira pergi berlari meninggalkan gadis itu.
Naya terpaku ditempatnya. Dia tidak menyangka reaksi Dira akan seperi itu. Dia meyalahkan kebodohannya karena begitu jujur pada Dira.

***

Satu demi satu kelopak bunga Aster dikamar Dira mulai layu. Saat kelopak terakhir jatuh, maka selesai sudah masa yang dimilikinya.
Dia mempunyai janji pada Tuhan. Ketika tangkai terakhir layu dan kelopak bunga terjatuh, dia akan menurut untuk dibawa-Nya pergi. Dia tidak lagi berontak. Dia tidak lagi menolak.

Beberapa hari lalu, kondisinya kembali kritis dan terpaksa masuk rumah sakit. Tuhan telah memanggilnya. Namun dia meminta agar Tuhan tidak terlebih dahulu memintanya kembali. Dia ingin waktu hingga tiga tangkai bunga Aster dikamarnya layu dan gugur. Karena masih ada sesuatu yang belum dia selesaikan.
Kini hanya tinggal satu tangkai yang masih bertahan. Bunga Aster berwarna Putih.
Dira sadar benar, waktunya akan segera habis.

Sejak lahir dia tahu kalau umurnya tidak akan sampai 17 tahun. Dia tahu pasti. Namun suatu hari, datang dua bersaudara yang memberinya harapan baru. Orang-orang yang selalu membuatnya ingin bertahan dan terus hidup. Dan kini dia adalah orang yang menghancurkan mereka.
Dira memegang dadanya yang rapuh. Jantungnya masih berdetak. Nafasnya masih terasa.

***

28 Januari,
Hari terburuk didalam kehidupan Naya. Hari inilah dia kehilangan kakak yang paling disayanginya. Hari inilah awal dari perubahan hidupnya.

Tiga tahun lalu, dipagi hari yang sangat sejuk. Sebuah motor menabrak kakaknya, Nathan yang sedang bersepeda untuk mengantar koran. Nathan adalah anak yang ulet. Walau orang tuanya mampu untuk membiayai hidupnya, dia tetap bekerja. Dia adalah kakak sempurna dimata Naya.
Karena terlalu shock atas kematian anaknya, ibu Naya jatuh sakit dan meninggal satu bulan kemudian. Ini adalah bencana terbesar bagi Naya. Dia sangat membenci pengendara motor yang menabrak kakaknya.

Naya pergi kejalan tempat kakaknya menghembuskan nafas terakhir. Dia membawa setangkai bunga Aster berwarna merah. Jalanan itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Dia melangkahkan kaki disebuah sudut jalan. Dibawah tiang listrik yang berdiri kokoh. Dan seperti biasa, sudah ada setangkai bunga Aster berwarna putih disana. Entah siapa yang meletakkannya. Setiap tahun bunga itu sudah ada disana. Naya berpikir kalau itu adalah Izka. Taman mereka sejak kecil yang sekarang entah dimana keberadaannya.

“Izka datang lagi ya kak? Kenapa sih dia tidak menemuiku? Gak tau apa kalau cintaku sudah berpaling pada orang lain, dan orang itu tidak memperdulikannya. Kalau kakak sama dia ada pasti tu anak udah bonyok..!” ucap Naya pada sosok yang tak beraga. Naya meletakkan bunga itu disamping bunga yang lain.

“Semoga kakak senang disana.”
Naya melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Hari ini dia harus sekolah dan kembali bertemu dengan Dira. Dia masih malu karena pernyataan cintanya kemarin.

“Rasanya hari ini gue enggak sekolah aja…” gumamnya.

***

Naya menginjakkan kaki kedalam kelasnya. Dia tidak melihat Dira. Izal hanya sendirian ditempatnya.

“Cari Dira?” tebak Izal.

“Enggak. Sok tau lo..”

“Jangan bo-ong. Kelihatan kok dari muka lo..” goda Izal. Naya sangat sebal. Susah payah dia menahan diri untuk tidak bertanya dimana Dira, eh malah Izal menyodorkan pertanyaan seperti itu.

“Dia ada di UKS. Gue yang anter kesana karena badannya panas banget.” ucap Izal. Tanpa dikomando, Naya langsung pergi ke UKS. Biar bagaimanapun dia cemas pada pemuda itu.
Didalam ruang UKS, Naya melihat Dira yang sedang terbaring. Awalnya dia ingin masuk. Namun setelah mengingat kejadian kemarin, dia mengurungkan niatnya. Namun saat beranjak pergi, Dira memanggilnya.

“Naya?!!” Naya berbalik dan masuk kedalam ruang UKS.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Dira. Naya mengangguk. Dira bangkit dari tidurnya.

“Maaf untuk yang kemarin. Aku sangat terkejut.” ucap Dira. “Sebenarnya, aku ingin kita mencobanya! Bagaimana? Setidaknya beri waktu aku untuk dekat sama kamu.” Naya tertegun tidak percaya. Oh My God!! Ini seperi mimpi baginya.

“Bila kita saling cocok, kita akan melanjutkan hubungan ini. Tapi….”

“Apa?”

“Kamu mau menerima aku apa adanya? Nanti pasti terlihat bagaimana dan siapa aku. Bagaimana kalau aku adalah orang yang paling tidak ingin kau temui? Bagaimana kalau aku tidak seperti yang kau bayangkan? Apa kau tetap akan menerima aku?”
Naya semakin tidak percaya. Dira yang selama ini dia suka, ingin menjalin hubungan dengannya? Naya sangat bahagia mendengar itu. Walaupun hubungan mereka masih percobaan, dia tidak perduli. Yang penting dia akan selalu disamping Dira.

Dengan malu-malu Naya menjawabnya. “Aku akan menerima kamu apa adanya. Siapapun kamu, bagaimanapun kamu. Cinta ini tidak akan berubah…”
Saat itu dia langsung memeluk Naya dengan senangnya. Naya pun menyambutnya dengan senang pula.
Naya tidak percaya hari ini akan terjadi. Sungguh ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup Naya.
Aku melihat kebersamaan mereka dari sudut ruangan. Mereka terlihat begitu bahagia. Aku tersenyum senang. Dan berharap hubungan mereka akan lancar…. Somoga…

***

Hubungan Naya dan Dira berjalan begitu hangat. Mereka bisa saling mengerti dan memahami. Dira sering mengajak Naya pergi kesebuah taman yang penuh dengan bunga Aster. Dira sangat menyukai bunga aster. Katanya bunga Aster adalah bunga malaikat. Warnanya yang beraneka ragam membuat kegembiraan didalam hidup manusia. Dan dia percaya pembawa kebahagiaan didunia ini adalah sang malaikat.
Namun Naya tidak setuju akan itu. Menurutnya pembawa kebahagiaan didalam hidupnya bukanlah Bunga Aster, tapi Dira. Dira tersipu malu mendengar itu.

“Apa yang kamu sukai dari aku?” tanya Dira ditaman yang penuh dengan bunga Aster itu.

“Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu?” tanya Naya. “Saat itu kamu kehujanan karena mencari daun semanggi. Bukannya sebel, eh kamu malah senang. Saat itu aku melihat kamu tersenyum. Sejak itulah aku menyukaimu. Senyummu  adalah hal yang paling berharga didalam hidupku, Pangeran Semanggi…” jelas Naya.
Dira tersenyum mendengarnya. Dan Naya selalu senang saat melihat senyum itu.

“Bagaimana kalau aku bukan orang baik? Apa senyumku masih begitu berharga untukmu?” tanya Dira.

“Kenapa tanyanya kayak gitu sih?”

“Bukan apa-apa.”
Dira kembali terdiam. Dia memetik satu tangkai bunga Aster putih untuk Naya.

“Suatu saat kalau aku enggak ada, dan kamu ingin bertemu dengan aku, pandanglah kelopak bunga Aster ini. Kalua kamu ingin menangis, cabuti kelopak bunga ini dan biarkan dia pergi bersama angin. Jangan ada satu air mata pun yang jatuh dari mata kamu!!” ucap Dira.
Naya sebal karena ucapan Dira yang aneh. Seolah terisyaratkan kalau Dira tidak ingin berlama-lama berada disampingnya. Dan Dira selalu mengatakan itu saat mereka berada ditempat itu.

“Aku capek kalau kamu selalu mengatakan hal aneh itu…” ucap Naya marah. Dia beranjak dan pergi meninggalkan Dira.
Dira hanya terdiam tanpa ada keinginan untuk mengejarnya. Dia hanya memandang punggung Naya yang mulai menjauh.

“Maafkan aku!!”

***

Naya masih marah karena kemarin. Namun dia juga tidak bisa bila harus menjauhi Dira. Karena itu dia mengalah dan memutuskan untuk berbicara pada Dira.
Didalam kelas, dia tidak melihat Dira. Dia bertanya pada Izal. Dan pemuda itu mengatakan kalau Dira tidak masuk karena sakit.
Sepulang sekolah, Naya pergi kerumah Dira. Dia bertanya alamat Dira pada Izal yang sudah pernah pergi kerumah Dira.

Rumah Dira terletak didaerah pondok indah. Tempat rumah orang-orang berduit. Memang Dira pernah bercerita kalau ayahnya mempunyai perusahaan Meubel. Sedangkan ibunya mempunyai Butik di Singapura.
Naya masuk kedalam pekarangan sebuah rumah no 5. Rumah bercat putih itu terlihat begitu mewah. Dihalamannya tertanam berbagai tumbuhan dan bunga yang harum baunya. Didomisili dengan bunga Aster disetiap sudutnya.
Naya menekan bel. Tidak lama kemudian, keluar seorang wanita tua dari rumah itu. Kelihatannya dia adalah pembantu rumah tangga.

“Cari siapa Neng?” tanya wanita itu.

“Diranya ada?”

“Oh Mas Dira. Ada. Sedang istirahat dikamar. Silahkan masuk dulu Neng..”

Naya masuk kedalam rumah besar Dira. Terlihat begitu mewah. Banyak perabotan antik yang menghiasi seluruh sudutnya. Foto keluarga lengkap terpajang didinding ruang tamu. Terlihat foto Dira bersama ayah dan ibunya serta seorang gadis yang berumur sekitar 14 tahun. Namun ada sesuatu yang kurang. Kehangatan sebuah keluarga.

Diatas sebuah meja, Naya melihat foto sebuah motor yang tidak asing lagi dimata Naya. Warnanya, tipenya, dan plat nomornya. Naya pernah melihat itu.

“Mas Diranya sedang ganti baju.” ucap bibik yang datang dari tangga.

“Itu foto motornya siapa Bik?” tanga Naya, sambil menunjuk foto yang dia maksud.

“Oh..Itu milik Mas Dira. Tapi sudah tidak dipakai setelah nabrak pengendara sepeda.” jelas Bibik.

Naya semakin tertegun tidak percaya.

“Sekitar tiga tahun lalu, Mas Dira bertengkar hebat dengan Tuan dan Nyonya. Mas Dira marah dan pergi menggunakan motornya. Ditengah jalan, kecelakaan itu terjadi. Padahal motor itu ingin Mas Dira berikan pada sahabatnya.” jelas Bibik.

Naya semakin yakin. Itu adalah motor yang menabrak kakaknya 3 tahun lalu. Dan yang menyebabkan kematian kakaknya adalah… adalah Dira. Naya tidak percaya. Sungguh tidak percaya…

Naya berlari pergi meninggalkan rumah Dira. Dira mengejar Naya. Dia menahan tangan Naya dihalaman rumahnya.

“Setelah kamu tahu, apa perasaan mu padaku masih sama?” tanya Dira. “Iya. Aku!! Aku yang membunuh Nathan. Karena aku… karena aku Nathan meninggal. Semuanya karena aku?!!”

Naya mendengar kenyataan itu langsung dari Dira. Dia tidak percaya Dira mengatakan hal itu. Kalau dia sudah tahu, lalu apa gunanya dia menerimaku. Apa sebenarnya maunya?

“Maaf!! Maafkan aku Naya…. Maafkan aku Naya!!” ucap Dira. Dia terlihat begitu menyesal.

Naya tidak kuasa lagi menahan air matanya….

“Kenapa kamu mau terima aku? Rasa bersalah? Kamu terima aku karena rasa bersalah?” tanya Naya.

Dira hanya terdiam. Naya berpaling dan pergi meninggalkan Dira.

“Tidak perduli apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu inginkan. Aku hanya ingin mendengar kata maaf darimu hanya itu. Naya!!”
Naya tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan meninggalkan Dira yang terduduk lemas diatas tanah.Hujan mulai turun ditengah musim panas yang terik.

“Maafkan aku!! Maafkan aku!!”
Tiba-tiba jantung Dira kembali terasa sakit. Rasanya sangat nyeri. Tidak dapat lagi dia rasa pijakan tanah yang basah, tiada lagi terlihat cahaya terang yang menyinari matanya. Semua berubah gelap, hitam, dan perlahan menghilang…

***

Tiada harapan lagi didalam hubungan Dira dan Naya. Semuanya hilang dalam sekejab mata. Kehangatan, kebersamaan, semua sirna.
Semua siswa dikelas tidak percaya mereka akan berpisah secepat itu. Karena selama berhubungan, mereka terlihat begitu bahagia. Izal menyadari kalau hal ini pasti akan terjadi.
Didalam hati Naya tetap ada Dira. Sekeras apapun dia berusaha melupakannya, bayang senyum Dira selalu menyertai langkahnya. Sebenarnya dia sudah merelakan kepergian kakaknya. Karena biar bagaimanapun dia membenci pengendara motor itu, kakaknya tidak akan pernah kembali. Namun yang dia sesalkan adalah karena Dira menerimanya bukan karena cinta. Tapi karena rasa bersalah.

Naya masuk kedalam kelas. Lagi-lagi Dira tidak ada tetempatnya. Sudah seminggu ini Dira tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu dimana dia sekarang. Bahkan Izal yang dikenal paling dekat dengannya pun tidak tahu.
Naya berusaha mengacuhkan itu. Tapi dia tidak bisa. Lama kelamaan dia merasa kehilangan sosok Dira didalam kelasnya.

“Kalian saling cinta, kenapa menghukum diri seperti ini sih?” tanya Izal.

“Dia enggak cinta sama gue. Dia Cuma…”

“Ingin menebus kesalahan?” ucap Izal. “Dira sayang sama elo Nay. Bahkan sebelum elo kenal sama dia. Gue tahu itu…”

Naya mencoba mempercayainya. Dia ingin seperti itu. Namun kenyataannya, Dira bahkan tidak mencegahnya pergi saat itu.
Setelah melewati satu hari yang melelahkan disekolah, Naya pulang kerumahnya. Didalam rumah dia melihat Ayahnya sedang duduk termenung memandang beberapa berkas yang tidak pernah dilihatnya.

“Ayah sedang apa?” tanya Naya. Dia duduk disamping Ayahnya.

“Tentang pemuda yang bernama Dira itu, Ayah sudah dengar..” ucap Ayah. Naya terkejut mendengarnya. Darimana Ayahnya mengetahui itu.

“Ayah ingin menunjukkan kamu ini..” Ayah memberikaku sebuah dokumen. “Itu dokumen pendonoran jantung Nathan untuk Izka. Dia tahu kamu mencintai Izka dan dia juga tahu kalau Izka menderita penyakit jantung sejak kecil. Dokter memvonis dia tidak dapat hidup lebih dari 17 tahun.” jelas Ayah.
Naya membaca surat itu. Namun nama yang ditemukannya bukanlah nama Izka. Tapi tertulis sebuah nama yang sangat dikenalnya. ‘Raizkadira Andriano’. Naya semakin terkejut. Jadi Dira adalah Izka, cinta pertamanya yang telah lama hilang?

“Dira menolak pemberian jantung Nathan karena dia merasa tidak pantas menerimanya. Dia terus menangis karena menyesal. Hingga akhirnya kondisinya memburuk. Dia ingin datang pada kita. Namun dia juga takut menghadapi kamu..” jelas Ayah panjang lebar.
Air mata Naya terus meleleh. Dia tidak menyangka kalau Dira lebih menderita dari siapapun karena kecelakaan itu.

Langsung saja Naya berlari menuju rumah Dira. Namun kata Bibik, Dira sudah tidak tinggal dirumah itu. Sekarang Dira tinggal bersama orang tuanya. Dan yang terburuk, Bibik tidak tahu dimana rumah orang tua Dira.

Setelah itu, dia datang kerumah Izal. Dia merengek pada Izal untuk membantunya mencari Dira. Izal yang merasa kasihan pada Naya mengiyakannya. Mereka berdua mencoba mencari informasi dimana Dira. Namun hasil yang mereka dapat tidak selalu sesuai dengan harapan.

***

Dira duduk sendiri diatas kursi rodanya. Dua minggu sudah dia dirawat dirumah sakit. Dan dua minggu pula di tidak melihat Naya. Dia sadar, cinta Naya tidak pantas dia miliki. Naya adalah sosok yang sempurnya. Sedangkan dia hanya seorang pemuda yang begitu rapuh, dengan penyakit jantung yang selalu menghantui. Naya tidak akan bahagia bila bersamanya. Karena itulah dia tidak mengejar Naya saat itu.

Dia memandang selang infus yang bersarang ditangan kirinya yang tidak pernah terlepaskan. Kini dia benar benar rapuh. Selang infuse dan alat-alat aneh dikamarnya lah yang menopang hidupnya kini.

Bunga Aster dikamarnya pun telah lahu. Tinggal menunggu satu demi satu kelopaknya berguguran. Waktunya hampir mencapai batas. Dia tidak memiliki keinginan lagi untuk bersama Naya.
Dira meraih sebuah kertas dan bolpoin dimeja. Kemudian menulis beberapa bait kata dengan tangannya yang terus bergetar.

***

Izal menggedor-gedor pintu rumah Naya pagi-pagi benar. Dia membawa surat dari Dira. Saat itu Naya masih tertidur karena semalaman menangis memfikirkan Dira.

“Ada apa?”

“Surat dari Dira. Gue temuin dibangku elo.” ucap Izal. Dengan tergesa Naya membuka surat itu.
Teruntuk;

Naya, my first love,
Beribu kata maaf, dan sebesar apapun penyesalan, mungkin tidak dapat mengobati luka di hatimu. Namun harus kau tahu, hanya maaflah yang kunantikan selama ini.
Aku tidak berharap kau masih mencintaiku. Aku tidak perduli apakah kau masih mau meneruskan hubungan kita. Aku hanya ingin maaf darimu.
Tuhan telah memberiku kesempatan untuk mendengar kata maaf darimu. Dan kini perjanjianku dengan Tuhan telah mencapai batasnya. Hingga kelopak bunga Aster terakhir akan gugur, saat itulah waktuku akan berakhir.
Kau ingat saat aku tidak masuk ketika MOS? Itu karena aku kembali masuk rumah sakit. Jantungku yang rapuh ini tidak kuat menahan kerasnya kegiatan MOS. Aku terlihat begitu lemah ya?

Sekali lagi, aku meminta maaf Nay. Maaf karena tidak berani menggenggammu lebih erat. Kau tahu? Aku begitu takut. Rasa cinta ini tidak dapat kubunuh. Sekeras apapun aku mencoba, rasa ini selalu saja tumbuh didalam setiap menitnya. Sungguh aku ingin bersamamu. Namun ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat bersatu.
Nay, kata maaf darimu akan mengantarku kedalam dunia yang begitu damai. Disana, segala rasa sakit ini akan sirna. Aku ingin kesana. Aku ingin terbebas, seperti kelopak bunga Aster yang terbang tertiup angin.

Aku akan hidup disetiap udara yang kau hirup, aku akan hidup disetiap kelopak bunga Aster yang berguguran dimusim panas…. Menyertai langkahmu dan selalu bersamamu…

Boleh aku bertanya sesuatu? Apakah kini senyumku masih berharga dihidupmu? Karena dulu dan selamanya, senyummu adalah kekuatan yang membuatku tetap bertahan… Satu kata terakhir dariku yang harus kau tahu…

I fall in love with you, first, now and forever….

Raizkadira….

Tanpa dapat dibendung, air mata Naya meleleh dengan derasnya. Membasahi surat yang berada didalam genggamannya. Lututnya lemas tak bertenaga. Seolah tidak kuat lagi menahan beratnya kesedihan yang dia rasa.

“Kita kerumah sakit Medika sekarang. Dira dirawat disitu!!”

Segera mereka melangkahkan kakinya pergi.

Ditempat lain… Didalam sebuah ruangan yang tertutup, Dira sedang berjuang. Didalam dia berjuang sendirian. Dokter hanya membantunya untuk mengembalikan detak jantungnya yang sempat menghilang.
Diluar, orang tua dan adik Dira sudah didatangkan oleh tim dokter. Mereka harus menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Dira. Karena kondisi Dira benar-benar menghawatirkan.
Setelah terjebak macet beberama menit, akhirnya Naya dan Izal sampai dirumah sakit. Saat itu Naya melihat orang tua Dira tertunduk sedih. Perasaannya semakin tidak enak. Dia melihat Dira dari kaca daun pintu kamar Dira.
Indy, adik Dira menyadari kedatangan Naya. Dia mengenal gadis itu. Karena setiap hari Dira selalu bercerita tentangnya. Selain itu banyak foto Naya yang tertempel di dinding-dinding kamar Dira.

“Kak Naya kan?” tanya Indy. Indy mengajak Naya duduk disampingnya.

“Kak Dira sering bercerita tentang kakak. Ternyata kakak lebih cantik dari yang ada difoto.” ucap indy.

Naya cukup terkejut. Dari raut wajahnya, dia tidak terlihat sedih dan khawatir pada kondisi kakaknya sendiri. Dia malah cenderung santai.

“Kakak cinta sama kak Dira? Karena kak Dira juga cinta sama kakak.” ucap Indy. Indy menyerahkan sebuah agenda berwarna biru pada Naya. “Kalau sempat, baca ya!!” ucap Indy.

Seorang dokter keluar dari kamar Dira. Orang tua Dira dan mereka semua menghampiri dokter dengan cemas.

“Bagaimana keadaan Dira, dok?” tanya ibu Dira.

“Hampir 80% organ dalam Dira kehilangan fungsinya. Dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi…” jelas dokter.

“Tapi bagaimana dengan tlanplantasi?”

“Untuk saat ini, hal itu akan sia-sia saja. Kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali pasrah dihadapan Tuhan…”

Kontan semua mata meneteskan air matanya. Ayah Dira memapah istrinya yang sudah sangat lemas. Indy hanya terdiam tidak mengatakan apapun. Izka juga hanya terdiam. Sementara Naya menerobos masuk kedalam kamar Dira. Dokter ingin menghalangnya. Namun Ayah Dira memberi isyarat untuk membiarkannya.
Aku memandang mereka dari sudut kosong.

Naya menghampiri tubuh yang terbaring lemah itu. Matanya terpejam. Banyak sekali alat-alat aneh yang bersarang ditubuhnya. Naya memandang wajah yang memakai masker oksigen itu. Tidak terbayangkan rasa sakit yang dirasakan Dira selama ini.
Diatas meja, dia melihat setangkai bunga Aster yang telah layu. Hanya tinggal satu kelopak yang tersisa. Naya teringat tulisan Dira didalam suratnya.

“Senyuman kamu tetap berharga didalam hidup aku, Dir.” ucap Naya. “Karena itu, aku mohon kamu bangun! Aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu tetap diam seperti ini.”

Naya menggenggam erat tangan Dira.
Perlahan Dira membuka matanya. Dia tersenyum memandang Naya. Dengan tangannya yang gemetar, Dira mencoba meraih wajah Naya. Naya menyabutnya dengan hangat.

Aku membimbing tangan Dira untuk membelai wajah Naya. Dia sedah tidak dapat melakukan itu sendiri.

Angin berhembus melalui celah jendela. Tiba-tiba tangan lemas yang membelai pipi Naya terjatuh, bersamaan dengan gugurnya kelopak terakhir bunga Aster.
Naya masih terpaku. Mata itu, tidak lagi terbuka. Senyum itu, tidak lagi mengembang. Tidak mungkin. Dira tidak mungkin…

“DIIIRRAAAAA!” teriak Naya histeris.

Ia terjatuh dan menangis disamping ranjang Dira. Dia menangis dan terus menangis.

Aku memandang mereka. Ini memang hanyalah cinta yang kecil. Ini adalah jalan kasih yang Naya dan Dira lewati. Cinta ini bukan apa-apa dibandingkan luasnya dunia. Namun cinta yang kecil ini, tlah memberikan senyuman yang tiada pernah terkira.

Didalam kelopak bunga Aster, cinta ini akan tetap ada….

**TAMAT**

Kamis, 30 Juni 2011

Ku Berikan Cinta Pertamaku Padamu (Prolog)

Pernah denger film Jepang yang judulnya I Give My First Love To You, kan? ato basa Jepangnya Boku No Hatsukoi Kimi ni Sasagu. nah ini fersi ICIL plus fersi saya. Happy reading ya!! ni Prolognya dulu.....


Ku Berikan Cinta Pertamaku Padamu

Cash:
Mario Stevano Aditya Haling as Rio
Alyssa Saufika Umari as Ify
Alvin Jonathan Sidunata as Alvin
Sivia Azizah as Via
Gabriel Stevent Damanik as Gabriel
Agni Tri Nubuwati as Agni

Prolog


"Kisah cintaku punya batasan waktu. Waktuku itu lebih pendek dibandingkan dengan orang lain. Jadi, aku tidak punya waktu untuk berlama-lama. Seperti kembang api di musim panas, yang bersinar hanya dalam sekejap waktu. Aku sudah tahu hal itu sejak berumur 8 tahun."

Ditengah musim panas saat dedaunan mulai berguguran. Sudah sekian hari Rio kecil dirawatdirumah sakit. Didalam sebuah kamar rawat, Rio kecil sedang bermain bersama Ify, seorang gadis manis yang menjadi temannya selama dirawat dirumah sakit.
"Luar biasa." ujar Ify kecil pelan saat menempelkan stetoskop didada kiri Rio. "Jantung Rio berdetak dengan cepat."
"Dokter, aku tidak tahu penyakit apa yang kuderita." ujar Rio kecil.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Ify, berpura-pura menjadi dokter.
"Aku merasa tidak nyaman dan dadaku sakit." jawab Rio.
"Aku harus mengobatimu." kata Ify. "Buka celanamu."
"Apa?"
"Kau tidak perlu malu." ujar Ify. "Aku dokter jadi kau tidak perlu malu."
Karena Rio menolak, Ify memaksa Rio. Terjadilah saling tarik menarik celana diantara mereka. Ify terus memaksa dan Rio tetap menolak. Mereka berhenti berebut ketika kembang api meledak di atas langit.
"Itu kembang api!" seru Rio saat melihat kilauan cahaya yang menari indah dilangit malam.

Rio dan Ify pergi ke atap rumah sakit.
"Cantik sekali!" seru Ify, melompat-lompat girang.
"Ify, aku akan memanggil ayah dan ibu." kata Rio seraya berlari pergi. Ia menuruni tangga ke bawah.

Dibawah, Rio melihat ayah dan ibunya sedang bicara di sebuah ruangan bersama dokter. Dokter tersebut bernama Tian, ayah dari Ify.
Rio membuka pintu hendak memanggil orang tuanya. Namun saat itu dia melihat ekspresi sedih dari wajah kedua orang tuanya. Niatnya terhenti saat sebuah pertanyaan keluar dari mulut Ayah Rio.
"Apa tidak ada kesempatan bagi Rio untuk sembuh?" tanya Ayah Rio.
"Tentu saja kita tidak boleh menyerah." ujar Dokter Tian. "Tapi tolong mengerti bahwa dengan teknologi saat ini, hal tersebut masih sulit. Walaupun perawatan memang masih sulit, tapi dengan makanan dan latihan fisik..."
"Jadi nyawanya bisa diperpanjang dengan cara itu?" tanya Ayah Rio penuh harap.
Dokter Tian terdiam.
"Jika kami mengatur makanan dan latihan fisiknya, berapa tahun yang ia miliki?" tanya Ayah Rio lagi.
"Jangan tanyakan!" seru Ibu Rio takut.
"Tidak." bantah Ayah Rio. "Lebih baik kita tanyakan sekarang."
Dokter kelihatan ragu. "Jantung Rio tidak akan mengalami perubahan besar saat ia tumbuh. Tapi jika ia terus seperti ini, mungkin ia akan bertahan hidup sampai umur 20 tahun."
Ayah dan Ibu Rio sangat terpukul mendengar semua itu.

Rio berdiri diam di depan pintu. Dia mendengar semua tanpa satupun yang terlewat. Saat menoleh, dia melihat Ify berdiri tidak jauh darinya. Ify menangis terisak.

"Kisah cintaku punya batasan waktu."
"Tidak, biar kuperbaiki. Kisah cinta KAMI punya batasan waktu."
$$$--$$$